301. Belajar dari Api Belanda

Penulis : Insan Ridho
Tema : Fire
=========================================================================================================================================================

Dalam serial kartun Avatar: The Last Air Bender, karakter bernama Aang awalnya hanya memiliki kemampuan untuk mengendalikan elemen udara. Aang dipercaya lahir sebagai seorang Avatar atau pengendali semua elemen: udara, air, tanah, dan api. Setelah sekian lama berkelana dan mempelajari tiap elemen, elemen api lah yang menjadi elemen terakhir yang berhasil Aang kuasai. Elemen api, menurut Aang, adalah unsur yang paling sulit dikendalikan. Apakah manusia biasa pun berpikir seperti Aang?

image001
Gambar 1: Tiga Unsur Yang Menciptakan Api, yaitu Bahan Bakar (Fuel), Udara (Air), dan Panas (Heat). Sumber: http://f.tqn.com/y/forestry/1/S/m/G/byw_fire2.jpg

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, api perlu ditinjau secara definisinya. Api, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti panas dan cahaya yang berasal dari sesuatu yang terbakar atau nyala. Kata ‘api’ lazim disebut dengan kata brand dalam Bahasa Belanda. Secara alamiah, api dapat terjadi karena ada tiga unsur yang saling bertemu, yaitu panas, bahan bakar, dan udara dalam bentuk oksigen. Ketiga unsur tersebut akan menciptakan api secara kontinu jika unsur-unsur ini tetap terjaga dalam sebuah sistem pembakaran.

Api seringkali diposisikan baik sebagai kawan maupun lawan bagi manusia. Di satu sisi, api dapat dianggap sebagai kawan karena memberikan banyak manfaat bagi manusia, seperti menciptakan penerangan dan membantu proses memasak. Di sisi lain, api acapkali menjadi musuh bagi kita karena menimbulkan kerugian, seperti kebakaran dan polusi. Ini tentunya sangat bergantung dari bagaimana kita dapat memanfaatkan api dan mengontrolnya dengan sebaik mungkin.

image002
Gambar 2: Peristiwa Kebakaran Akibat Kembang Api di Kota Enschede pada tahun 2000. Sumber: http://static.topyaps.com/wp-content/uploads/2012/09/Enschede-Fireworks.jpg

Api selalu identik dengan kebakaran dan kebakaran biasanya muncul karena kelalaian manusia atau karena faktor alamiah. Belanda pernah mengalami beberapa peristiwa kebakaran besar yang merenggut banyak korban. Salah satunya adalah kebakaran Hotel Polen di Amsterdam pada tahun 1977. Peristiwa ini menewaskan 33 orang dan mencederai 21 orang lainnya. Kota Enschede juga pernah mengalami peristiwa serupa akibat ledakan kembang api pada tahun 2000. 23 orang tewas dan ratusan orang terluka akibat peristiwa yang dinamakan oleh warga Belanda sebagai vuurwerkramp atau bencana kembang api ini.

Semenjak bencana kebakaran yang terjadi tersebut, Belanda lebih memperketat lagi keamanan dan regulasi soal pencegahan kebakaran. Di Belanda, regulasi tersebut diciptakan untuk meminimalisasi kemungkinan bahaya api yang menimbulkan kebakaran. Belanda menetapkan regulasi tersebut seperti yang berlaku juga di Uni Eropa agar sesuai standar keselamatan di Eropa. Beberapa sistem dan peralatan yang perlu diatur penggunaannya sesuai regulasi keamanan kebakaran tersebut antara lain sistem penerangan, peralatan memasak, dekorasi, dan rute evakuasi.

Brand regelgeving atau regulasi perihal antisipasi kebakaran harus dipenuhi oleh sistem-sistem yang berkaitan erat dengan penggunaan api di Negeri Kincir Angin. Setiap kota di Belanda memiliki brigade kebakaran masing-masing dan jumlah kota di Belanda mencapai 500 kota. Amsterdam sebagai ibukota Belanda memiliki lebih dari 15 brigade kebakaran yang siaga dalam mengantisipasi kebakaran dan bencana lain.

Mengingat pentingnya antisipasi kebakaran di Belanda, edukasi dan pelatihan diperlukan oleh brigade kebakaran dan para petugas kebakaran. Nederlands Instituut Fysieke Veiligheid (NIFV) membuka Fire Service Academy untuk memberikan pendidikan perihal manajemen kebakaran secara formal. Pendidikan seperti ini layak dicontoh oleh instansi pemadam kebakaran di Indonesia agar lebih siap dalam mengantisipasi kebakaran.

