394. Room For The River: Bukti lain dari kejeniusan Belanda dalam hal manajemen sumber daya air

Penulis : Nirwan Maulana
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Dunia telah mengakui bahwa Belanda merupakan sang juara untuk bidang pemanfaatan sumber daya air dan manajemen banjir. Bagaimana tidak, sebagian besar wilayah di negeri kincir angin ini ketinggiannya berada di bawah level rata-rata ketinggian air laut. Selain itu, Belanda dilalui oleh 3 sungai utama benua eropa – Sungai Rhine, Meuse dan Scheldt, dan letaknya pun berhadapan langsung dengan laut, sehingga jika tanpa keahlian yang mumpuni didalam menaklukan banjir, negeri belanda sudah pasti akan larut didalam air. Sejarah juga mencatat bahwa Belanda memperluas wilayah huniannya di daratan dengan cara mengeringkan rawa, sungai dan membendung laut. Kehebatan Belanda ini, diilustrasikan oleh Saeijs (1991) didalam karya ilmiahnya dengan mengatakan ‘’God created man, but Dutch created their own land’’. Sangking hebatnya, orang-orang Belanda dapat menciptakan daratannya sendiri, yang secara hiperbolis tanpa adanya bantuan Tuhan.

Namun, reputasi ini tidak dibangun dalam sekejap karena bila mengikuti perjalanan panjang perkembangan negeri oranje ini, dapat dilihat bahwa kehebatan tersebut merupakan hasil pembelajaran yang terus menerus dari pengalaman-pengalaman pahit yang dialami. Seperti yang dilansir oleh wikipedia.com, tercatat didalam sejarah bahwa terdapat sekitar lebih dari 28 badai dan banjir besar di Belanda yang mengakibatkan kerusakan fatal. Dimulai dari tanggal 26 desember 838, ketika sebagian besar wilayah barat laut negara ini terendam banjir dan menewaskan 2.437 orang.
Banyak pakar mengatakan bahwa kunci utama dari kehebatan orang-orang Belanda dalam hal sumber daya air adalah selalu belajar untuk memperbaiki diri dan kegigihannya untuk terus berinovasi. Setiap kali bencana datang, mereka akan bangkit lagi, terus berjalan meskipun tertatih, seperti pepatah inggris mengatakan ‘’what doesn’t kill you, makes you stronger’’.

Bencana banjir besar yang terjadi pada pertengahan tahun 90-an – Desember 1993 dan Januari 1995, menjadi titik balik strategi Belanda didalam penanganan bajir. Saat itu, aliran air sangat deras hingga mencapai lebih dari 11.100 m3/detik dan mengharuskan sebanyak 250.000 orang dievakuasi. Selama ini, konsep utama pemerintah Belanda untuk menghalau banjir adalah dengan memperkuat dan meninggikan bendungan. Strategi ini dinilai bukanlah pendekatan yang berkelanjutan karena artinya, bendungan akan terus dinaikkan untuk menyesuaikan ketinggian dan aliran air yang akan terus bertambah dimasa depan – utamanya disebabkan oleh climate change. Belum lagi terdapat permasalah teknis, adanya kebocoran atau jebolnya bendungan tersebut karena semakin tinggi bendungan maka ketahanannya akan berkurang.

Dilatar belakangi hal ini, Belanda secara briliant hadir dengan inovasi baru dalam hal penananganan banjir dengan menghasilkan sebuah program yang bernama room for the river. Ide dasar dari program ini sebenarnya sangat sederhana, tetapi sangatlah inovatif, yakni making water a way, instead of making them away. Strategi yang konvensional adalah menjauhkan air dengan cara membendungnya, tetapi sekarang membuat ruang dan saluran untuk pergerakan air di sungai dan saluran air lainnya, sehingga volume aliran air dapat dikurangi.

Program ini disetujui oleh Pemerintah Belanda pada tahun 2007 dan diagendakan akan selesai pada tahun 2015, dengan total anggaran sebesar 2,3 miliar euro. Terdapat 39 proyek disepanjang sungai-sungai yang melintasi negeri ini dan setiap proyek memiliki jenis pendekatan yang berbeda-beda. Seperti terlihat di gambar 1, terdapat 9 jenis treatment atau pendekatan untuk setiap proyek didalam program room for the river. Jenis treatment untuk setiap proyek dipilih berdasarkan hasil kajian mendalam dengan tujuan utama menambah ruang gerak untuk air.

image002

Secara lebih jauh, program tersebut memiliki 3 tujuan utama. Pertama, cabang-cabang dari sungai Rhine dapat mengakomodasi volume aliran air hingga mencapai 16.000 m3/detik, tanpa adanya potensi bencana banjir. Kedua, meningkatkan kualitas kehidupan di daerah-daerah yang berdekatan dengan sungai, ditinjau dari sisi ekonomi dan lingkungan. Ketiga adalah tersedianya secara permanen, ruang untuk pergerakan air hingga beberapa abad ke depan, mengingat perubahan iklim diprediksi akan meningkatkan debit air.

