294. Belanda, Negeri Roda Angin

Penulis : Daniel Widya Suryanata
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Bila memikirkan mengenai keju, tulip, dan sepatu kayu, pasti ada yang terasa mengganjal karena satu benda lagi belum disebut. Ya, benda yang hilang tersebut adalah kincir angin atau lebih terkenal dengan sebutan windmill. Keempat benda tersebut memang sangat dikenal sebagai ciri khas Negara Belanda, terutama kincir angin. Sejak bertahun-tahun silam, kincir angin sudah diakui sebagai ikon negara ini. Tidak hanya mempesona bagi yang melihatnya saja, ternyata bangunan unik ini memiliki beragam kegunaan seperti sebagai tempat menggiling jagung dan memompa air laut.

image001
Gambar 1. Kincir Angin Tradisional (Sumber: http://www.bhmpics.com/view-windmill_and_flower_field_in_holland-1920×1080.html)

Pada dasarnya, kincir angin digunakan sebagai alat konversi energi, yaitu energi angin menjadi energi kinetik. Angin yang menerpa kincir akan menggerakkan kincir yang juga akan menggerakkan ‘mesin’ yang berada di dalam bangunan kincir angin tersebut. Walau potensi kincir angin tradisional masih terjaga hingga saat ini, pemerintah Belanda merasa sudah saatnya kincir angin tersebut berhenti beroperasi, sehingga lebih dari 1000 kincir angin tradisional beralih fungsi menjadi sebatas tempat rekreasi saja. Saat ini, Belanda sudah beralih pada turbin angin yang merupakan generasi selanjutnya dari kincir angin. Tidak seperti kincir angin tradisional, turbin angin hanya memerlukan sedikit ruang dan dapat diletakkan dimana saja, bahkan di tengah laut sekalipun.

image002
Gambar 2. Turbin Angin (Sumber: http://www.rockymtnrefl.com/WindmillFarmcd12956.html)

Dibandingkan dengan pembangkit tenaga listrik di negara-negara berkembang yang masih sangat tergantung pada minyak bumi dan batu bara, turbin angin yang populer di Belanda dinilai sangat ramah lingkungan. Walau dari segi efisiensi energi, batu bara masih lebih unggul dua hingga tiga kali lipat dibandingkan turbin angin – sebuah pembangkit listrik tenaga batu bara dapat menghasilkan 600 hingga 700 megawatt, sedangkan sekumpulan turbin angin hanya menghasilkan sebanyak 250 megawat – seluruh dunia sudah mulai mengurangi pemakaian batu bara dan beralih pada turbin angin. Hal tersebut disebabkan karena turbin angin memanfaatkan sumber energi yang jauh lebih ramah lingkungan, yaitu angin itu sendiri, tidak seperti asap hitam dari pembakaran batu bara yang sangat mencemari lingkungan. Selain itu, energi angin merupakan energi yang dapat diperbaharui sehingga umat manusia tidak perlu khawatir dengan ketersediaannya selama puluhan bahkan ratusan tahun mendatang.

Semua kelebihan yang dimiliki turbin angin tidak membuat Belanda cepat berpuas diri. Mereka terus berkreasi untuk mengoptimalkan angin sebagai sumber energi. Semangat yang gigih untuk berinovasi pun mulai memperlihatkan hasil yang manis dengan lahirnya sebuah desain bangunan yang dinamakan roda angin. Roda angin, yang berbentuk seperti roda raksasa, adalah bangunan generasi selanjutnya yang terinspirasi dari kincir angin dan turbin angin. Salah satu kelebihan dari roda angin adalah lebih hemat biaya karena tidak memerlukan perawatan baling-baling yang digunakan untuk mengubah energi angin menjadi energi kinetik. Lebih tepatnya, roda angin tidak membutuhkan baling-baling sama sekali untuk beroperasi, sehingga dapat menghilangkan polusi suara dan bayangan yang mengganggu akibat adanya baling-baling.. Hal ini menjadi memungkinkan berkat teknologi yang dinamakan Electrostatic Wind Energy Converter atau disingkat EWICON.

image003
Gambar 3. Ilustrasi Roda Angin (Sumber: http://dutchwindwheel.com/en/sustainable-icon)

EWICON merupakan proyek yang digagas oleh pemerintah Belanda. Dalam implementasinya, EWICON dikembangkan oleh Delft University of Technology dan Wageningen University, serta didesain oleh perusahaan arsitektur dari Belanda yang bernama Mecanoo. EWICON memanfaatkan tetesan air yang diberi tegangan listrik. Prinsip ini bekerja seperti magnet. Andaikan ada dua kutub, yaitu kutub positif dan negatif, dan sebuah tetesan air diberi tegangan positif, maka secara alami, tetesan tersebut akan bergerak ke arah kutub negatif. Namun, apabila tetesan air dipaksa untuk bergerak ke arah yang berlawanan (kutub positif), maka energi potensial dari tetesan air tersebut akan bertambah. Mekanisme inilah yang mendasari prinsip kerja EWICON. Angin akan mendorong tetesan air ke arah kutub yang memiliki jenis tegangan yang sama dengan jenis tegangan tetesan air, sehingga menciptakan energi potensial. Selanjutnya, energi potensial inilah yang akan dikumpulkan dan diubah menjadi energi listrik untuk keperluan sehari-hari.

