346. Menyulap Air Seni Menjadi Pupuk

Penulis : DEBBY AMALIA BRILIANSARI
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Mungkin sebagian besar kita masih asing dengan “green roof”. Apa itu green roof? Green roof adalah teknologi yang membuat kita bisa bercocok tanam di atap bangunan. Itulah mengapa teknologi ini dinamakan green roof. Green yang berarti hijau, dan roof yang berarti atap. Sesuai dengan namanya, green roof ini membuat atap bangunan tampak hijau.
Di Indonesia, kita mungkin jarang sekali menemukan green roof ini. Tetapi, berbeda ceritanya jika kita pergi ke negara Belanda. Kita bisa menemukan banyak bangunan yang menerapkan green roof. Dengan adanya green roof ini, air hujan akan meresap pada tanaman yang terdapat di atap bangunan, sehingga air hujan tidak terbuang semuanya. Tentu saja hal ini akan mencegah terjadinya banjir. Selain itu, green roof ini membuat suhu lingkungan lebih sejuk. Green roof sangat sesuai diterapkan di perkotaan yang lahannya cenderung lebih padat bangunan. Seperti kota Jakarta contohnya.

image002
Salah satu green roof di Amsterdam
via www.inhabitat.com

Sayangnya, green roof memang tidak bisa diterapkan di sembarang atap bangunan. Kita tidak bisa langsung bercocok tanam di atap rumah kita misalnya. Untuk menerapkan green roof dibutuhkan lapisan atap khusus, serta sistem irigasi dan perawatan yang lebih banyak dibandingkan bercocok tanam di tanah biasa. Nah, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pupuk tanaman.
Agar tanaman tumbuh subur, dibutuhkan beberapa mineral. Diantaranya nitrogen, potasium, dan khususnya fosfat. Fosfat adalah pupuk organik yang sangat dibutuhkan tanaman untuk tumbuh subur. Namun, beberapa ahli menyebutkan bahwa bumi akan kekurangan fosfat pada tahun 2030. Wah, gawat dong. Untuk itulah, sebuah perusahaan peralatan air di Amsterdam, Waternet, membuat inovasi sumber fosfat baru untuk penyubur tanaman green roof, dengan memanfaatkan kandungan fosfat pada air seni atau urin manusia. Bagaimana jadinya tanaman jika dipupuk dengan urin? Pernah membayangkannya?

image004
Ini dia! Sebut saja “pee-cycler”
via www.flickr.com

Gambar di atas adalah toilet umum. Ya, sekali lagi, toilet umum. Toilet umum model seperti ini bisa ditemukan di sepanjang jalan di Amsterdam. Toilet inilah yang berperan penting dalam proyek yang disebut “Green Urine Initiative” ini. Lalu bagaimana cara kerjanya?

Prinsip dari “pee-cycling” ini adalah dengan pemisahan kandungan fosfat dari urin. Hanya dengan membiarkan urin tertampung selama 6 bulan, akan terbentuk kristal yang mengandung mineral-mineral, salah satunya fosfat. Untuk mempercepat proses pengkristalan, ditambahkan magnesium oksida pada urin yang tertampung. Kemudian, kristal ini akan mengering membentuk bubuk putih. Bubuk putih inilah yang nantinya akan digunakan sebagai pupuk tanaman.

Proyek ini baru berjalan pada tahun 2014. Setiap minggu, toilet-toilet ini menampung 7-9 liter. Bayangkan, berapa banyak urin yang bisa ditampung dalam satu bulan? 6 bulan? Setahun? Target dari proyek ini adalah mengumpulkan urin dari 1 juta penduduk Amsterdam. Dari 1 juta penduduk, diperkirakan dapat menghasilkan 1.000 ton pupuk dari urin manusia ini setiap tahunnya. Menakjubkan bukan? Sayangnya, hanya pria yang bisa berkontribusi di toilet ini. Ingin mencoba?

image006
Toilet “Green Urine” di Amsterdam
via www.agv.nl

Referensi:

http://inhabitat.com/public-urinals-help-amsterdam-harvest-pee-as-fertilizer-for-green-roofs/

http://www.greenoptimistic.com/amsterdam-collects-urine-fertilize-citys-green-roofs-20131122/#.VTxE0dKqqko

http://www.ubmfuturecities.com/author.asp?doc_id=526122

http://www.trueactivist.com/pee-cycling-to-fertilize-green-roofs-in-amsterdam/

http://www.treehugger.com/green-food/pee-power-recycling-urine-to-powder-makes-superior-fertilizer.html

http://www.treehugger.com/urban-design/peecycling-will-fertilize-green-roofs-amsterdam.html