295. Kincir Angin Belanda: Pilihan Energi ‘Kepepet’ yang Jadi Hoki

Penulis : KUSTIN AYUWURAGIL DESMUFLIHAH
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Kalau ditanyai soal Belanda, yang terlintas dalam pikiranku adalah seragam oranye Robin van Persie dan kawan-kawannya di lapangan hijau. Bagiku, orang-orang di Negeri van Oranje itu memang seperti warna jersey tim sepakbola mereka, dinamis, cemerlang, enerjik dan inovatif.

Inovatifnya Belanda tak perlu jauh-jauh dicari, mijn vriend. Lihat saja dari julukan sekaligus ikon Negara Kincir Angin yang sejak lama disandangnya. Negara dengan bendera berwarna merah putih dan biru itu sudah mengembangkan energi angin (wind power) sejak tahun 1970-an ketika terjadi krisis energi di seluruh dunia. Tapi dari seluruh energi yang ada di dunia, kenapa sih Belanda memilih energi angin?

Awalnya, ada beberapa hal yang membuat Belanda “kepepet” memilih energi angin untuk dikembangkan di negaranya. Menurut riset kecil-kecilan, ada beberapa alasan utama yang membuat Belanda memang harus memilih energi angin. Alasannya antara lain adalah karena mereka punya penduduk padat sedangkan wilayah daratannya sempit, menipisnya energi fosil dan kesadaran akan kelestarian lingkungan.

Menurut data dari Wikipedia, Belanda adalah negara yang kecil dengan penduduk yang paling padat di Eropa yakni 408 jiwa/km2. Jumlah ini 3,5 kali lipat dari rata-rata kepadatan penduduk Uni Eropa yang hanya berkisar pada angka 116 jiwa/km2. Padahal, luas wilayah daratannya hanya 41,5 km2, sedikit lebih besar dari Cimahi, sehingga ia berada diurutan 132 berdasarkan luas daerah di Eropa. Sementara itu di sektor pertanian, Negara Dam itu sangat membutuhkan energi yang besar untuk memenuhi pengembangannya. Sayangnya, Belanda berada di daratan rendah yang hanya berjarak satu meter dari permukaan laut, bahkan 21 persen wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Negara dengan nama Netherlands (negeri-negeri berdaratan rendah dalam Bahasa Belanda) itu juga berbeda dengan Indonesia yang kaya akan energi fosil seperti minyak bumi, batubara gas alam dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Belanda memilih kincir angin karena mereka butuh inovasi untuk mendorong air ke laut sehingga daratan mereka lebih luas (polder). Ditambah lagi, energi angin dapat diperbarui, bersih dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan polusi.

Yap, kincir angin cocok untuk Belanda yang letak geografisnya “lengket” sekali dengan laut. Rupanya kecepatan angin rata-rata di Belanda cukup kencang dan konstan karena berada dekat dengan laut. Misalnya di Hook of Holland yang rata-rata kecepatan anginnya sekitar 26,3 per jam pada jangka waktu 1981-2010. Maka tak ayal, Negara Tulip itu terus berinovasi di berbagai jenis kincir angin dari yang tradisional hingga modern seperti wind mill (turbin angin), wind farm (ladang angin), atau wind park (taman angin). Kincir-kincir modern tersebut telah menjadi sumber pembangkit energi listrik di desa-desa, termasuk Desa Kamperduin di Provinsi North Holland.

Energi listrik yang dipacu kincir angin di Kamperduin telah menghidupi 27 ribu rumah tangga di wilayah setempat. Faktanya, 1.975 turbin angin beroperasi seluruhnya di daratan (onshore) dan lautan (offshore) Belanda pada Desember 2013. Kapasitas agregat turbin-turbin itu masing 2,479 MW di darat dan ditambah 228 MW di laut. Belanda sendiri hingga kini masih berupaya memenuhi target Uni Eropa untuk memproduksi 14 persen total elektrisitas dari sumber energi terbarukan (renewable energy) pada 2020. Karena pencapaian tersebut, Belanda menjadi sebelas besar negara di dunia yang menghasilkan energi angin terbesar. Mereka juga dianugerahi penghargaan sebagai Most Innovative EU Country (urutan kelima), dan menempati urutan keenam negara terinovatif berdasarkan Global Innovative Index (GII) di tahun 2012.

