369. Solusi Banjir Indonesia dari Netherland

Penulis : Kartika Yurlisa
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

“Banjir lagi, Banjir lagi” nyanyian merdu yang selalu terdengar dikala Indonesia mulai memasuki musim penghujan. Dan uniknya, nyanyian itu selalu terulang tiap tahunnya. Bahkan sepertinya kalau kita bertanya tentang bajir ke korban banjir tahunan. Mereka tentu akan bilang “Sudah biasa”. Seakan hal tersebut sudah menjadi budaya masyarakat di daerah yang sering ditimpa banjir.
Masalah klasik tersebut bukan hal mudah untuk diselesaikan dan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Kota Jakarta dan Semarang dan beberapa kota yang menjadi langganan banjir dari tahun ketahun. Kondisi jalanan atau area saat ini menjadi sangat parah dan memprihatinkan ketika hujan turun. Jangankan hujan lebat, hujan dengan intensitas sedang saja sudah berhasil menimbulkan genangan. Belum lagi jika hujan turun dalam waktu yang lama, banjir dimana-mana.

Drainase yang buruk, menjadi salah satu penyebab utama banjir. Drainase yang berupa gorong-gorong di bawah jalanan sangat kecil dan tua. Gorong-gorong kelas mikro itu tidak mampu menampung beban curah hujan yang banyak. Beberapa kota yang memiliki ketinggian rendah harusnya memiliki sistem drainase terpadu lebih baik.

Pengembangan kota-kota pantai di Indonesia seringkali lebih didasarkan kepada kepentingan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pengembangan kawasan tersebut menimbulkan masalah banjir tahunan yang tidak kunjung ditemukan solusi masalahnya. Dari itulah perlu upaya peningkatan atau pengembangan aspek teknologi dan manajemen untuk pengendalian banjir di kota-kota pantai di Indonesia.
Sistem Drainase yang baik? Nampaknya kita perlu belajar dari Belanda.Belanda merupakan Negara yang memiliki sistem pengelolaan air terbaik di dunia. Belanda adalah negara yang gigih menghadapi tantangan alam. Air merupakan masalah utama bagibangsa Belanda. Belanda dibangun dari tanah yang digenangi air menjadi daratan yang dapat dihuni manusia, proses pembangunan tersebut berjalan dalam waktu yangtidak singkat dan berabad-abad lamanya.

Dengan teknologi dan inovasi yang dilakukan oleh orang-orang Belanda terciptalah suatu negara dibawah permukaan laut. Hal tersebut mengingatkan kita pada kata-kata mutiara yang dilontarkan Filsuf Perancis, Rene Descartes “God created the world, but the Dutch created Holland” ujarnya.

Belanda menerapkan sistem reklamasi lahan melalui sistem polder yang kompleks untuk mempertahankan wilayah Belanda dari ancaman banjir dan air pasang. Polder merupakan sistem tata air tertutup dengan elemen meliputi tanggul, pompa, saluran air, kolam retensi, pengaturan lansekap lahan dan instalasi air kotor yang terpisah. Dengan demikian sistem dapat polder dikembangkan karena menggunakan paradigma baru, diantaranya berwawasan lingkungan (environment oriented), pendekatan kewilayahan (regional based), dan pemberdayaan masyarakat pengguna.

Keunggulan dari sistem polder yaitu mampu mengendalikan banjir dan genangan akibat aliran dari hulu, hujan setempat naiknya muka air laut. Selain dapat mengendalikan air, sistem polder juga dapat digunakan sebagai obyek wisata atau rekreasi, lahan pertanian, perikanan, dan lingkungan industri serta perkantoran.

Kelemahan dari sistem polder yaitu kerja pada polder sangat bergantung pada pompa. Jika pompa mati, maka kawasan akan tergenang. Sehingga diperlukan adanya pengawasan pada pompa. Selain itu, biaya operasi dan pemeliharaannya yang relatif mahal.

Penerapan sistem polder ternyata juga dapat memecahkan masalah banjir perkotaan di Indonesia. Suatu subsistem-subsistem pengelolaan tata air tersebut sangat demokratis dan mandiri sehingga dapat dikembangkan dan dioperasikan oleh dan untuk masyarakat dalam hal pengendalian banjir kawasan permukiman mereka. Unsur terpenting di dalam sistem polder adalah organisasi pengelola, tata kelola sistem berbasis partisipasi masyarakat yang demokratis dan mandiri, serta infrastruktur tata air yang dirancang, dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat. Sedangkan pemerintah hanya bertanggung jawab terhadap pengintegrasian sistem-sistem polder, pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan sungai-sungai utama. Hal tersebut merupakan penerapan prinsip pembagian tanggung jawab dan koordinasi dalam good governance.

Dan semoga suatu saat nanti entah kapan nyanyian itu akan jadi nyanyian using. Dan bangsa Indonesia bisa sukses seperti bangsa Belanda. Dan saya percaya kita bisa.

Daftar Pustaka :
Sugiarti, A. 2012. Belajar dari Sistem Folder Negera Belanda. http://anggunsugiarti.blogspot.com/2012/02/belajar-dari-sistem-polder-negera.html. Diakses tanggal 24 April 2015.