Petugas pemadam kebakaran di Belanda dibagi menjadi dua jenis, yaitu petugas professional dan petugas sukarela. Ini merupakan inovasi yang bagus karena petugas sukarela pun akan menambah jumlah tenaga yang bisa mendukung brigade kebakaran. Jumlah petugas sukarelawan mencapai lebih dari 24.000 orang sedangkan petugas profesional berjumlah lebih dari 4.000 orang. Petugas sukarela ini akan dilatih secara setara dengan petugas profesional dan memiliki tugas yang sama pula. Kompensasi berupa gaji pun didapatkan oleh petugas sukarela ini karena mereka harus fokus pada pekerjaan ini dan mengambil risiko besar walau tak sebesar gaji petugas profesional.

Brigade kebakaran di Belanda bukan hanya ditugaskan untuk memadamkan kebakaran saja melainkan juga untuk membantu dalam berbagai kecelakaan atau insiden. Insiden lain dapat berupa kecelakaan lalu lintas, insiden yang melibatkan material berbahaya, dan penyelamatan dalam air. Fleksibilitas para petugas ini juga menentukan bagaimana mitigasi bencana di suatu kota di Belanda bisa berjalan baik. Petugas ini dilatih tidak hanya untuk menangani kebakaran tetapi juga untuk menangani berbagai bencana, seperti evakuasi banjir dan bencana lain.

image003
Gambar 3: Truk Departemen Pemadam Kebakaran di Belanda. Sumber: http://www.alexmiedema.com/images/BuzzyNewz/VolvoTruckBus/HaakArm.jpg

Selain itu, setidaknya satu truk pemadam kebakaran disiapkan di setiap stasiun pemadam kebakaran di Belanda untuk membantu proses pemadaman dan evakuasi bencana. Beberapa stasiun juga mempersiapkan unit truk yang memiliki tangga khusus untuk memudahkan evakuasi. Truk departemen kebakaran atau biasa disebut brandweerwagen ini akan membawa sejumlah air untuk memadamkan kebakaran dan beberapa orang petugas kebakaran.

Pekerjaan yang berkaitan dengan api memang tidak selamanya menyenangkan, tapi sistem yang diterapkan di Belanda ini memudahkan semua pihak. Brigade pemadam kebakaran lokal akan menjadi pusat transmisi informasi lokal untuk memberitahukan kebakaran kepada semua pihak terkait. Setelah informasi tersebar, pihak terkait bencana, seperti pemerintah lokal dan kepolisian, akan memberikan perhatian khusus untuk menanggapi bencana tersebut. Rangkaian informasi itu terintegrasi sehingga meminimalisasi miskomunikasi.

Api dapat diibaratkan juga sebagai semangat hidup dan warga negara Belanda menjunjung tinggi motivasi hidup yang kuat. Kebanyakan warga negara Belanda berjiwa independen dan sederhana. Hasilnya, di tahun 2013, negara dengan lagu kebangsaan Wilhemus ini menjadi negara paling bahagia keempat di dunia menurut United Nation World Happiness Report. Meskipun banyak hal yang kontroversial yang dilegalkan oleh Belanda seperti pernikahan gay, keterbukaan pikiran warga-warga negara Belanda patut dicontoh oleh rakyat Indonesia.

Perasaan untuk ingin terus maju bisa disejajarkan dengan api semangat. Api semangat ini harus dijaga dengan baik dengan berbagai inovasi seperti yang telah dilakukan oleh Belanda di atas. Walaupun Belanda kurang harmonis dari sisi historis dengan Indonesia, inovasi dan pemikiran Belanda bisa diimplementasikan di Indonesia agar Indonesia bisa lebih berkembang. Baik dalam upaya mitigasi bencana kebakaran maupun semangat hidup, Indonesia bisa belajar banyak dari inovasi yang diciptakan oleh Negeri Tulip ini. Siapkah Indonesia?

Referensi:
1. “Fire Service Organization and Education in the Netherlands” by Marianne Heijndijk
2. “The Fire Service in the Netherlands” by Netherlands Institute For Safety
3. http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/europe/country_profiles/1043423.stm
4. http://www.cbs.nl/en-GB/menu/home/default.htm
5. http://www.infoplease.com/country/netherlands.html?pageno=1
6. http://news.bbc.co.uk/2/hi/europe/747566.stm