310. Revolusi Perekam Suara dan Perekam Revolusi dari Belanda

Penulis : Lucia Priandarini
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

“Kaset, yang sekarang seperti benda peninggalan lama, dulunya adalah sebuah revolusi.”
Majalah Time, 12 Agustus 2013, Rewound, memperingati 50 tahun lahirnya kaset.

Hampir semua orang yang dewasa di era 90-an memiliki benda pipih segiempat bernama kaset. Sejak 1970-an, sebagian besar keluarga di berbagai belahan dunia memiliki koleksi kasetnya masing-masing. Inovasi mendunia ini tidak akan terwujud jika saja sebuah perusahaan Belanda tidak menggagasnya.

Kaset adalah salah satu penemuan besar yang mengubah hidup manusia dengan memanfaatkan medium udara di sekelilingnya. Gelombang bunyi yang merambat melalui medium perantara udara diubah menjadi gelombang listrik, yang kemudian menjadi sinyal magnetik yang melekat pada pita kaset. Suara lagu, dongeng, hingga rekaman obrolan yang kita dengar dari pita kaset adalah hasil konversi dari sinyal magnetik tersebut kembali ke sinyal listrik. Dunia harus berterima kasih pada mereka yang dapat memindahkan sinyal suara ke pita magnetik untuk kemudian dapat diputar ulang, dan diproduksi massal.

image002

Membuat Alat Perekam Mendunia
Tiga dasawarsa sebelum Belanda menciptakan kaset, pada 1935 perusahaan Jerman, AEG, meluncurkan alat perekam/tape recorder magnetik antar-rol/kumparan bernama Magnetophon. Namun sayangnya produk ini hanya dapat digunakan oleh perusahaan rekaman atau stasiun radio besar karena tidak mudah untuk digunakan dan harganya yang masih sangat mahal,
€ 1600 – 3400 (setara dengan 22 – 47 juta rupiah). Harga yang sangat tinggi untuk saat itu. Di awal 1960-an, harga alat perekam ini menjadi jauh lebih terjangkau ketika tabung kedap udara, salah satu komponen mahal pada benda ini, dapat digantikan dengan transistor. Perubahan ini membuat perekam antar-rol lebih dapat digunakan oleh sebagian rumah tangga.

Namun sebuah produk baru dapat disebut sebagai inovasi yang mengubah dunia ketika ia bisa diproduksi massal dan dapat diakses sebanyak mungkin orang. Belanda lah yang menciptakan temuan dengan standar global itu. Pada 1962, Philips, sebuah perusahaan Belanda, mempelopori pembuatan kaset audio dalam format yang lebih sederhana dan dengan harga yang terjangkau. Benda ini diperkenalkan pada Berlin Radio Show pada 30 Agustus 1963 dengan nama Compact Cassette. Meskipun terdapat perekam cartridge magnetik lain, namun keluaran Philips lah yang mendunia dengan bentuk yang lebih kecil dan ringkas.

image004

Philips menetapkan standar ukuran dan bentuk kaset yang dijadikan acuan seluruh dunia. Mereka berfokus pada mobilitas dan kemudahan untuk menggunakannya. “Tujuan kami adalah membuat kaset dengan ukuran yang dapat masuk ke kantong,” ujar Lou Ottens, pria Belanda yang memimpin proses produksi kaset Philips saat itu kepada The Registers.

“Benda itu menjadi kejutan besar bagi pasar,” ungkap Ottens kepada Time. “Benda itu jauh lebih kecil dan ringkas dibanding alat perekam antar-rol yang ada saat itu,” katanya. Benda ini kemudian mulai diproduksi massal sejak 1964 dan digunakan di seluruh dunia. Mesin pemutar kaset pertama di dunia diproduksi Philips dengan nama Philips EL 3300 pada Agustus 1963, yang kemudian terus dikembangkan oleh berbagai produsen. Pada 1980-an kaset dapat diperdengarkan sambil beraktivitas ke sana kemari ketika alat pemutar kaset menjadi lebih ringkas dan kecil. Peran kaset sebagai alat perekam juga menjadi lebih signifikan, terutama untuk profesi tertentu seperti wartawan dan penegak hukum untuk merekam wawancara atau sidang.

