383. Plant-e: Tanaman kini dapat menghasilkan listrik!

Penulis : Kristie Yukaristia
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Manusia jaman sekarang ini kebanyakan sudah sangat erat dengan teknologi. Teknologi seperti sudah menjadi pendamping hidup mereka yang sulit dipisahkan. Mulai dari handphone, tablet, laptop, internet, televisi, smart car, hingga ada pula smart home. Melalui teknologi, manusia menjadi terbantu dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Perkembangan pesat dari teknologi ini mengingatkan kita akan satu hal yang tak kalah penting berkaitan dengan teknologi, yaitu sumber energi yang tak lain adalah listrik. Listrik menjadi sumber energi dari beberapa alat teknologi maupun sebagai sumber penerangan masa kini. Listrik pun menjadi kebutuhan manusia untuk menjalankan kehidupannya. Tanpa listrik dunia serasa mati, begitulah yang orang-orang katakan.

Saat di tengah masa manusia yang begitu bergantung dan merasa butuh pada listrik, banyak ilmuwan yang mencari cara untuk memperoleh sumber energi tersebut dengan praktis, mudah, ramah lingkungan, dan efisien. Begitu juga yang dilakukan oleh Plant-e, salah satu perusahaan asal Belanda. Belanda tentunya sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Negara yang identik dengan warna orange ini terkenal dengan inovasi-inovasi dan penemuan terbaru yang dapat membuat masyarakat kita tercengang seperti berkata “wow, kok bisa?”. Inovasi dan penemuan terbaru yang ada juga didukung oleh teknologi yang makin canggih dan mumpuni dari masa ke masa. Berangkat dari kebutuhan inilah muncul inovasi terbaru dari perusahaan Plant-e dari Belanda.

Plant-e mengembangkan produk dimana tanaman hidup menghasilkan listrik. Produk ini didasarkan pada teknologi yang dikembangkan di Wageningen University, yang dipatenkan pada tahun 2007 oleh Plant-e. Teknologi ini memungkinkan kita untuk menghasilkan listrik dari pembangkit yang tinggal di hampir setiap situs di mana tanaman bisa tumbuh. Teknologi ini didasarkan pada proses alami yang aman bagi tanaman, dan lingkungannya. Sistem ini bekerja terbaik di lahan basah atau lahan berair seperti sawah, rawa. Tidak ada instalasi infrastruktur yang rumit ini membuatnya super mudah untuk membawa listrik ke daerah-daerah terisolasi yang saat ini tanpa listrik. Energi listrik tersebut dapat digunakan untuk mengisi tenaga listrik pada handphone sampai pada hotspot Wi-Fi. Bahkan listrik ini pun sanggup menyalakan 300 lampu LED di sepanjang jalan di dua lokasi di Belanda. Perusahaan ini menyebut proyeknya sebagai Starry Sky.

image002
Sumber gambar : http://revolution-green.com/plant-e-plants-generating-electricity/

Teori di balik sistem Plant-e ini adalah angat sederhana. Ketika tanaman ini membuat makanan melalui proses fotosintesis, sebagian dari bahan organik yang dihasilkan dari proses fotosintesis itu digunakan untuk pertumbuhan tanaman, tetapi sebagian besar bahan organik yang tidak dapat digunakan oleh tanaman akan disekresikan ke dalam tanah melalui akar. Mikroorganisme yang ada di sekitar akar akan memecah senyawa dari bahan organik tersebut menjadi elektron. Dengan menempatkan elektroda di dekat akar, maka akan mudah untuk memanen energi limbah ini dan mengubahnya menjadi listrik. Proses ini mirip dengan proyek-proyek sains sekolah dasar yang menciptakan baterai dari apel atau kentang, tetapi dengan manfaat tambahan yaitu membuat pertumbuhan tanaman benar-benar tidak terganggu oleh proses panen listrik ini. Pengujian telah menunjukkan bahwa tanaman akan terus tumbuh normal meskipun dengan adanya elektroda, sehingga tanaman terus tumbuh sementara listrik secara bersamaan dihasilkan.

image004
Sumber gambar: http://www.yesmagazine.org/planet/dutch-company-powers-streetlights-with-living-plants-will-your-cellphone-be-next

image006
Sumber gambar: http://www.gizmag.com/plant-microbial-fuel-cell/25163/

Co-founder dan CEO Plant-e, Marjolein Helder, percaya bahwa teknologi ini akan menjadi revolusioner. Menggunakan tanaman untuk menghasilkan listrik membawa pilihan pembangkit tenaga listrik yang ramah lingkungan, dan yang lebih menarik, perusahaan berencana untuk memperluas teknologi untuk lahan basah yang ada dan sawah di mana listrik dapat dihasilkan pada skala yang lebih besar. Hal ini menjadi kekuatan untuk beberapa tempat termiskin di dunia ataupun wilayah di dunia yang memiliki banyak lahan basah tetapi masih kesulitan mendapatkan listrik. Meskipun ide menggunakan tanaman dan fotosintesis untuk mengekstrak energi bukanlah hal baru, tetapi teknologi yang berjalan serupa prinsip Plant-e adalah yang pertama untuk menghasilkan listrik dari pembangkit listrik tanpa merusak pembangkit listrik itu sendiri.

Belum lama ini, bahkan Perusahaan Pembangunan Distrik “Kerckebosch” sudah membeli sistem Plant-e untuk sebuah kabupaten di Zeist, Belanda. Distrik ini benar-benar sedang direnovasi. Sistem Plant-e ini akan ditempatkan di atap dan dinding Christian College Zeist (CCZ) dan akan menghasilkan listrik untuk hotspot Wi-Fi.

image008
Sumber gambar: http://us6.campaign-archive2.com/?u=a5d8b76568a20430dee0eac8a&id=54b30431e6

Plant-e berharap teknologi mereka ini dapat digunakan di berbagai wilayah di dunia guna menyediakan listrik khususnya di area miskin tetapi memiliki tanaman hidup yang melimpah, seperti sawah atau rawa-rawa. Mengetahui inovasi terbaru dari Negara Belanda ini, mengingatkan penulis akan Negara Indonesia yang masih memiliki lahan basah yang luas seperti sawah. Indonesia masih memiliki banyak sawah dan lahan karena dari situlah sumber mata pencaharian beberapa masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, siapa tahu jika teknologi ini menjadi sangat bermanfaat apabila dapat diaplikasikan di beberapa daerah pelosok Indonesia yang masih kesulitan mendapatkan listrik ataupun daerah-daerah yang ingin meringankan biaya penggunaan listrik.

Referensi:

http://plant-e.com/technology.html

http://techxplore.com/news/2015-01-plant-e-street-alive.html

http://us6.campaign-archive2.com/?u=a5d8b76568a20430dee0eac8a&id=54b30431e6