image004
Gambar 4. EWICON (Sumber: http://www.ewi.tudelft.nl/en/current/ewicon-wind-energy-converter-unveiled-wind-mill-without-moving-parts/)

Walau tampak tidak lebih dari sekedar pembangkit energi, para pengembang roda angin ternyata telah menetapkan target yang lebih ambisius untuk bangunan ini. Selain berfungsi sebagai pembangkit energi listrik tenaga angin, bangunan setinggi 174 meter ini juga menampung hotel, apartemen, restoran, dan tempat wisata. Bahkan bangunan yang akan dibangun di Rotterdam ini digadang-gadangkan sebagai ikon Negara Belanda, yang berarti akan ditempatkan sejajar dengan pendahulunya yakni kincir angin.

image005
Gambar 5. Ilustrasi Roda Angin Sebagai Tempat Wisata (Sumber: http://dutchwindwheel.com/en/unprecedented-attraction)

Target ambisius tersebut memang didukung dengan kemampuan arsitektur yang mumpuni. Desain roda angin terdiri dari dua cincin raksasa yang berbahan dasar besi dan kaca, serta fondasi yang diletakkan di dalam laut sehingga membuat dua cincin raksasa tersebut seperti mengapung. Desain yang tidak biasa ini semakin meyakinkan seluruh dunia bahwa ke depannya, roda angin memang dapat menjadi ikon dan kebanggaan rakyat Belanda.

image006
Gambar 6. Ilustrasi Tiga Dimensi dari Roda Angin (Sumber: http://dutchwindwheel.com/en/unique-landmark)

Satu keunikan terakhir dari roda angin terletak pada sumber energi yang digunakan selain tenaga angin. Bagian atas roda berfungsi sebagai panel surya yang menyerap energi panas matahari. Biogas juga dapat dihasilkan dari hasil pembuangan warga yang tinggal di dalam roda angin tersebut. Selain itu, roda angin pun menampung air hujan yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti membersihkan diri.

image007
Gambar 7. Desain Kegunaan Roda Angin (Sumber: http://dutchwindwheel.com/en/sustainable-icon)

Terlepas dari segala kelebihan yang ditonjolkan oleh bangunan fenomenal ini, beberapa ahli telah melihat permasalahan-permasalahan yang dapat muncul pada pembangunan roda angin. Satu permasalahan utama yang muncul adalah rendahnya efisiensi energi yang diciptakan oleh roda angin. Energi angin, walau ramah lingkungan, dikenal sebagai energi yang memiliki efisiensi sangat rendah, tidak terkecuali teknologi EWICON ini. Efisiensi energi yang rendah akan menjadi masalah karena pengembang harus meningkatkan biaya yang digunakan untuk memberi energi listrik pada bangunan. Sebagai konsekuensinya, pengembang mungkin saja kembali pada sumber energi yang tidak ramah lingkungan seperti minyak bumi. Rendahnya efisiensi juga menyebabkan membengkaknya waktu Return of Investment, yang berarti waktu yang lebih lama untuk mencapai kondisi ‘balik modal’ dari pembangunan roda angin.

Untuk menyimpulkan, seluruh desain dan kelebihan roda angin masih hanya sebatas desain yang telah dibumbui oleh kritik-kritik tajam soal efisiensi energi. Walau demikian, setiap hal besar selalu diawali dengan mimpi yang besar dan orang-orang sekitar yang skeptis. Apabila di masa lampau, Belanda telah berhasil membuktikan diri dengan inovasi-inovasinya yang mendunia, roda angin dan EWICON bukanlah pengecualian dari keberhasilan bangsa ini asalkan semangat berkarya selalu ada.

Hal ini memunculkan pertanyaan kritis yang harus kita jawab: bagaimana dengan bangsa Indonesia? Akankah Indonesia terus memakai sumber energi yang mencemari lingkungan? Ataukah kita berani mengambil langkah besar dalam bidang energi terbarukan seperti layaknya Belanda?

Referensi
1. Holland.com. Wind Energy in Holland. Diakses pada 16 April 2015, dari: http://www.holland.com/us/tourism/article/wind-energy-in-holland.htm.
2. TU Delft. EWICON wind energy converter unveiled: wind-‘mill’ without moving parts. Diakses pada 18 April 2015, dari: http://www.ewi.tudelft.nl/en/current/ewicon-wind-energy-converter-unveiled-wind-mill-without-moving-parts/.
3. Dutch Windwheel Corporation. Sustainable Icon. Diakses pada 18 April 2015, dari: http://dutchwindwheel.com/en/sustainable-icon.
4. Robarts, Stu. (2015, February 25). Windwheel concept combines tourist attraction with “silent turbine”. Diakses pada 18 April 2015, dari: http://www.gizmag.com/dutch-windwheel-concept/36166/.
5. Lombardo, Tom. (2015, February 22). How Much Wind Energy Can the Dutch Windwheel Harness?. Diakses pada 18 April 2015, dari: http://www.engineering.com/ElectronicsDesign/ElectronicsDesignArticles/ArticleID/9659/How-Much-Wind-Energy-Can-the-Dutch-Windwheel-Harness.aspx.