395. Meneladani Belanda: Kolaborasi Berbuah Inovasi, Perwujudan Cinta dalam Udara

Penulis : Intan Nisfulaila
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Keterbatasan yang memancing kreatifitas. Kiranya itulah kata-kata yang mungkin pantas disematkan kepada Belanda, negara kecil dengan inovasi yang besar. Seandainya Belanda adalah perwujudan seorang manusia, maka pastilah manusia itu adalah seseorang yang berkepala dingin dan penuh dengan ide-ide untuk mencari solusi, bukan melarikan diri. Seseorang yang melihat masa depan sebagai sumber penggerak motivasi diri dan keinginan akan kesejahteraan dirinya di masa sekarang dan mendatang.

Manusia hidup, berinteraksi, bereksperimen, dan tak dapat dipungkiri menimbulkan dampak yang sebenarnya tak perlu terlalu membuat kening berkerut dan nyali menciut. Begitu juga halnya dengan sebuah negara seperti Belanda. Peningkatan jumlah penduduk di dalam wilayah yang terbatas menimbulkan masalah bagi lingkungan hidup seperti polusi udara.

Berkaitan dengan perhatian dunia terhadap perkembangan kondisi lingkungan dalam sebuah negara yang memungkinkan adanya dampak bagi ‘kondisi’ dunia, kebijakan dalam negara Belanda telah mencapai pada suatu pandangan sebagai suatu respon yang positif. Menyadari akan pentingnya transportasi dan lalu lintas bagi Belanda sebagai pintu gerbang menuju Eropa, Belanda menyatakan bahwa sistem transportasi dan lalu lintas hanya boleh mendukung target-target perekonomian sejauh target yang berkenaan dengan lingkungan dan tidak melampaui batas yang telah ditetapkan.

Dalam konteks tersebut, beberapa tindakan yang nyata telah dimulai dan diteliti. Salah satu tindakan nyata tersebut terkait dengan kemungkinan-kemungkinan telematika dalam bidang transportasi dan lalu lintas. Mencoba untuk mencapai suatu keseimbangan yang baru dan lebih baik antara kepentingan-kepentingan transportasi di satu sisi dan lingkungan di sisi yang lain merupakan tugas utama dan tugas yang tidak mudah bagi Kementerian Transportasi dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Berdasarkan laporan dari Program Inovasi Kualitas Udara Belanda pada tahun 2010, mobil-mobil yang digunakan sebenarnya telah dirancang dengan cukup baik sebagai kendaraan yang lebih sedikit dalam menghasilkan polusi. Namun, baru-baru ini, lalu lintas tetap menjadi sumber utama dari polusi. Dan, pengeluaran gas pengotor udara tersebut seharusnya menurun. Telah terjadi kesepakatan di antara negara-negara di Eropa bahwa konsentrasi partikel dalam atmosfir ( ) harus memenuhi standard pada Juni 2011 dan memenuhi standard kandungan nitrogen dioksida (N ) pada 1 Januari 2015.

Berdasarkan laporan itu pula, Belanda bermaksud untuk memenuhi tenggat waktu dan standard yang telah ditetapkan tersebut. Oleh karena itu, dibentuklah The National Cooperative Air Quality Programme (NSL). Bagian utama dari program tersebut adalah suatu paket kebijakan untuk meningkatkan kualitas udara di Belanda. Selain program NSL, pada tahun 2005, The Air Quality Programme (IPL) didirikan untuk mengejar cara-cara yang inovatif dalam suatu peningkatan kualitas udara di sepanjang jaringan jalan negara. Program ini diterapkan oleh Rijkswaterstaat (sebutan bagi Pusat Transportasi dan Navigasi) bersama dengan Kementerian Transportasi dan Lingkungan Hidup yang berperan sebagai ketua proyek yang telah ditetapkan.

Berdasarkan studi literatur dan kepustakaan secara internasional, IPL menyelidiki tindakan-tindakan yang dijanjikan berpotensi untuk meningkatkan kualitas udara. Tindakan-tindakan tersebut termasuk memodifikasi tepi jalan, membersihkan permukaan jalan, penyelimutan secara katalitis, memasang kanopi di jalur cepat dengan perawatan udara, vegetasi di tepi jalan, dan Pengaturan Lalu Lintas secara Dinamis (Dynamic Traffic Management).

