336. CLUBBING PENGHASIL ENERGI

Penulis : ROSALINA DEWI NOVITASARI
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

“Music may not save the world, but a new eco club in Rotterdam is doing its bit with a dancefloor that generates electricity”

Musik Belanda?
Hm… Sepertinya kita jarang mendengar jawaban musik ketika mendengar kata Belanda. Tulip, Delta Projects, kincir angin, sepak bola, dan keju adalah daftar nama yang akan muncul ketika seseorang mendengar kata Belanda. Namun jangan salah, Belanda mempunyai DJ-DJ terbaik dunia, sebut saja Tijs Verwest alias Tiesto, Armin Van Buuren, Paul Van Dyk, dan Robbert van de Corput atau yang lebih dikenal dengan Hardwell. Prestasi dari DJ-DJ tersebut tak perlu diragukan lagi, misalnya Tiesto yang terpilih sebagai DJ nomor satu sedunia versi DJ Magazine pada tahun 2002, 2003, dan 2004. Kalau di dunia sepak bola, itu namanya Hattrick. Bukan lagi Hattrick, tapi kali ini Quattrick. Adalah Armin van Buuren juga pernah menjadi DJ nomor satu sedunia versi DJ Magazine empat tahun berturut-turut, yaitu pada tahun 2007 sampai 2010. Namun kali ini bukan DJ yang akan menjadi topik bahasan, melainkan lantai. Nah lho, apa hubungannya? Sabar-sabar.

Tahukah kamu jika Belanda adalah lebih dari apa yang kita anggap selama ini? Penemuan inovatif Belanda terus berlanjut. Lupakan sejenak tentang penemuan Belanda di sektor air. Mari kita sambut eco club di Rotterdam yang lantainya mampu menghasilkan energi. Bagaimana bisa?

Daan Roosegarde, seorang desainer asal Belanda, berhasil mengembangkan sustainable dance floor di mana energi dihasilkan dari kegiatan menari yang ditangkap dengan cara spiral di bawah lantai dansa (dance floor) dan diubah menjadi listrik. Listrik ini dapat digunakan untuk musik dan pencahayaan. Jadi, kita tidak hanya bersenang-senang dengan menari, tapi bisa sekalian menghasilkan listrik. Ibaratnya, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Selain kesenangan yang didapat, energi juga bisa dibuat.

image001

image002
Let’s Dance while Releasing Energy
Sumber: http://www.sustainabledanceclub.com/

Dari menari jadi energi? Bagaimana bisa?
Modul pada dance floor (lantai dansa) sedikit melenturkan ketika orang-orang menginjaknya saat menari. Pergerakan dari orang-orang yang menari ini bisa disebut dengan energi kinetic, yaitu energi yang dimiliki oleh benda yang bergerak. Energi kinetik ini kemudian dikonversi menjadi listrik yang mampu menyalakan lampu LED oleh generator internal. Setiap modul dengan ukuran 75 x 75 x 20 cm dapat menghasilkan sampai 35 Watt secara berkelanjutan, antara 5 – 20 Watt per orang.

image005
Sistem Kerja Sustainable Dance Floor
Sumber: http://www.sustainabledanceclub.com/

Salah satu klub yang menggunakan produk sustainable dance floor adalah Club Watt di Rotterdam. Club Watt adalah hasil kerjasama antara Enviu dan Sustainable Dance Floor Group yang berkeinginan untuk menciptakan eco cloub pertama di dunia. Tujuan pembuatan eco club ini adalah menggabungkan rencana pemerintah, organisasi, perusahaan, dan masyarakat untuk membantu Rotterdam beradaptasi terhadap perubabahan iklim dengan pengurangan emisi CO2 sebesar 50%.

“If you have a full dance club, there’s lots there, you just have to turn it into a usable product.” Kata Michel Smith, Kepala dari Dutch Ecological Inventors.

Dengan eco club, tak heran konsep ini menjadi begitu terkenal di dunia. Club Watt menjadi perusahaan pertama di dunia yang menggunakan piezoelektrik (material yang dapat menghasilkan perbedaan muatan listrik antara kedua sisinya apabila mengalami deformasi atau perubahan dimensi) yang mampu menarik perhatian publik. Bahan-bahan piezoelektrik ini dipasang di bawah lantai dansa (dance floor). Perubahan warna lampu LED tidak mengambil dari jaringan listrik kota, tapi dari energi kinetik yang dihasilkan para pengunjung. Sangat menguntungkan, bukan?

Tak hanya menyediakan lantai yang mampu menghasilkan energi listrik, tapi Club Watt juga menyediakan fasilitas green initiatives lainnya, seperti a rainwater flush system for toilets (air hujan yang berfungsi sebagai air siraman toilet) dan gelas plastik daur ulang. Selain itu, pembuatan Club Watt ini telah menginspirasi negara lain untuk memakai prinsip yang sama. Adalah subway station di Tokyo yang menggunakan energi kinetik (dari pengunjung) untuk menampilkan display dan ticket gates (gerbang tiket). Lalu, Toulouse di Prancis merupakan kota pertama pembuat trotoar piezoelektrik yang dapat menyalakan lampu jalan. Dan saat ini, Inggris berencana membuat piezoelektrik di jalan-jalan untuk menerangi halte bus dan penyeberangan untuk pejalan kaki.
“This is not recycling, it’s upcycling,”

Pergi clubbing? Tak selamanya hanya sekadar bersenang-senang. Look!

“Salah satu clubber yang datang ke Club Watt memancarkan 1.3 kg CO2 per malam. Jika Anda bandingkan dengan apa yang Anda lakukan di rumah, yaitu 1.8 kg jika Anda hanya menonton TV, menonton film dan membuka lemari es beberapa kali. Jadi lebih baik untuk pergi clubbing di Cloub Watt daripada tinggal di rumah. “(Chesterton 2008)
“The better the music, the more people dance, the more electricity comes out of the floor”

Nah, ini namanya kreativitas tanpa batas. Konsep pembuatan sustainable dance floor ini sangat bagus, tak hanya bisa memanjakan pengunjung dengan fasilitas musik dan arena menari yang nyaman, lebih dari itu apa yang pengunjung injak adalah sumber yang mampu menghasilkan energi.

Hayo, masih menganggap jika clubbing di Belanda hanya sekadar bersenang-senang? Ingat, clubbing di Cloub Watt bukan clubbing biasa.

Referensi:
http://www.sassweb.ca/3bb3/crazy/just-dance-kinetic-energy/, diakses pada tanggal 10 April 2015
http://www.hollandtrade.com/media/hollandtrade-publications/made-in-holland/, diakses pada tanggal 10 April 2015
http://www.sustainabledanceclub.com/products/sustainable_dance_floor/, diakses pada tanggal 10 April 2015
http://www.theguardian.com/travel/2008/sep/13/rotterdam.netherlands/, diakses pada tanggal 10 April 2015