293. Air yang Abadi

Penulis : Daniel Widya Suryanata
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

“Pada tahun 2070, kebutuhan air minum per orang dijatah oleh pemerintah dan jumlahnya sangat sedikit, hanya setengah gelas per hari.”

“Pada tahun 2070, wanita harus memangkas rambutnya karena merawat rambut memerlukan air.”

“Pada tahun 2070, air bersih menjadi komoditas utama yang dijaga ketat oleh negara karena kelangkaannya. Bahkan bangsa-bangsa berperang untuk memperebutkan sedikit air.”

Belum lama ini, jagat maya sempat dikejutkan oleh ketiga kutipan di atas yang tertuang dalam suatu surat yang di-claim berasal dari tahun 2070. Dalam surat tersebut, seorang manusia menggambarkan neraka hidup yang disebabkan oleh krisis air. Walau fiktif, gambaran tersebut tidak mustahil untuk terjadi.

image002
Gambar 1. Ilustrasi ‘Surat dari tahun 2070’ (Sumber: https://mediaipa.wordpress.com/2013/12/03/prediksi-tahun-2070-kekurangan-air-dan-oksigen-akibat-prilaku-manusia/)

Sayangnya, pelajar telah didoktrin dengan paham bahwa jumlah air di bumi adalah tetap. Keyakinan bahwa air adalah abadi ini telah membuat manusia lalai dalam mengelola sumber daya alam ini. Air yang melimpah ruah membuat mudah sekali bagi orang-orang, terutama yang memiliki akses air melimpah, untuk membuang-buang air. Kenyataannya, jumlah air di bumi memang tetap, namun kualitasnya tidak, malah semakin menurun. Menurut statistik, walau bumi terdiri dari 70% air, saat ini hanya 3% saja air bersih yang tersedia. Untuk membuat permasalahan semakin buruk, dari 3% jumlah air bersih tersebut, dua per tiga bagiannya tersimpan dalam wujud es di kutub, sehingga menyisakan 1% air bersih yang dapat dipakai oleh manusia.

Kondisi yang semakin buruk ini membuat para ahli melakukan penelitian-penelitian berikutnya. Salah satu dari sekian banyak penelitian itu memberikan hasil yang sangat mengejutkan, yaitu prediksi bahwa krisis air yang parah akan melanda bumi pada 2040. Hal ini disebabkan oleh kualitas air yang semakin memburuk dan populasi umat manusia yang membeludak. Perbedaannya, prediksi kali ini didukung oleh data yang kredibel, bukan sekedar cerita fiktif. Prediksi ini juga lebih cepat 30 tahun dibandingkan surat dari tahun 2070.

image004
Gambar 2. Tanah Kering Karena Krisis Air (Sumber: http://rt.com/news/176828-world-water-crisis-2040/)

Untuk menindak lanjuti permasalahan ini, seluruh negara sedang berupaya memerangi krisis air yang luas terjadi di masyarakat. Salah satu pionir dalam memerangi krisis ini adalah Negara Belanda. Luas negara kincir angin ini memang tidak seberapa, namun inovasi dalam riset mereka tidak dapat dipandang sebelah mata. Keberhasilan mereka dalam mengeringkan air untuk menambah luas daratan tidak membuat Belanda puas. Dalam satu dekade terakhir ini, beberapa upaya signifikan telah dikembangkan dan diselesaikan untuk memerangi krisis air yang semakin buruk.

Salah satu senjata andalan negeri tulip itu adalah Nereda, yaitu sebuah teknologi yang dikembangkan untuk mengubah air kecokelatan menjadi air bening yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Teknologi ini dikembangkan oleh Delft University of Technology (TU Delft), konsultan teknik DHV, Dutch Foundation for Applied Water Research (STOWA), dan enam otoritas pengawas air dalam sebuah program yang bernama National Nereda Research Program. Dalam sebuah demonstrasi, Nereda mampu memisahkan segelas air lumpur menjadi lapisan lumpur dan air jernih hanya dalam waktu lima menit saja.

image006
Gambar 3. Demonstrasi Nereda (gelas kanan: air lumpur pada awalnya, gelas kiri: kondisi air dan endapan lumpur setelah 5 menit diberi Nereda) (Sumber: http://www.tnw.tudelft.nl/en/current/latest-news/article/detail/kroonprins-opent-zuiveringsinstallatie/)

Walau terdengar sangat mutakhir, ternyata Nereda menggunakan prinsip sederhana, yaitu bakteri. Bakteri tersebut dapat mengendapkan kotoran yang tercampur di dalam air dengan bantuan oksigen. Rahasia kesuksesan di balik Nereda terletak pada jenis bakteri yang digunakan. Tidak seperti bakteri konvensional yang dapat membentuk lapisan halus untuk memisahkan air dengan lumpur, bakteri yang digunakan pada Nereda menghasilkan butiran padat. Hal ini tentu lebih menguntungkan karena butiran padat lebih mudah untuk disaring.

Tidak berhenti sampai di sana saja, pemerintah Belanda telah berhasil mengimplementasikan proyek ini lebih jauh lagi. Epe sewage treatment plant merupakan bukti nyata dari kesungguhan negeri kincir angin ini dalam menyediakan suplai air bersih bagi 60 ribu penduduknya. Proyek yang diresmikan oleh putera mahkota Belanda – Willem-Alexander – pada Bulan Mei 2012 ini merupakan tempat pengolahan air kotor pertama yang menggunakan teknologi Nereda. Tidak tanggung-tanggung, dana sebesar 15 juta Euro pun telah digelontorkan untuk proyek ini. Berkat Nereda, 30% tenaga listrik yang digunakan serta 20% ruang yang dibutuhkan dapat dihemat. Kesuksesan yang didulang oleh Nereda sukses membuat negara lain jatuh hati. Brazil dan Inggris adalah negara-negara yang akan segera menerapkan teknologi Nereda.