Hal yang menarik dapat dilihat dari adanya kolaborasi antara pemerintah, para pelaku dunia industri, dan lembaga yang memusatkan kegiatannya pada ilmu pengetahuan (institusi pendidikan). Pengamatan ini dapat diketahui dari laporan Program Inovasi Kualitas Udara Belanda pada tahun 2010. Untuk pertama kalinya di Eropa, teori-teori tentang kualitas udara telah diletakkan melalui tindakan-tindakan yang melibatkan percobaan dalam skala besar. Disebutkan bahwa selama empat tahun dalam kegiatannya, Program Inovasi mengorganisasi suatu rangkaian kompetisi untuk menggugah kembali para pecinta ilmu pengetahuan dan membangunkan kreativitas-kreativitas yang tersedia dalam ‘pasar’.

Kolaborasi yang unik antara pemerintah, para pelaku dunia industri, pusat penelitian, dan lembaga ilmu pengetahuan telah membangkitkan informasi yang berharga dalam cara-cara untuk meningkatkan kualitas udara. Dilaporkan pula bahwa percobaan-percobaan praktek telah diawasi, dievaluasi, dan diterjemahkan yang secara internasional melibatkan para ilmuwan dan ahli. Hal ini mengindikasikan bahwa hasil-hasil yang diungkapkan telah diakui secara ilmiah dalam tingkat internasional.

Dari beberapa tindakan percobaan yang dilakukan, terdapat dua cara yang dinilai merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kualitas udara. Yang pertama adalah pembersihan jalan (road cleaning) serta penggunaan kanopi di sepanjang jalur cepat (motorway canopies) dan perawatan udara (air treatment).
1. Pembersihan jalan
Dari laporan hasil program inovasi, bahwa dengan menyemprot permukaan jalan dengan kalsium khlorida (calcium chloride) merupakan suatu cara yan efektif untuk mengurangi konsentrasi partikel yang ada di udara. Kesimpulan ini dipaparkan secara internasional oleh ahli kualitas udara yang didasarkan pada pengukuran data yang terakumulasi dalam suatu rangkaian percobaan di bawah pengawasan IPL.

image006
Gambar 1 Truk Penyemprot Beroperasi saat Road Cleaning (Sumber: laqm.defra.gov.uk)

2.Penggunaan kanopi di sepanjang jalur cepat dan perawatan udara
Dari laporan hasil program inovasi, menutup suatu jalur cepat dengan kanopi adalah suatu cara yang efektif untuk meningkatkan kualitas udara di sepanjang jalur tersebut. Hal ini dapat dikerjakan dengan mudah untuk menghasilkan kanopi yang bercahaya dan berbobot (light-weight canopies) yang secara struktur aman dan dapat menahan. Akan tetapi, dengan perencanaan yang demikian, tentunya membutuhkan biaya yang cukup besar, yaitu sekitar 15-70 juta Euro untuk tiap kilometer dengan jalur cepat berukuran . Kesimpulan ini dipaparkan secara internasional oleh ahli kualitas udara yang didasarkan pada pengukuran data yang terakumulasi dalam suatu rangkaian percobaan di bawah pengawasan IPL.

Program ini juga menguji berbagai metode perawatan udara yang berbeda, mencakup teknik dispersi secara aktif dan pasif, serta teknologi perawatan. Dalam konteks ini, aktif berarti bahwa energi yang dihasilkan dari luar diperlukan untuk menggerakkan kipas angin, sebagai contohnya. Sedangkan metode pasif digunakan untuk membuat kanopi yang ‘cerdas’ atau arsitektur terowongan, yang memperbolehkan angin (kendaraan) dan matahari untuk menipiskan polusi.

Hasil dalam laporan menyebutkan bahwa karena biaya dan jejak secara ekologis dari perawatan udara secara aktif, terdapat alasan-alasan yang sangat baik untuk memilih strategi dispersi yang pasif. Dengan biaya yang bervariasi dan tentunya efektif, memberikan kanopi dengan lubang-lubang bidik kamera atau suatu celah yang terbuka pada atapnya. Kegunaan dari konstruksi yang demikian adalah bahwa emisi yang terjadi lebih tinggi. Dalam banyak situasi, hal ini berarti bahwa standard kualitas udara terpenuhi.

image009
Gambar 2. Bron: Rikkelman Techniek (Sumber: laqm.defra.gov.uk)

Dengan demikian, dengan adanya kerjasama yang baik antara pemerintah, lembaga ilmu pengetahuan, dan para pelaku industri, maka masalah polusi udara dapat ditangani dengan baik.

Referensi:
Staf Innovate Programma Luchtkwalitet (IPL), 2010, Dutch Air Quality Innovation Programme concluded (Laporan), www.laqm.defra.gov.uk (Online), diakses tanggal 10 April 2015.
Staf Directorate-General for Public Works and Water Management, 1992, Dynamic Traffic Management in The Netherlans, www.publicaties.minienm.nl (Online), diakses tanggal 23 April 2015.