371. Fix It, Not Throw It Away

Penulis : Nurina Azyyati
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

‘We were born in time when if something was broken we would fix it. Not throw it away.’

Fix it, not throw it away. Kutipan tersebut sepertinya cocok untuk menggambarkan bagaimana orang Belanda hidup dari waktu ke waktu. Ya, kebiasaan untuk tidak membuang barang-barang bekas dan justru malah mendaur ulang dan menggunakannya kembali adalah apa yang membuat Belanda berdiri sebagai negara yang membanggakan sampai saat ini. Belanda, sejak dahulu kala telah mempelopori prinsip ‘Cradle-to-Cradle’ yaitu mendaur ulang kembali dan menggunakannya lagi.

Belanda telah memulai konsep pemikiran tersebut sejak tahun 1980an ditandai dengan berdirinya perusahaan-perusahaan yang menaungi bidang reused-and-recycle tersebut. Sebut saja salah satunya adalah perusahaan Nihot yang telah menciptakan mesin yang dapat memisahkan bahan-bahan yang telah dibuang. Bahkan lebih hebatnya lagi, Belanda telah membuat Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS). Pemikiran tersebut juga ternyata sangat didukung oleh pemerintah Belanda. Tahun 2009, pemerintah Belanda telah mengeluarkan sebanyak 320 juta Euro untuk mendaur ulang sampah tersebut. Dan sebanyak itu kiranya pengeluaran pemerintah Belanda per tahun untuk mendaur ulang sampah. Hal tersebut membuat Belanda menjadi negara dengan presentase tertinggi yang mendaur ulang barang-barang tidak terpakai di Eropa yang bahkan memicu negara-negara lainnya untuk ikut mendaur ulang. Bukan hanya itu saja, Belanda berhasil menciptakan teknologi-teknologi mendaur ulang sampah yang akhirnya ikut digunakan oleh beberapa negara lainnya untuk mendaur ulang sampah, mulai dari sampah organik, non-organik, gelas, dan sebagainya.

Perkara sampah memang bukan hal yang sederhana di Belanda. Bahkan membuang sampah di Belanda saja sangat ribet dan memerlukan banyak aturan. Salah menempatkan sampah tidak berdasarkan jenisnya atau lupa untuk lupa meletakkan sampah di depan rumah ketika jadwal tiba akan dikenai denda yang jumlahnya tidak sedikit. Dan tidak boleh ada sisa makanan yang dibuang dalam tempat sampah. Karena itu orang-orang Belanda seringkali memberi sisa makanan mereka kepada burung-burung di taman atau bebek-bebek di danau. Karena sampah juga akhirnya orang Belanda mempunyai kebiasaan untuk tidak membuang begitu saja barang yang dimilikinya sehingga ada perayaaan di mana orang-orang Belanda menjual barang-barang yang sudah tidak mereka gunakan lagi. Mulai dari pagi, orang-orang sudah berjejer di depan rumah mereka untuk menjual barang-barang tersebut. Walaupun rata-rata orang Belanda mempunyai ekonomi yang berkecukupan namun akan tetap ada yang membeli barang-barang tersebut.

Pemikiran ‘fix it, not throw it away’ menurut saya telah ada sejak dahulu didasari oleh keterbatasan yang dimiliki oleh Belanda. Membangun sebuah negara yang dahulu adalah laut tentu bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan proses ratusan tahun untuk membangunnya. Belum lagi keadaan cuaca yang tidak mendukung semua jenis tumbuhan untuk dapat tumbuh di sana hingga akhirnya memotivasi Belanda untuk menginvasi beberapa negara di daerah Selatan sana, termasuk Indonesia, untuk mendapatkan bahan makanan yang tidak bisa didapatkan di Belanda. Angin yang bertiup kencang di sana juga tidak mereka sia-siakan. Oleh karena itu mereka membangun kincir angin yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan mereka dan akhirnya itulah yang menjadi nama baru negara mereka. Negeri Kincir Angin. Dari keterbatasan-keterbasan itulah muncul ‘fix it, not throw it away’. Mungkin karena pemikiran itu juga banyak yang mengatakan bahwa orang Belanda itu pelit. Namun menurut saya bukan pelit, melainkan sangat menghargai apa yang telah mereka miliki yang didapat dengan segala jerih payah. Keterbatasan tersebut membuat mereka gigih untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan tidak menyia-nyiakan apa yang telah mereka miliki.

Saya kagum bagaimana teknologi yang berkembang sangat pesat di sana justru tidak menjadikan orang-orang Belanda menjadi manja dengan segala kemudahan yang ada. Saya seringkali membayangkan betapa enaknya orang-orang Belanda hidup di sana. Namun kenyataannya orang Belanda lebih memilih untuk bersepeda dibandingkan menggunakan mobil ketika berpergian. Lebih memilih untuk membaca buku di transportasi umum daripada chatting dan update di sosial media. Lebih memilih untuk menghargai privasi orang dengan tidak mengomentari apakah baju yang dipakai orang tersebut matching atau tidak, atau dengan membuat janji terlebih dahulu sebelum berkunjung ke rumah orang. Lebih memilih untuk membayar makanannya sendiri-sendiri daripada harus merepotkan orang lain. Dan lebih memilih untuk tidak membuang begitu saja barang-barang yang tidak mereka gunakan lagi. Pikiran mereka untuk tetap bekerja keras dan tidak menyia-nyiakan apa yang mereka miliki yang membuat saya sangat kagum dengan Belanda dan orang-orang di sana.

Pada akhirnya konsep pemikiran ‘fix it, not throw it away’ yang menghasilkan kemajuan di negara tersebut lah yang harus ditiru. Bukan kecanggihan teknologi yang mati-matian dipelajari dan ditiru sehingga hanya tahu bagaimana cara membuatnya tapi sejujurnya tidak tahu dari mana proses pembuatan itu berasal. Jika orang-orang Indonesia hanya mengagumi kecanggihan Belanda dan berjuang mati-matian untuk ikut menjadi negara canggih juga namun hanya ingin menjadi ‘canggih’ saja bukan menjadi ‘gigih’, pada akhirnya semua akan sia-sia saja. Karena Belanda juga pernah mengalami masa-masa sulit dan mereka dapat melewatinya dengan pemikiran tersebut.

REFERENSI:
1. Environmental Technologies Made in Holland. Hollandtrade. Retrieved on April 14, 2015, from: http://www.hollandtrade.com/media/news/?bstnum=4961
2. Crittenden, Guy (December 1, 2011). Environment and Waste Technology in the Netherlands. Solid Waste & Recycling. Retrieved on April 14, 2015, from: http://www.solidwastemag.com/features/environment-and-waste-technology-in-the-netherlands/
3. Feller, Gordon. DUTCH SUCCESSES. Waste Management World. Retrieved on April 14, 2015, from: http://www.waste-management-world.com/articles/print/volume-11/issue-1/features/dutch-successes.html
4. Agatha, Yuliana (June 12, 2013). Membuang Sampah di Tempatnya Belum Tentu Lolos di Belanda. Kompasiana Lifestyle. Retrieved on April 14, 2015, from: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/06/12/membuang-sampah-di-tempatnya-belum-tentu-lolos-denda-di-belanda-564450.html