296. Tiga Pesan Anak Desa yang Belajar dari Inovasi Belanda

Penulis : Triana Winni Astuty
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Halo kakak-kakak, perkenalkan nama aku Delta, aku anak kelas 4 SD di desa perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Desa Tanap, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Cieee pintar kan aku bisa nyebutin itu semua hehe, aku gitu lho…

Penasaran ya sama anak yang pintar ini? Hehe, ini nih aku tunjukkin foto aku,

image002
Kak Winni, aku, Tari (teman aku), Angel (adik aku), Bapak (ayah aku)

Aku yang pakai baju pink. Kalau yang pakai kerudung pink itu Kak Winni. Kak Winni adalah salah satu peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2014 yang bertugas di desa aku. Aku senang sekali waktu Kak Winni dan kakak-kakak KKN Kebangsaan datang ke desa aku. Mereka mengajari aku banyak hal, mulai dari berhitung, membaca, dll. Tapi aku tidak mau kalah, bukan hanya kak Winni yang bisa mengajari aku banyak hal, aku juga bisa mengajari kak Winni :P

Kira-kira apa yang bisa aku ajari ke kak Winni dan kakak-kakak yang lain ya? Hehehe, karena aku lihat mereka jarang mandi di sungai, jadi saat itu aku bertekad kalau aku harus mengajak dan mengajarkan kak Winni beserta kakak-kakak yang lain untuk mandi di sungai!

Awalnya mereka susah sekali untuk diajak mandi di sungai, tetapi setelah dipaksa, akhirnya luluh juga hehe. Budaya di tempat tinggal aku memang seperti ini. Walaupun di rumah ada toilet yang sebenarnya bisa digunakan untuk mandi, kami lebih suka mandi di sungai, sedangkan toilet hanya digunakan untuk buang air kecil dan buang air besar saja.

Begitu sampai di sungai, aku langsung lompat untuk mandi, tapi kak Winni hanya duduk di tepi sungai sambil terlihat berpikir. Aku yang sudah terlanjur basah menghampiri kak Winni dan menanyakan mengapa kak Winni tidak turun untuk mandi. Kak Winni kemudian bercerita bahwa kak Winni teringat dengan sungai di daerah tempat tinggalnya yang sudah tercemar. Aku tidak paham sih maksudnya, karena aku juga tidak paham air yang tercemar atau yang tidak itu bedanya seperti apa. Namun sejauh ini, aku yang sejak kecil dimandikan di sungai sehat-sehat saja hingga sekarang, jika sakit pun rasanya itu bukan karena air sungai.

image004
Kak Winni duduk di tepi sungai

Kata kak Winni, budaya mandi di sungai sebenarnya sudah ada sejak dahulu, sebelum Belanda masuk ke Indonesia. Setelah Belanda masuk, Belanda membuat inovasi baru di Indonesia dengan menciptakan ruang-ruang privat. Kak Winni menjelaskan bahwa ruang privat adalah ruang yang terbatas untuk pemilik rumah atau anggota keluarga pemilik rumah, seperti contohnya kamar tidur, toilet, dll. Nah kalau untuk toilet itu sendiri, tujuan diciptakannya bukan hanya untuk privasi individu saja (biar tidak diintip hihi), tapi juga untuk menjaga higienitas air di sungai. Kata kak Winni, air di sungai harus dijaga kebersihannya agar tidak tercemari oleh kotoran atau zat kimia yang berbahaya bagi kulit atau kesehatan tubuh kita.

Awalnya, ketika toilet diperkenalkan, masyarakat takut, karena tidak bisa membayangkan bagaimana bisa banyak orang dapat buang air besar dalam satu lubang yang kecil. Namun dalam perkembangannya, masyarakat mulai menerima sambil menyesuaikannya dengan ketersediaan air dan budaya setempat. Hasilnya seperti kebiasaan masyarakat di daerah tempat tinggal aku hari ini. Kami lebih suka mandi di sungai, namun untuk buang air, kami menggunakan toilet di rumah kami. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya teman aku lagi ee’ dan pipis di sungai, terus aku mandi di sebelahnya dengan memakai air sungai yang sama. Iiiiiih membayangkannya saja aku sudah tidak tahan.

