340. Inovasi Belanda dalam Teknologi Pencegahan Banjir dan Air Pasang

Penulis : Aprillia Ayuningtyas
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Tak dapat dipungkiri memang, bahwa air merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup setiap manusia. Sekitar 60 persen bagian tubuh kita terdiri dari air. Satu orang setidaknya mengonsumsi air minum sekitar 2 liter sehari. Segala makanan yang kita telan pun tidak terlepas dari air. Menurut Prof Hubertus HG Savenije, pakar hidrologi dari Delft University of Technology, Belanda, saat memaparkan makalahnya dalam acara Water Management Workshop di TU Delft, bahwa untuk menghasilkan 1 kilogram gandum dibutuhkan air 1,5-2 meter kubik atau 1500 kilogram air dan satu kilogram daging sapi memrlukan 10000 kilogram air. Dan sesungguhnya, 73 persen permukaan bumi terdiri dari air dan 0,5 persen adalah air tanah.

Walaupun air memang akrab dengan kehidupan manusia, namun kadang air juga dapat menjadi musuh, seperti yang dilakukan Belanda dalam menaklukkan air. Belanda merupakan negara dengan hampir separo wilayahnya adalah permukaan air laut. Bahkan dari namanya saja sudah terlihat bahwa Netherlands merupakan negara permukaan laut, yaitu “nieder” yang berarti rendah dan “land” yang berarti tanah. Melihat kondisi geografis yang seperti ini, Belanda pun mulai melakukan adaptasi. Yang menjadi prioritas yaitu mencegah tumpahnya air laut ke daratan. Maka dari itu, Belanda membuat pematang raksasa berbentuk bukit pasir yang membentang di wilayah utara Belanda. Didalam pematang itu ditanami berbagai jenis rumput, belukar dan pohon yang dimaksudkan sebagai bahan perekat. Upaya berikutnya, yaitu membangun pelindung berupa ratusan tanggul besar dan kecil yang dilengkapi kincir yang membentang di pinggir laut dan sungai yang tanahnya rendah. Tanggul membentang dari wilayah Belgia hingga Provinsi Frisland dan Groningen di Utara Belanda. Ketinggian tanggul disesuaikan dengan tinggi rendahnya letak tanah di pinggir sungai atau kanal masing-masing.

image002

Masih ingat apa yang terjadi di Belanda 62 tahun lalu? Ya, banjir besar telah menghantam Belanda dan menyebabkan kerugian yang sangat besar. Namun, Belanda dengan julukannya sebagai Negara sejuta ide, kasus banjir dapat diselesaikan dengan baik, dan malah membuat Belanda memiliki Proyek Delta yang mampu menanggulangi banjir dan air pasang. Secara bertahap, tiga belas bendungan raksasa dibangun dalam tempo 39 tahun. Bendungan pertama selesai dibangun pada 1958 di Sungai The Hollandse Ijssel, sebelah timur Rotterdam. Setelah itu, dibangun bendungan The Ooster Dam (The Oosterschelde Stormvloedkering). Bendungan ini membentengi seluruh daratan Zeeland yang langsung berhadapan dengan seluruh lengan Laut Utara. Tanggul ini sungguh luar biasa. Begitu rumit konstruksinya sehingga ia disebut sebagai bendungan dengan rancang bangun paling kompleks yang pernah dibuat manusia. The Economist pun menjulukinya sebagai ”Miracle of the Netherlands”.
Proyek Delta dikonstruksi hampir selama 5 dekade dan menjadi salah satu upaya pembangunan terbesar dalam sejarah peradaban manusia. American Society of Civil Engineers pun menetapkannya sebagai salah satu dan tujuh keajaiban modern. Terkait dengan pencapaian tersebut, dapat dirasakan bahwa semangat membangun dan berinovasi Belanda sangat tinggi. Inovasi adalah instrumen utama dalam pembangunan Belanda menjadi sebuah bangsa yang sejahtera secara ekonomi, kaya akan budaya dan memiliki reputasi tinggi dalam bertoleransi. Ekonomi pengetahuan (knowledge economy) telah menjadi pijakan bagi Belanda melejitkan diri dan mengambil posisi penting dalam percaturan global.

image004

Belanda memang negara yang tidak henti melakukan inovasi. Belanda menerapkan sistem reklamasi lahan melalui sistem polder yang kompleks untuk mempertahankan wilayahnya dari ancaman banjir maupun air pasang. Polder merupakan sistem tata air tertutup dengan elemen meliputi tanggul, pompa, saluran air, kolam retensi, pengaturan lansekap lahan, dan instalasi air kotor terpisah. Sistem Polder ini pertama dikembangkan pada abad ke 11 dengan adanya dewan yang bertugas untuk menjaga level ketinggian air dan untuk melindungi daerah dari banjir (Waterschappen). Kemudian, sistem Polder ini dikembangkan lagi pada abad ke 13 dengan penyempurnaan menggunakan kincir angin untuk memompa air keluar dari daerah yang berada di bawah permukaan air laut. Dengan semakin banyaknya pembangunan sistem hidrolik inovatif di negeri Van Oranje tersebut, polder dan kincir angin akhirnya menjadi identik dengan Negeri Belanda.

Sistem Polder banyak diterapkan pada reklamasi laut atau muara sungai, juga pada manajemen air buangan (air kotor dan drainase hujan) di daerah yang lebih rendah dari permukaan laut dan sungai. Penerapan system Polder ini dapat memecahkan masalah banjir di perkotaan. Unsur terpenting dalam sistem Polder ini adalah organisasi pengelola, tata kelola sistem yang berbasis masyarakat mandiri dan demokratis serta adanya infrastruktur tata air yang dirancang, dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat. Sedangkan pihak dari Pemerintah hanya sebagai penanggungjawab dengan adanya proyek sistem Polder ini.

Referensi
1. http://www.alpensteel.com/article/47-103-energi-angin–wind-turbine–wind-mill/3422–water-from-the-tap-di-belanda.html
2. https://ayahaan.wordpress.com/2010/04/19/laut-dibendung-tanggul-dibangun/#more-1153
3. www.digitaljournal.com
4. http://anggunsugiarti.blogspot.com/2012/02/belajar-dari-sistem-polder-negera.html
5. http://www.asce.org/
6. http://www.7wonders.org/civil-engineering-wonders/