385. Setitik Cahaya dari Negeri Kincir Angin (FINALIST)

Penulis : Khotimah Ratna Indradjanue
Tema : Fire
=========================================================================================================================================================

Suatu malam, di sebuah kamar di sudut kota yang dinaungi oleh cerahnya langit Nusantara, seorang anak memandang langit dari jendela mungilnya berharap Ia dapat menemukan setitik cahaya yang selalu muncul di semua buku dongengnya, cahaya bintang.

“Bunda, kenapa aku tidak menemukan setitik pun bintang di langit malam?”, Tanya sang anak.

“Tunggu sampai semua orang terlelap, sayang”, Jawab sang ibu, menenangkan. “Dan jangan lupa untuk mematikan lampu”, lanjut sang ibu sambil tersenyum pergi meninggalkan sang anak tenggelam dalam dunianya.

Sang anak menuruti pesan ibu dan menunggu hingga tengah malam, namun meskipun semua orang telah terlelap, sang anak belum menemukan setitikpun cahaya bintang. Lewat tengah malam, cahaya kota yang tak kunjung redup telah meredupkan harapan seorang anak.

Semenjak malam itu, sang anak tidak pernah berhenti menatap langit untuk menggapai harapannya, menemukan cahaya bintang. hingga suatu hari, di suatu surat kabar kota …

image002
Gambar 1. Pemandangan Malam Hari Dunia via Satelite (NASA)
Sumber: m.voaindonesia.com

Pernah tidak kita merasa terkagum – kagum dengan indahnya lampu – lampu yang menghiasi kota? Meriah dan mengagumkan, bukan? Tapi apakah kalian tahu bahwa setelah lewat tengah malam, banyak tempat – tempat yang sudah jarang dilewati bahkan sudah tidak terdapat seorang pun di tempat tersebut namun lampu penerangan yang ada masih menyala dengan sangat terang benderang. Hal ini merupakan suatu pemborosan energi yang cukup banyak dan merupakan sumber polusi cahaya. Seorang mahasiswa Delft University of Technology, Chintan Shah, menemukan solusi yang implementatif untuk masalah ini. Terinspirasi dari perjalanannya dari London menuju Amsterdam, Ia melihat dari jendela pesawat betapa semaraknya lampu – lampu yang menghiasi kota namun untuk beberapa tempat tertentu tidak terdapat seorang pun disana. Hal ini menimbulkan sebuah dorongan untuk menciptakan lampu pintar, Tvilight.

image005

Apa sih kelebihan dari lampu pintar buatan Chintan ini? Tvilight ini dilengkapi dengan sensor wireless yang dapat mendeteksi keberadaan manusia dan kendaraan yang mendekat. Pintarnya lagi, sensor ini tidak mendeteksi keberadaan hewan. Tvilight akan menyala secara perlahan ketika sensor mendeteksi adanya manusia atau kendaraan yang mendekat dalam radius tertentu dan lampu akan meredup perlahan ketika sudah melewati lampu. Bahkan, Tvilight dapat mengestimasi kecepatan manusia dan kendaraan yang melintas sehingga lama penyinaran lampu juga dapat diestimasi. Untuk beberapa pengaturan, lampu Tvilight dapat tidak memancarkan cahaya sama sekali atau hanya memancarkan cahaya redup jika tempat tersebut benar – benar kosong untuk mereduksi pemakaian energi.

image007
Gambar 3. Sistem Kerja Tvilight
Sumber: www.tvilight.com

Di suatu kota di Belanda, pengguna jalan sering mengeluhkan penggunaan cahaya lampu yang terlalu terang ketika cuaca cuaca cerah, dimana brightness level tersebut seharusnya dibutuhkan jika cuaca sedang berkabut atau hujan. Ketiadaan pengaturan tingkat pencahayaan lampu menjadi nilai minus bagi lampu – lampu jalan pada umumnya. Nah, Tvilight memiliki kelebihan lain yaitu memiliki pengaturan brightness level yang dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca dan iklim. Pengaturan Tvilight dapat dilakukan melalui internet sehingga kita tidak perlu repot – repot mendatangi setiap lampu hanya untuk pengaturan pencahayaan lampu. Praktis bukan?

image009
Gambar 4. Halaman Pengaturan Tvilight
Sumber: www.tvilight.com

Tahukah kalian bahwa ternyata lampu penerangan jalan di Eropa menyumbangkan 40 juta ton emisi CO2 pertahunnya? Kok bisa? Tentu saja karena untuk menyalakan sebuah lampu tentu saja memerlukan energi listrik dan CO2 merupakan emisi yang selalu ada di setiap pembangkit listrik.

