308. Pembersihan Terbesar Sepanjang Sejarah

Penulis : Lucia Priandarini
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Mari bertemu Boyan Slat, remaja Belanda yang mendedikasikan hidupnya membersihkan bagian terbesar bumi.

Pada musim panas 2011, di usia 16, Boyan Slat, remaja berkebangsaan Belanda, pergi ke Yunani untuk menyelam. Namun betapa kecewanya Slat ketika bertemu lebih banyak sampah plastik daripada ikan di laut. “Tidak ada yang bisa kita lakukan dengan sampah yang sudah masuk ke laut,” seseorang berkata kepadanya. Namun Slat tidak percaya. Sejak itu ia mencari cara untuk melakukan hal yang terdengar mustahil: membersihkan laut dari sampah.

Pada 2005, United Nations Environment Programme (UNEP) menyebut adanya jutaan ton plastik yang mencemari laut. Sampah plastik ini menyebabkan meninggalnya sekitar satu juta burung dan 100.000 mamalia laut setiap tahun. Dalam jangka panjang, sampah-sampah plastik ini merusak ekosistem dan akhirnya juga membahayakan manusia yang mengonsumsi ikan dan hewan laut yang terpapar polusi plastik ini. Bahan kimia berbahaya dalam plastik yang masuk ke dalam tubuh mendatangkan berbagai risiko penyakit kronis dari infertilitas hingga kanker.

image002

Menyadari potensi bencana tersebut, saat kembali ke sekolah, Slat benar-benar mewujudkan keseriusannya dengan membuat proyek sains berupa sebuah alat yang diproyeksikan untuk membersihkan laut. Proyek yang dibuatnya saat masih di sekolah menengah tinggi tersebut memenangkan Desain Teknis Terbaik di Universitas Teknologi Delft, Belanda.

Setelah meneruskan studi di universitas tersebut, hasrat untuk membersihkan laut ternyata masih terus memanggilnya. Namun tantangan besar pertama menghadang. Proyeknya membutuhkan dana yang begitu besar sehingga ia harus mencari sponsor untuk mewujudkannya. “Saya ingat mengontak 300 perusahaan dalam sehari. Hanya satu yang menjawab. Itupun sebuah penolakan,” ungkap Slat pada BBC.

Namun sebuah kesempatan mengubah segalanya. Februari 2013, Slat menjabarkan proyek yang ia beri nama The Ocean Cleanup dalam TEDx Talk. TEDx adalah sebuah ajang presentasi yang digelar di berbagai belahan dunia untuk memaparkan ide dan pengetahuan. Sebulan kemudian, 26 Maret 2013, presentasi yang ia beri judul “Bagaimana Laut Membersihkan Diri Sendiri” itu diunggah ke dunia maya.

image004

Mengejutkan! Setelah itu kotak pesan Slat dibanjiri sekitar 1500 surat elektronik setiap hari. Laman proyeknya, www.theoceancleanup.com, dikunjungi ribuan orang tiap hari. Mereka menawarkan diri untuk menjadi relawan dan memberikan donasi agar Slat dapat mewujudkan proyeknya. Dalam 15 hari pertama, galang dana publiknya telah berhasil mengumpulkan $80,000 atau lebih dari 1 milyar rupiah!

Menyadari besarnya harapan dan kepercayaan publik terhadapnya, Slat mengundurkan diri dari kuliahnya untuk fokus mempersiapkan The Ocean Cleanup. Selama enam bulan, ia “menghilang” dan membentuk tim beranggotakan kurang lebih 100 orang yang tersebar di seluruh dunia untuk membuat proyek pilotnya.

Meski demikian, ide inovasi Slat bukan tanpa kendala. Sejak awal, gagasan ini disangsikan bahkan mendapat cibiran dari banyak pihak, baik pakar kelautan maupun organisasi besar. Menjawab kesangsian tersebut, Slat muncul dengan laporan hasil uji kelayakan proyek setebal 530 halaman. Laporan itu ditulis oleh sekitar 70 ilmuwan dan insinyur yang menjawab kritik banyak orang akan proyek Slat.

Seiring dengan laporan ini, galang dana Slat di dunia maya dengan cepat berhasil menembus target 2 juta dollar atau 25 milyar rupiah! Dalam 100 hari, galang dananya mendapat dukungan dari lebih dari 38.000 pendonor dari 160 negara. Proyek perdana telah dibangun dalam waktu setahun dan akan beroperasi penuh membersihkan sampah lepas pantai di Laut Pasifik Utara dalam waktu tiga tahun.