Selain dari sisi substansi idenya yang inovatif, program ini juga membuat sebuah gebrakan dari sisi implementasi dan eksekusi teknisnya di lapangan. Program ini berhasil dijalankan dengan baik berkat adanya keterlibatan dan kerja sama yang sinergis antara pemerintah pusat, daerah, sektor swasta dan masyarakat sekitar atau yang disebut a mixed centralized–decentralized governance approach.

Didalam pelaksanaannya, pemerintah pusat berlaku sebagai pengambil keputusan akhir dan pengawas sementara pemerintah daerah dan stakeholder lainnya di daerah yang bersangkutan, memformulasikan rencana dan design teknis proyek. Dengan demikian, setiap masalah dan kearifan lokal dari setiap daerah dapat diakomodir oleh setiap proyek. Pemerintah pusat juga membuat lembaga khusus yang bertujuan untuk mendampingi dan mengontrol kinerja pemerintah daerah, seperti menghadirkan pakar untuk memberikan capacity building, agar output yang dihasilkan dapat maksimal. Bahkan, proses politik dan pengambilan kebijakan selama pelaksanaan program ini, dinilai memiliki pendekatan yang paling baik didalam sejarah pembangunan mega-project di Belanda dan akan diarahkan menjadi role model kedepannya.

Dibalik kesuksesannya ini, bukan berarti kehadiran room for the river tidak luput dari kritik. Isu utamanya adalah adanya trade off antara menggunakan lahan untuk air atau untuk aktivitas manusia, seperti hunian dan pertanian. Ditengah terus meningkatnya trend pertumbuhan penduduk dan aktivitas manusia, apakah menggunakan lahan yang ada atau bahkan sengaja menyediakan lahan untuk air merupakan keputusan yang tepat? Meskipun demikian, akhirnya isu ketahanan dari bencana banjir menjadi prioritas utama dan Pemerintah Belanda pun tidak tinggal diam untuk meminimalisir dampak negatif program ini. Sebagai salah satu ahli di bidang spatial and environmental planning, Pemerintah Belanda mencoba membuat proyek yang multi fungsi. Proyek daerah aliran sungai diintegrasikan dengan aktivitas-aktivitas sosial masyarakat, seperti membangun tempat rekreasi, fasilitas-fasilitas publik seperti cycling dan jogging track, serta lahan pertanian yang berkelanjutan, sebagai salah satu contohnya proyek Overdiep.

Keberhasilan room for the river sebagai sebuah inovasi di bidang sumber daya air menjadi buah bibir di kancah internasional. Hal ini terlihat dari banyaknya negara yang ingin belajar tentang program ini, seperti China, Australia dan bahkan negeri adidaya Amerika Serikat. Indonesia tampaknya perlu juga berguru mengenai program ini karena mungkin bisa menjadi sebuah solusi pintar untuk permasalahan banjir di ibu kota Jakarta.

Kisah panjang antara Belanda dan sumber daya air, pada akhirnya membawa Belanda menjadi raja dalam hal pemanfaatan sumber daya tersebut. Predikat tersebut didapatkan melalui kemampuan yang baik untuk belajar dari pengalaman dan keuletan untuk terus berinovasi yang tak kenal henti. Hikmahnya adalah, ternyata, meskipun menyandang predikat tersebut, Belanda tidak pernah merasa jumawa dan puas, melainkan terus berinovasi hingga akhirnya menciptakan konsep jenius room for the river.

REFERENSI
1. Berger, H.E.J, and Langemheen, H.V.D (2007) Rhine Floods and Low Flows, didalam Vasiliev, et al (2007) Extreme Hydrological Events: New Concepts for Security, NATO Series.
2. Brosur room for the river diunduh dari www.ruimtevoorderivier.nl.
3. Fokkens, Bart (2007) The Dutch Strategy for Safety and River Flood Prevention, didalam Vasiliev, et al (2007) Extreme Hydrological Events: New Concepts for Security, NATO Series.
4. http://en.wikipedia.org/wiki/Floods_in_the_Netherlands.
5. Jeroen Rijke , Sebastiaan van Herk , Chris Zevenbergen & Richard Ashley (2012) Room for the River: delivering integrated river basin management in the Netherlands, International Journal of River Basin Management, 10:4,369-382, DOI: 10.1080/15715124.2012.739173.
6. Pilarczyk, K.W. (2007) Flood Protection and Management in the Netherlands, didalam Vasiliev, et al (2007) Extreme Hydrological Events: New Concepts for Security, NATO Series.
7. Saeijs, H., 1991. Integrated water management: a new concept. From treating of symptoms towards a controlled ecosystem management in the Dutch Delta. Landscape and Urban Planning, 20 (1–3), 245–255.