Tadinya aku menilai Belanda itu jahat, tapi semenjak aku mendengar cerita kak Winni, rasanya aku ingin berterima kasih pada Belanda yang telah membawa inovasi dan mengenalkan toilet kepada negara kami. Tapi kata kak Winni, masih ada masyarakat di Indonesia yang buang air besar, buang air kecil, dan mandi di sungai yang sama, jadi aku harus bersyukur untuk apa yang aku dapati hari ini.

Oiya, ada hal yang paling aku suka dari ceritanya kak Winni, yaitu terkait nama aku: Delta. Kata kak Winni, nama aku mengingatkan kak Winni dengan salah satu proyek raksasa yang ada di Belanda, yaitu Delta Works. Proyek tersebut ditujukan untuk membantu rakyat Belanda dari banjir, makanya waktu melihat aku yang namanya Delta dan air bersatu, kak Winni langsung ingat proyek Delta Works ini. Salah satu hasil dari proyek ini adalah Maeslantkering Barrier atau penghalang raksasa terhadap arus hujan badai yang terbentang di Pelabuhan Rotterdam. Delta Works ini juga dinyatakan sebagai salah satu tujuh keajaiban dunia modern oleh American Society of Civil Engineers lho. Keren banget!

image006
Delta Works

Ternyata Belanda itu sangat inovatif! Di tengah masalah banjir yang kerap menimpa Belanda, Belanda tidak menyerah pada keadaan, melainkan terus membuat inovasi keren seperti Delta Works ini. Kalau Delta Works adalah milik Belanda, kata kak Winni, aku juga harus bisa menjadi Delta Works ala Indonesia, tidak harus menjadi keajaiban dunia, paling tidak aku bisa hadir menjadi bagian dari solusi atas masalah yang ada di Indonesia ketika aku besar nanti. Tenang aja kak Winni! Nama aku Delta: aku bangga atas nama aku dan aku juga akan membanggakan Indonesia karena kehadiran aku!

Wah, padahal aku yang tadinya mau mengajari kak Winni untuk mandi di sungai, tapi malah aku yang mendapat banyak pengetahuan baru dari kak Winni hehehe
Oiya, aku menulis surat ini bukan tanpa tujuan, aku menulis surat ini dengan pesan lho:
1. Buat kakak-kakak dan teman-teman, terutama yang bisa menggunakan air bersih, yang kamar mandi dan toiletnya nyaman, kita harus bersyukur karena di belahan Indonesia atau bumi yang lain ada orang yang tidak seberuntung kita hari ini.
2. Kita tidak boleh menilai orang yang buruk-buruk terus, sekalipun mungkin memang pernah melakukan kesalahan kepada kita. Buktinya, Belanda sempat membawa inovasi ke negara kita dan inovasi yang diterapkan Belanda untuk negaranya saat ini bisa menginspirasi kita untuk juga terus berinovasi.
3. Kita tidak boleh menyerah atas apa yang terjadi pada kita dan negara kita hari ini. Kita harus terus berusaha dan kreatif seperti Belanda dengan Delta Works-nya.
Segitu dahulu deh surat dari aku. Maaf ya kalau ada kesalahan. Semoga suatu hari nanti aku bisa ke Belanda dan kembali lagi untuk mengembangkan Indonesia, tak lupa juga menyebarkan pengetahuan yang aku dapat kepada banyak orang lain di negara ini, terutama anak desa seperti aku ini yang sulit akses informasi hehe. Terima kasih semua :)

Salam manis,
Delta pintar hehehe.

========================================
Referensi:

http://etnohistori.org/budaya-kebersihan-dalam-sejarah-indonesia-review-hatib-abdul-kadir.html

http://www.astudioarchitect.com/2009/12/pembagian-ruang-ruang-dalam-rumah-dan.html

http://www.tempo.co/read/news/2014/03/24/206564804/Kisah-Delta-Si-Penumpas-Banjir-Hadir-di-Pertemuan-Boediono

http://ms.wikipedia.org/wiki/Projek_Delta

http://www.kaskus.co.id/thread/544ec0ffc3cb17db2c8b456c/antara-banjir-belanda-dan-world-heritage-unesco

http://www.water-technology.net/projects/delta-works-flood-netherlands/ (image source of Delta Works)

http://trianawinni.blogspot.com

Kisah nyata penulis dan seorang anak bernama ‘Delta’ (sumber inspirasi utama)