Kaset diproduksi dalam dua jenis: pita kosong yang dapat difungsikan sebagai medium perekam, dan yang sudah terisi seperti kaset musik, lagu, cerita. The Philips Record Company juga memproduksi kaset yang berisi musik. Panjang pita serta durasinya pun beragam, yang paling umum adalah mulai dari C46 (23 menit pada setiap sisi), C60 (30 menit per sisi), C90 (45 menit), dan C120 (satu jam).

image006

Popularitas kaset di Indonesia turun ketika compact disc (CD) muncul sejak awal 1990-an, yang juga diciptakan oleh Philips dan Sony sejak tahun 1983. Namun hingga tahun 2000-an ini, sebagian orang masih mengandalkan kaset sebagai alat rekam karena ketahanannya terhadap debu, panas, patah dan risiko kerusakan lain. Sebagian orang juga percaya kaset lebih tidak berisiko hilang karena terhapus atau dimanipuasi seperti data digital. Sampai sekarang ayah saya bahkan masih memutar musik dari kaset karena merasa belum familiar dengan CD.

Tidak hanya dalam hiburan, kaset bahkan juga berperan dalam perubahan politik negara. Seperti dalam revolusi Iran pada 1979, rekaman pidato Ayatollah Khomeini mengkritik rezim brutal Pahlevi didengarkan dalam kaset-kaset yang digandakan dan disebar kepada rakyat.

Inovator yang Melintasi Zaman
Seperti inovasinya yang tetap hidup melintasi zaman, Philips, perusahaan Belanda produsen produk ini ternyata juga memiliki sejarah panjang dan peran besar, tidak hanya bagi Belanda, tapi juga bagi dunia. Perusahaan ini bermula dari sebuah usaha keluarga yang berdiri pada 1891. Saat itu, ayah dan anak berkebangsaan Belanda, Frederik dan Gerard Philips, mendirikan sebuah perusahaan elektronik di Eindhoven.

Setelah nyaris bangkrut di awal-awal tahun, pada 1907 bisnis keluarga ini tumbuh menjadi perusahaan dengan nama Philips Metaalgloeilampfabriek N.V. (Philips Metal Filament Lamp Factory Ltd.), dan Philips Gloeilampenfabrieken N.V. (Philips Lightbulb Factories Ltd.) pada 1912. Anton Philips, adik Gerard lah yang kemudian membesarkan perusahaan yang terus hidup dari masa ke masa ini.

Pada masa Perang Dunia II, keluarga Philips terbang ke Amerika dan menjalankan bisnis mereka dari sana. Putra Anton, Frits Philips, satu-satunya anggota keluarga yang tinggal di Belanda, mendapat penghargaan karena menyelamatkan 382 orang Yahudi dari Nazi. Ia meyakinkan Nazi bahwa orang-orang Yahudi tersebut berperan penting dalam proses produksi Philips. Setelah perang usia, perusahaan Philips kembali beroperasi di Eindhoven yang kini sebagai difungsikan sebagai museum.

“De wereld is mijn werkterrein” yang berarti dunia adalah bidang saya, adalah semboyan Anton Philips untuk membuat produk Philips mendunia. Perusahaan Belanda berusia 123 tahun itu telah menjadi pelopor yang membuat udara – medium pengantar bunyi – menjadi tak pernah sama lagi. Diawali dengan inovasi kaset, udara menjadi riuh dengan bunyi musik dan cerita yang dapat direkam dan diputar kembali.

Referensi:

http://content.time.com/time/magazine/article/0,9171,2148631,00.html

http://klikmusikid.tumblr.com/post/29032489588/klik-fakta-bagaimana-pita-kaset-bisa-merekam

http://en.wikipedia.org/wiki/Compact_Cassette

http://www.theregister.co.uk/2013/08/30/50_years_of_the_compact_cassette/?page=1

http://www.theregister.co.uk/2013/09/02/compact_cassette_supremo_lou_ottens_talks_to_el_reg/?page=2

http://www.newscenter.philips.com/us_en/standard/news/press/2013/20130910-philips-compact-cassette-golden-anniversary.wpd#.VR5bZfyUcVg

http://www.philips-museum.com/uk/