351. Fire Hose: Inovasi Sekaligus Pelopor Perkembangan dan Perbaikan Masalah Kebakaran

Penulis : Husain Muhammad Fajar Surasno
Tema : Fire
=========================================================================================================================================================

Siapa yang tak kenal Belanda? Pertanyaan yang mungkin sangat sedikit untuk seseorang mengangkat tangannya dan berkata saya tidak mengenal. Belanda adalah negara yang banyak memberikan sumbangsi inovasi bagi semua elemen kehidupan. Berbicara soal elemen air, tidak ada lagi keraguan pada negara satu ini. Berbicara tentang elemen angin, hal ini tidak terbantahkan dengan banyaknya kincir angin yang ada di negeri ini. Berbicara tentang elemen tanah, menjadi negara dengan agrikultur mumpuni dan mampu memproduksi bunga yang menjadi kebanggan mereka yakni bunga tulip dalam jumlah besar, ditambah dengan inovasi yang mereka lakukan sehingga mampu menanam tanpa mengenal musim, apalagi yang kurang dari mereka. Namun berbicara tentang elemen api, apakah Belanda menyumbang inovasi dari elemen ini yang berguna bagi kehidupan? Pasti banyak yang akan berpikir terlebih dahulu untuk mencari jawabannya.

“Jas Merah (Jangan Pernah Melupakan Sejarah)” itulah yang yang dikatakan bapak proklamator kita Bung Karno. Jika kita coba mengingat-ingat kembali sejarah, menurut kalian apakah yang membuat petugas pemadam kebakaran menjadi profesi yang dirasa sangat heroik? Selain kemampuan dan keberanian yang mereka miliki walau dibanyangi oleh taruhan nyawa, mereka ditunjang dengan alat-alat yang melengkapi tugas mereka. Dahulu, awal pemadam kebakaran yang dilakukan di Amerika kala itu hanya menggunakan ember dari sumber air ke titik api untuk memadamkan kebakaran.1 Hal ini juga yang mungkin masih kita lakukan hingga sekarang. Namun bukankah hal tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang banyak dengan kerja ekstra dan waktu yang lama.

image001

http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Jan_van_der_Heiden.jpg

Di sinilah Belanda mengeluarkan kehebatannya, di tahun 1693 Belanda melalui Jan Van Der Heiden yang merupakan Inspektur Brigade Kebakaran menjawab tantangan ini. Ia bersama putranya bernama Nicolaas mengembangkan selang kebakaran pertama dari era modern yang disebut dengan “Fire Hose”. Selang dengan panjang 50 kaki yang terbuat dari kulit ini, memungkinkan petugas pemadam kebakaran mengalirkan air dengan akurat langsung ke titik api. Tidak sampai disitu, Van Der Heiden pun mengembangkan selang hisap pertama. Barulah kemudian, alat ini diaplikasikan di seluruh negara di belahan dunia dan terus dikembangkan terutama oleh negara Amerika.1 Inilah inovasi Belanda yang sekaligus menjadi pelopor bagi berkembangnya alat-alat pemadam kebakaran hingga saat ini.

image002

http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Fire_hose_apparatus_designed_by_Jan_van_der_Heyden_in_De_Rijp_town_hall_01.JPG

Lantas, mungkin diantara kalian masih ada yang berpikir bahwa ini adalah hal yang sepele. Akan tetapi, pernahkah kalian membayangkan apa yang akan terjadi tanpa adanya fire hose? Jika kita coba menelitik menggunakan data, angka kematian pemadam kebakaran menurut US Fire Administration di 50 negara bagian Amerika Serikat per 100.000 kebakaran tahun 2008 berjumlah 120 orang (3,86%), tahun 2009 berjumlah 91 orang (2,97%), dan tahun 2010 berjumlah 87 orang (2,78%).2 Bisa kita bayangkan sendiri, dengan adanya fire hose saja yang membantu petugas pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya, angka kematian yang dialami petugas masih diatas 2%. Apalagi jika mereka masih menggunakan cara konvensional yakni menggunakan ember dalam memadamkan kebakaran, dapat diperkirakan angka kematian dalam hal ini akan lebih meningkat.

Hal tersebut barulah seputar pemadam kebakaran. Bagaimana dengan korban jiwa yang bukan pemadam kebakaran dan kerugian yang dialami akibat kebakaran? Menurut Buletin World Fire Statistics dari Geneva Association, Amerika mengalami kerugian sebesar $US 11.600 juta, sedangkan Belanda tempat asal Fire Hose diciptakan mengalami kerugian sebesar € 649 juta di tahun yang sama yakni 2010 akibat kebakaran. Untuk korban meninggal akibat kebakaran di Amerika berjumlah 2.786 orang, sedangkan di Belanda berjumlah 39 orang di tahun 2010 menurut WHO.3 Bagaimana dengan Indonesia? Untuk DKI Jakarta saja menurut Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Prov. DKI Jakarta kerugian akibat kebakaran sebesar Rp. 1.220.086.770 dan jumlah korban meninggal sebanyak 19 orang.4

Berikut rinciannya.

image003
Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Prov. DKI Jakarta4

Hal ini sekali lagi, dapat kita jadikan renungan betapa bergunanya inovasi yang diciptakan Belanda, karena jika tanpa adanya Fire Hose ini, bisa dipastikan jumlah korban dan kerugian akibat kebakaran akan jauh lebih tinggi dari data yang telah disebutkan.

Oleh karenaya, sudah sepatutnya kita berterima kasih atas inovasi yang diciptakan Belanda bernama Fire Hose ini, walaupun terlihat sepele awalnya. Namun pada nyatanya, selang kebakaran ini membantu kehidupan seluruh manusia di bumi ini dengan mengurangi angka kematian dan kerugian akibat kebakaran. Hal yang dapat kita pelajari di sini adalah bukan seberapa besar atau kecil inovasi yang kita miliki namun seberapa besar inovasi tersebut membantu kehidupan banyak orang. Inilah salah satu bukti inovasi Belanda di elemen api bagi kehidupan yang terus menjadi pelopor perbaikan atas permasalahan kebakaran di dunia ini.

Sumber:
1. Gilbert D. History Of Fire Hose. [Internet] [Cited 26 April 2015] Available from: http://www.crownshoptalk.com/History%20of%20Fire%20Hose.pdf
2. Shafwani R. Resiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegahan Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan. 2013 [Internet] [Cited 26 April 2015] Available from: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/35166/5/Chapter%20I.pdf
3. Geneva Association. World Fire Statustics. 2014 [Internet] [Cited 26 April 2015] Available from: https://www.genevaassociation.org/media/874729/ga2014-wfs29.pdf
4. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Prov DKI Jakarta. Data Kebakaran Tahun 2014. 2015 [Internet] [Cited 26 April 2015] Available from: http://www.jakartafire.net/statistik/index.php?tahunkat=2014