Walau sudah mematenkan teknologi penyaringan air yang luar biasa, Belanda tidak berhenti berinovasi untuk mendapatkan air yang lebih murni. Dari beragam inovasi lahir dari motivasi ini, salah satu kartu trump mereka adalah 1 Step® Filter. Sesuai dengan namanya, hanya satu proses saja yang dibutuhkan oleh teknologi ini untuk menyaring semua kotoran yang berada di dalam air. Berbeda dengan Nereda yang menggunakan bakteri aerobik, 1 Step® Filter mengandalkan karbon aktif yang dapat melakukan empat proses penyaringan sekaligus, yaitu penyaringan polutan padat, denitrifikasi (proses menghilangkan nitrogen), proses menghilangkan fosfor, dan penyaringan polutan mikro.

image008
Gambar 4. Demonstrasi 1 Step® Filter (Sumber: http://www.dutchwatersector.com/news-events/news/8653-world-s-first-1-step-filter-officially-commissioned-for-effluent-treatment-at-wwtp-horstermeer-the-netherlands.html)

Inovasi ini memang sangat cocok untuk memberi contoh nyata bahwa ‘bukanlah kuantitas yang berarti, melainkan kualitas’. Meskipun hanya melewati satu kali proses penyaringan, bukan berarti kualitas air yang dihasilkan lebih rendah dari air yang melewati banyak proses penyaringan. Hasil air yang diproses oleh teknologi ini bahkan berhasil mencapai 2,7 miligram/liter nitrogen dan 0,21 miligram/liter fosfor dari standar minimum 5 miligram/liter nitrogen dan 0,5 miligram/liter fosfor. Ke depannya kadar sebesar 2,2 miligram/liter nitrogen dan 0,15 fosfor telah ditetapkan sebagai target optimasi 1 Step® Filter. Melihat prestasi dan target setinggi itu, empat jempol memang patut diacungkan pada pihak-pihak pengembang 1 Step® Filter yang terdiri dari TU Delft, perusahaan teknik Witteveen+Bos, produsen karbon aktif Cabot Norit, dan STOWA.

Baik Nereda maupun 1 Step® Filter seharusnya menjadi contoh bagi seluruh dunia bahwa perjuangan untuk menghasilkan air yang abadi tidak akan pernah berhenti. Sampai kapan pun, air akan selalu menjadi kebutuhan utama manusia yang tidak dapat ditawar keberadaannya. Umat manusia harus mampu memelihara dan mengatur sumber daya air yang tersedia. Api kreativitas dan inovasi pun hendaknya selalu menyala untuk menjawab tantangan yang selalu berevolusi sesuai dengan zaman.

“Thousands have lived without love, not one without water ” – W. H. Auden.

Referensi
1. World Wildlife Fund. Water Scarcity. Diakses pada 21 April 2015, dari: https://www.worldwildlife.org/threats/water-scarcity.
2. Kalis, Heino. (2014, Juli 30). World faces ‘insurmountable’ water crisis by 2040 – report. Diakses pada 21 April 2015, dari: http://rt.com/news/176828-world-water-crisis-2040/.
3. Kurniawan, Mohamad. (2013, Desember 3). Prediksi tahun 2070 kekurangan air dan oksigen akibat prilaku manusia. Diakses pada 21 April 2015, dari: https://mediaipa.wordpress.com/2013/12/03/prediksi-tahun-2070-kekurangan-air-dan-oksigen-akibat-prilaku-manusia/.
4. TU Delft. Nereda: efficient waste water treatment. Diakses pada 22 April 2015, dari: http://www.tnw.tudelft.nl/en/research/health-energy-and-environment/highlights/nereda-efficient-waste-water-treatment/.
5. Meijer, Roy. (2012, April 23). Crown Prince to open water treatment plant. Diakses pada 22 April 2015, dari: http://www.tnw.tudelft.nl/en/current/latest-news/article/detail/kroonprins-opent-zuiveringsinstallatie/.
6. Water-technology.net. Epe Sewage Treatment Plant (STP), Netherlands. Diakses pada 22 April 2015, dari: http://www.water-technology.net/projects/epe-sewage-treatment-plant-netherlands/.
7. Keeton, Rachel. (2014, Juli 24). Dutch Scientist Develops New Way to Turn Sludge into Drinking Water. Diakses pada 22 April 2015, dari: https://nextcity.org/daily/entry/netherlands-wastewater-treatment-nereda.
8. Dutch Water Sector. (2013, November 28). World’s first 1-Step filter officially commissioned for effluent treatment at wwtp Horstermeer, the Netherlands. Diakses pada 22 April 2015, dari: http://www.dutchwatersector.com/news-events/news/8653-world-s-first-1-step-filter-officially-commissioned-for-effluent-treatment-at-wwtp-horstermeer-the-netherlands.html.
9. Ministry of Infrastructure and the Environment. (2014, Maret). Water innovations in the Netherlands A brief overview. Diakses pada 22 April 2015, dari: http://www.dutchwaterauthorities.com/wp-content/uploads/2014/11/water-innovations-in-the-netherlands.pdf.
10. Dekker, Arjan, Wouter Zijlstra, dan Freek Kramer. 1-STEP® filter new treatment system to meet the challenges of the European WFD. Diakses pada 22 April 2015, dari: http://www.stowa.nl/Upload/agenda/One-STEP%20symposium/2%20Freek%20Kramer%20%201-STEP%20filter.pdf.