409. ‘Belanda, Negeri Sahabat Air Laut’

Penulis : Rudolf Santana
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Sejarah panjang inovasi dalam mengelola sumber daya air dan kawasan laut yang dilakukan Belanda secara berkesinambungan, membuat negeri ini kian disegani.

Sahabat, nyaris sepanjang sejarahnya, Negeri Belanda yang memiliki permukaan tanah nyaris serata pancake selalu mencoba bersekutu dengan air laut. Dari namanya saja – Netherland – negeri ini sudah langsung dihubungkan dengan kenyataan bahwa sekitar 20% wilayahnya berada di bawah permukaan laut.

Meskipun ada pula wilayah yang berlokasi di kawasan perbukitan, seperti Limburg dan Vaalserberg, 50% daratan lainnya, terletak kurang dari satu meter di atas permukaan laut. Bahkan ada pula wilayah yang berada pada kedalaman 6,76 meter di bawah permukaan laut, seperti Nieuwerkerk aan den Ijssel. Mendebarkan bukan?

image001
Peta kawasan Negeri Belanda.
(Sumber: http://www.mapsofworld.com/netherlands/ )

Air laut dan segala problematikanya memang menjadi isu utama bagi negeri ini sejak lama. Namun alih-alih mengutuki nasib, Belanda justru bersahabat dengan kondisi lingkungannya yang berkelimpahan air tersebut. Tengok saja beberapa inovasi Belanda di bidang air berikut ini.

Tanggul laut
Letak sebagian besar wilayah Belanda yang berada di bawah permukaan laut, membuat negeri ini di masa lalu bagaikan diteror oleh pasang air laut. Puncak dari kondisi yang tidak menguntungkan ini adalah terjadinya banjir besar pada tahun 1953. Badai yang menerjang dari Laut Utara menenggelamkan lebih dari 1800 penduduk dan menggenangi sebagian besar wilayah Zeeland, Brabant dan Belanda Selatan.

Tidak ada waktu untuk berduka bagi Belanda. Tiga minggu setelah bencana alam tersebut, komisi Delta dibentuk. Johan van Veen, salah satu anggota komisi tersebut, sebelumnya pernah mengusulkan agar Belanda membangun sistem pertahanan laut yang mampu melindungi negeri itu dari terjangan pasang air laut.
Mega proyek bernama Deltawerken atau Deltaworks tersebut lantas menjadi sistem pertahanan banjir sepanjang Laut Utara Belanda. 13 bendungan raksasa dibangun dalam kurun waktu 30 tahun. Rumitnya konstruksi bendungan ini layak membuatnya masuk menjadi salah satu dari 7 wonders of the modern world dan menjadi inspirasi bangsa-bangsa di dunia untuk studi teknologi manajemen air.
Hebatnya, Belanda tidak pernah berpuas diri dengan proyek ambisius yang mengagumkan ini. Kenaikan air laut akibat pemanasan global mengilhami Komisi Delta untuk terus berinovasi. Pada tahun 2008, komisi ini merencanakan proyek pengembangan atas Deltawerken dan membuatnya mampu melindungi wilayah Belanda dan penduduknya hingga tahun 2100. Rasanya kata ‘luar biasa’ pun tidak cukup untuk mewakili kekaguman siapapun atas komitmen dan kerja keras tersebut.

image004

image003

image002
Proyek deltawerken atau tanggul penahan air laut di Belanda. Inovatif dan berawawasan ke depan. (http://www.deltawerken.com/)

Kota di atas air
Di Belanda, manusia seakan diajak untuk bisa lebih menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Keterbatasan lahan di Belanda, tidak mengurungkan niat pemerintahnya untuk membangun kawasan perumahan bagi penduduknya.

Kemampuan Belanda dalam membendung laut dan mereklamasi sebagian wilayah airnya menjadi daratan, memungkinkan Belanda memiliki daratan baru yang bisa digunakan untuk membangun pemukiman penduduk. Proyek mengagumkan yang pernah dilakukan untuk pembangunan ini adalah pengeringan Danau Beemster pada tahun 1612. Tidak tanggung tanggung, untuk menyusutkan air danau hingga kering, diperlukan 43 kincir angin yang digunakan untuk memompa air keluar dari danau.

Kini, selain melakukan reklamasi untuk pembangunan pemukiman, Belanda juga memiliki beberapa kawasan perumahan yang dibangun di atas air. Sejumlah kawasan pemukiman yang bertengger di atas air diantaranya bisa dijumpai di Houten, IJburg, dan Groningen.

Steigereiland di kawasanIJburg Amsterdam, menjadi wilayah perumahan di atas air pertama dan terbesar. Lokasi ini seakan menjadi bukti nyata dimana Belanda mampu mewujudkan salah satu ‘mimpi liar’nya, yaitu kota di atas air. Proyek ersebut dirancang oleh Marlies Rohmer dan Floris Hund. Desainnya sendiri sudah mulai dikerjakan sejak tahun 2001. Namun perlu waktu sepuluh tahun untuk merampungkan proyek yang ‘mengapung’ di atas kawasan seluas 10.625 m² tersebut.