Laut yang Membersihkan Diri Sendiri

Sesuai judul presentasinya, The Ocean Cleanup dibangun dengan metode pasif di atas prinsip bahwa laut dapat membersihkan dirinya sendiri. Ilustrasi berikut menjelaskan cara kerjanya.

image006

Sampah yang dibuang ke perairan bergerak manapun seperti sungai akhirnya akan bermuara ke laut. Di laut, sampah-sampah yang mengandung bahan kimia berbahaya ini kemudian menjadi santapan hewan laut. Pada akhirnya, sampah-sampah tersebut akan kembali ke manusia dalam bentuk makanan yang berasal dari laut. Bahan kimia tersebut lama kelamaan akan terakumulasi dalam tubuh manusia dan mendatangkan bahaya.

image008

Terdapat lima samudera yang sekaligus menjadi lima pusat pusaran sampah di lautan, disebut gyre. Laut Pasifik, di mana Slat memulai misinya, adalah salah satu dan merupakan pusaran terbesar dari lima gyre tersebut. Setiap gyre mengandung jutaan plastik dengan perkiraan sekitar 500 juta kilogram plastik yang mengapung di laut dan bergerak sesuai aliran.

Inilah mengapa metode pembersihan dapat dilakukan secara pasif. Bukan dengan menelusuri lautan, tapi membiarkan lautan itu mengalir dengan sendirinya dan mengalirkan sampah ke satu area. Pada pusaran ini dibentangkan pembatas panjang yang mengapung di laut sepanjang 100 km untuk menghadang dan menangkap sampah-sampah yang melintasi lautan sesuai arus perputaran gyre. Pergerakan dan pengumpulan sampah ini 100% dikendalikan oleh arus angin alami.

image010

Karena massanya yang lebih ringan, maka plastik-plastik ini akan mengapung di permukaan laut dan terhadang oleh pembatas. Penghadangan sampah tidak dilakukan dengan jaring untuk menghindarkan risiko terjeratnya makhluk hidup di laut. Hanya plastik-plastik yang akan terhadang di sepanjang pembatas tersebut.

image012

Terdapat platform pada pusat pembatas yang menampung sampah-sampah yang telah terkumpul. Sebuah kapal singgah setiap 6 minggu sekali untuk membawa dan mendaur ulang sampah-sampah tersebut sehingga menjadi produk bernilai ekonomis.

Proyeknya dengan cepat mendapat pengakuan dari Kementerian Infrastruktur dan Lingkungan Belanda. Pada 2014, ia terpilih menjadi pemenang penghargaan tertinggi dalam pelestarian lingkungan hidup, Champions of the Earth dari PBB, serta menjadi salah satu dari 20 Most Promising Young Entrepreneurs Worldwide (Intel EYE50).

Melalui blog mereka, ekspedisi keempat The Ocean Cleanup pada 9 April 2015 menyatakan telah mencapai Azore, Portugal setelah sebulan mengarungi Samudera Atlantik Utara untuk mengukur konsentrasi plastik pada kedalaman berbeda. Keseluruhan konsep proyek ini dinyatakan layak dan bisa dijalankan untuk mengangkat hampir setengah sampah dari Laut Pasifik Utara dalam waktu 10 tahun. Metode ini diperkirakan 33 kali lebih murah dan 7900 kali lebih cepat dibanding metode konvensional.

Foto 3. Platform The Cleanup Project

Tidak mudah untuk membangun sebuah proyek raksasa di atas laut. Fakta ini yang justru membuat Slat memilih untuk terus bertahan tinggal di Belanda. “Belanda itu seperti Silicon Valley industri lepas pantai yang menjadikan tempat ini sempurna untuk membangun The Ocean Cleanup. Banyak nama besar yang dapat saya ajak bekerja sama,” Slat menegaskan. “Lebih jauh, Belanda dikenal sebagai negara yang mampu memecahkan persoalan dengan keahlian teknik dan rekayasa. Proyek ini membuktikan bahwa kami mampu menguasai lautan.”

Referensi:

http://www.bbc.com/news/magazine-29631332

http://www.bloomberg.com/bw/articles/2014-09-16/this-dutch-wunderkind-now-has-the-funds-to-build-his-ocean-cleanup-machine

http://www.boyanslat.com/

http://www.theoceancleanup.com/

https://prezi.com/4n8sxpdwltwq/the-ocean-cleanup/

www.youtube.com/watch?v=ROW9F-c0kIQ

https://www.facebook.com/TheOceanCleanup

https://www.youtube.com/watch?v=hn_vzZwVJNY