Dan Tahukah kalian bahwa penggunaan energi penerangan jalan di Eropa menghabiskan biaya sekitar 27 juta euro perharinya? Dan dengan 40% dana energi yang dikeluarkan pemerintah dialokasikan untuk biaya penerangan jalan, berapa banyak yang biaya yang dihabiskan hanya untuk penerangan jalan pertahunnya? Tvilight yang didesain oleh Chintan ini dapat mengurangi penggunaan energi hingga 80% dan mengurangi biaya perawatan hingga 50%. Selain itu emisi CO2 dari sektor penerangan jalan dapat berkurang. Tentu saja hal tersebut dapat mengurangi biaya yang digunakan untuk penerangan jalan secara signifikan dan membantu mengatasi permasalahan perubahan iklim akibat Gas Rumah Kaca.

Tidak hanya di jalan, implementasi lampu Tvilight ini dapat dilakukan dimana saja diantaranya yaitu di tempat parkir, permukiman, area perkantoran dan institusi, stasiun maupun halte dan tempat – tempat yang memerlukan pencahayaan dengan frekuensi yang tidak terlalu sering. Dengan penggunaan Tvilight di beberapa tempat sudah tentu polusi cahaya di daerah tersebut dapat berkurang.

image011

Sebuah keunggulan lain dari Tvilight
Tvilight juga memiliki beberapa fitur tambahan yang menjadikan nilai plus untuk lampu pintar ini, diantaranya adalah:
- Data penggunaan energi untuk lampu penerangan dapat disimpan sehingga dapat dilihat grafik energi yang telah digunakan.
- Lampu Tvilight akan menyala dengan full brightness level yang mengidentifikasikan adanya kerusakan pada sistem Tvilight.
- Tvilight dapat digabungkan dengan berbagai macam peralatan lain untuk mendukung insfrastruktur seperti dengan pemasangan kamera keamanan pada Tvilight.
- Dalam beberapa pengaturan, Tvilight dapat memancarkan cahaya merah apabila terdapat mobil ambulance atau pemadam kebakaran yang melintas.
Hingga saat ini, Tvilight sudah diimplementasikan di empat kota di Belanda yaitu di:
- Stasiun Beilen
- Jalan raya Kota Nijmegen
- Desa Nuenen, rumah pelukis Vincent van Gogh
- Tempat parkir the Park + Ride (P+R) Kota Gronigen

Karena keuntungan yang ditawarkan oleh Tvilight tidak hanya berlaku untuk negara tapi juga untuk kehidupan bumi yang sustainable, berapa negara seperti Israel, Turki, Amerika Serikat, Jepang, India dan Australia menyatakan ketertarikannya untuk mengadopsi lampu Tvilight di negara mereka. Kira – kira akankah Indonesia mengadopsi lampu Tvilight ini?

Hingga suatu hari, lampu Tvilight diimplementasikan di Nusantara. Sang anak yang tetap setia memandangi langit malam menemukan setitik cahaya harapan itu, cahaya bintang seperti yang selalu dituliskan di setiap buku dongeng yang Ia baca. Dengan perasaan bahagia yang membuncah bagai seorang anak yang menemukan harta karun, Ia segera berlari memberi kabar harta tersebut pada orang tuanya bahwa cahaya itu bukan hanya dongeng semata.

Tvilight telah memindahkan cahaya dari bumi untuk dipancarkan kembali dari langit. Menghadiahkan cahaya dan kehidupan yang indah bagi penduduk bumi.

Tertarik dengan Tvilight? Kalian dapat mengunjungi beberapa sumber referensi yang digunakan pada artikel ini:
1. http://www.rtcc.org/2013/10/02/rtcc-2013-awards-sustainable-technology-firm/ diakses 26 April 2015 pukul 10.56
2. http://www.tvilight.com/ diakses 26 April 2015 pukul 11.06
3. http://www.designboom.com/technology/tvilight-smart-streetlights/ diakses 26 April 2015 Pukul 11.10
4. http://www.jagatreview.com/2013/07/tvilight-sistem-lampu-jalan-yang-pintar-dan-hemat-energi/ diakses 26 Januari 2015 pukul 11.15
5. http://m.voaindonesia.com/a/polusi-cahaya-dari-lampu-kota-menutupi-angkasa/1442944.html diakses 26 April 2015 pukul 19.50