Selain terbukti tepat sebagai solusi masalah listrik dan wilayah sempit yang dihadapi Belanda, kincir angin juga benar-benar berguna untuk sektor pertaniannya dan pariwisata. Memang, sejak abad ke-13 lalu telah dibangun sebanyak 10 ribu kincir angin di Belanda. Di sektor pertanian, windmill membantu produksi kertas, menguras air, penggergajian kayu, pembuatan cat dan pembuatan makanan saus mustard. Sementara itu di sektor pariwisata, Belanda melestarikan dua kawasan wisata yaitu di Zaanse Schans di Provinsi Belanda Utara (Province North Holland) dan dan Kinderdijk di Provinsi Belanda Selatan (Province South Holland). Belum lagi keindahan perkebunan bunga tulip di Alkmaar, daerah Utara Belanda, yang sangat maju dan indah. Perkebunan itu tak mungkin jadi salah satu taman terindah di dunia jika tidak memiliki irigasi air yang mumpuni dari inovasi kincir angin.

Di sisi lain, Indonesia sebagai negara yang pernah dijajah 3,5 abad oleh Belanda tak ada salahnya jika mengadaptasi inovasi energi angin ini. Menurut Harian Tempo, negara kita sebagai negera berkembang mengalami pertumbuhan kebutuhan listrik rata-rata sebesar 8,4 persen per tahun. Hingga 2022 dibutuhkan tambahan pasokan listrik hingga 60 Giga Watt (GW), jaringan transmisi 58 ribu kilo meter sirkit (kms), dan gardu induk 134 ribu Mega Volt Ampere (MVA). Bertambahnya kebutuhan listrik ini jika terus terpenuhi juga akan ikut menunjang pertumbuhan ekonomi nasional hingga rata-rata 6 persen per tahun. Namun sayangnya jika kita masih terus bergantung pada energi fosil, maka kebutuhan tersebut tidak akan terpenuhi dalam jangka waktu lama lagi.

Asal kamu tahu, Indonesia sudah jadi nett importir minyak dan gas bumi (migas) sejak 2008 gara-gara tak memiliki sumur baru. Menurut National Geografic Indonesia, kebutuhan minyak yang mencapai 41,8 persen, disusul batu bara 29 persen dan gas 23 persen, membuat Ibu Pertiwi ini hanya punya cadangan minyak paling banter 23 tahun lagi. Padahal sekarang ini, nilai tukar dolar sedang sangat kuat sehingga harga bahan mentah ikut naik. Mengimpor secara terus-menerus tentu bukan keputusan yang bijak. Jadi, kapan kita mau beralih ke inovasi energi yang terbarui?

Sumber:

http://www.currentresults.com/Weather/Netherlands/wind-speed-annual.php

http://www.alpensteel.com/article/116-103-energi-angin–wind-turbine–wind-mill/3073–pltangin-mulai-dimanfaatkan

http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda#Geografi_dan_lingkungan

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_luas_wilayah

http://www.kaskus.co.id/thread/5374b597a807e71b598b459e/sejarah-unik-warna-jersey-bola-negara-negara-peserta-world-cup

http://travel.kompas.com/read/2011/10/03/16484441/twitter.com

http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/09/hanya-23-tahun-lagi-sisa-cadangan-minyak-indonesia1

http://economy.okezone.com/read/2015/04/17/19/1135929/indonesia-dinilai-boros-energi-fosil

http://kebun-bunga.blogspot.com/2012/04/5-negara-pemilik-taman-bunga-terbaik-di.html

http://www.pantonashare.com/3772-berkenalan-dengan-kincir-angin

http://www.energitoday.com/2014/04/01/kebutuhan-listrik-indonesia-tumbuh-84-per-tahun/