Hasilnya, berdirilah rumah-rumah dengan desain moderen serupa kontainer yang dibangun dengan kestabilan mengagumkan, yang disesuaikan dengan kedalaman air laut di bawahnya. Uniknya deretan bangunan di atas air tersebut justru menampilkan pemandangan yang inovatif sekaligus tidak meninggalkan ciri tradisional negeri tulip ini. Menarik dan inspiratif, bukan?

image005
Suasana kota di atas air di kawasan IJBUrg Amsterdam Belanda.
(Sketsa oleh Rudolf Santana, terinspirasi dari foto karya Luuk Kramer dan Marcel van der Burg.)

Laut dan pertanian
Sahabat, inovasi mutakhir pemanfaatan air laut di Belanda, tidak berhenti sampai di situ. Komponen lautan seperti air dan pasir tampaknya memang ditakdirkan untuk terus bercengkerama dengan daratan Belanda. Buktinya, campuran lumpur dan pasir usai banjir besar yang pernah terjadi puluhan tahun silam, justru menghasilkan tanah yang subur. Kombinasi unik ini diyakini membuat bunga tulip dan beragam bulb flower lainnya di Belanda tumbuh dengan subur dan memiliki keindahan yang tidak terbantahkan.

Inovasi terbaru dalam pemanfaatan air laut di Belanda juga dilakukan dalam bidang pertanian. Adalah Dr. Arjen de Vos yang memelopori penelitian mengenai dampak positif antara salinasi (percampuran kandungan garam di dalam tanah) dan irigasi air laut terhadap kualitas hasil pertanian. Penemuan ini seakan mematahkan mitos yang selama ini menghantui bahwa air asin merupakan faktor mematikan bagi sebagian tumbuhan.

“Kami tidak melihat salinasi sebagai sebuah masalah, melainkan sebuah peluang,” kata Dr.Arjen de Vos, tentang pemikiran revolusionernya, kepada situs The Guardian, Desember 2014 lalu. Ia mengajak semua pihak di Belanda untuk memikirkan ulang pendekatan terhadap sumber daya makanan, karena sepertiga wilayah tersebut sensitif terdampak salinasi.
De Vos lalu bekerja sama dengan Marc van Rijsselberghe , pendiri Salt Farm Texel. Keduanya lalu meneliti hubungan antara salinasi terhadap kualitas panen. Institusi ini merangkul sejumlah pihak termasuk lembaga pemerintah, dewan air, universitas, perusahaan terkait dan para petani.

Penelitian lalu dilakukan di pusat riset yang juga merupakan sebuah ladang. Sistem irigasi otomatis dipasang untuk mengalirkan air mengandung garam dengan konsentrasi tertentu, sembari memperbaiki salinitas tanah. Irigasi dikendalikan dengan sejumlah sensor, yang juga memonitor tingkat kelembaban dan salinitas tanah. Air irigasi diaplikasikan dengan sistem tetes. Ada sekitar 7 jenis konsentrasi garam yang diaplikasikan dalam sistem ini. Masing-masing dipasang di delapan area uji. Terdapat 56 lokasi dimana setiap titik luasnya 8×20 m, dengan tanah berpasir yang mengandung 4 % materi organik. Teknik irigasi ini sudah dicoba di beberapa negara termasuk di Pakistan dan Bangladesh. Van Rijsselberghe mengakui penelitiannya lebih menggunakan metode trial and error dan tidak seilmiah yang dituntut.

Mengonsumsi terlalu banyak garam memang membahayakan kesehatan kita. Namun sejumlah penemuan di lapangan, membuktikan bahwa tanaman stroberi yang dirangsang dengan garam dalam jumlah tertentu ternyata menghasilkan buah yang lebih manis. Umbi kentang yang dihasilkan dari lahan dengan sistem irigasi ini, juga aman dikonsumsi dan kelebihan kandungan garamnya, justru diserap oleh daun.

image006
Panen kentang hasil sistem irigasi dengan memanfaatkan air laut.
(Sumber foto: www.saltfarmtexel.com )

Inovasi-inovasi di atas masih terus berlanjut. Tapi bukankah sebuah penemuan memang seharusnya berkelanjutan dan terus berkembang sesuai dengan kondisi yang ada? Fleksibilitas dan tingkat adaptasi yang tinggi inilah yang membuat inovasi di Belanda tidak pernah mati dan selalu dinanti.

Pemandangan khas ladang tulip berlatar belakang padang datar dan kincir angin di Negeri Belanda. (Sketsa oleh Rudolf Santana.)

Sumber:

Hello Holland!, ‘Menguasai pasang surut: bulan, angin dan kami’.
Hello Holland!, ‘Luctor et Emergo, Perumahan di atas air’.

http://www.deltawerken.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda

https://kompetiblog2012.wordpress.com/2012/05/23/717-musuh-bebuyutan-yang-membuat-bangsa-belanda-kreatif/

http://www.dutchwatersector.com/our-history/

http://www.iamexpat.nl/expat-page/the-netherlands/the-dutch-and-water-in-the-netherlands

http://www.mapsofworld.com/netherlands/

http://www.saltfarmtexel.com/

http://www.theguardian.com/science/2014/oct/18/humble-potato-poised-to-launch-food-revolution

http://www10.aeccafe.com/blogs/arch-showcase/2011/03/26/water-houses-floating-houses-in-steigereiland-ijburg-amsterdam-netherlands-by-architectenbureau-marlies-rohmer/