423. Belanda dan Air

Penulis : Amaliya Sukma Ragil Pristiyanto
Tema : Water
=========================================================================================================================================================
Sejarah dari negara Belanda sangat lah bergantung dengan air. Luas area di negara ini adalah hasil dari laut, atau bisa disebut hasil dari dasar laut yang muncul di permukaan, atau dalam bahasa lain mereka menjajah pantai mereka sendiri dan membangun lahan tempat hunian. Rata-rata tinggi daratan tidaklah lebih tinggi dari tinggi permukaan air laut. Kondisi ini menjadikan Belanda jadi rawan akan terkena banjir. Oleh sebab itu, Belanda mempunyai sistem pengelolaan air yang sangat canggih dikarenakan Belanda memiliki tinggi tanah yang berada di bawah permukaan air laut tersebut. Daratan akan terkena banjir jika tidak ada pengairan yang kompleks, saluran air yang terhubung satu sama lain, dan penghalang ombak.

Desakan kebutuhan permukiman akibat peningkatan penduduk di sekitar tahun 1000-an menjadikan wilayah permukiman harus semakin diperlebar dan tibalah di titik kawasan yang rawan terkena rob. Pada tahun 1250 pembangunan untuk mengatasi rob tersebut dimulai sebagai cikal bakal kejeniusan Belanda dalam mengelola sistem drainase.

Teknologi yang dipakai oleh Belanda untuk mengatasi banjir yaitu dengan memanfaatkan kincir angin dan bendungan. Kincir angin di Belanda sendiri memiliki tiga jenis menurut fungsinya. Ketiga fungsi incir tersebut yaitu, kincir angin pengering air, kincir angin penggiling jagung, dan kincir angin keperluan industri. Dengan teknologi kincir angin tersebut, Belanda berhasil mengeringkan lautan dan menjadikannya lahan untuk pemukiman. Tetapi, dengan kata lain resiko yang diambil oleh Belanda adalah dengan level daratan yang lebih rendah dari permukaan air laut. Untuk itu dibangunlah bendungan yang menahan air laut masuk ke daratan.

Sistem tata kelola air Belanda dalam mengatasi banjir bisa dengan banyak cara, Belanda menggunakan jalanan yang terusun oleh paving yang memnyai sela-sela untuk jalur meresapnya air ke tanah. Ini juga membuat Belanda tidak kehilanga daerag resapan air dikarenakan pembangunan kota. Belanda juga mengembangkan sistem terowongan bawah tanah untuk mengalirkan air. Dengan terowongan-terowongan yang sudah dibangun sejak awal abad 19, kota-kota Belanda menjadi terhubung satu sama lain. Air serapan tersebut akan dialirkan ke sungai-sungai, kanal, dan juga terowongan air bawah tanah.

Kanal-kanal di Belanda menggunakan teknologi baru yang tidak hanya bisa menampung aliran air, juga bisa mendukung ekosistem alam di kanal tersebut. Kanal tersebut menopang juga tempat untuk bersarang kura-kura, dan area disekitar kanal baru yang dibuat dibangun kembali dengan penanaman berbagai macam rumput dan pohon-pohon. Beberapa area resapan juga ditambahkan dengan kolam musiman, yang juga membantu habitat alam disekitarnya.

Teknologi yang dikembangkan oleh Belanda tidak hanya sebatas dalam penanggulangan banjir, melainkan juga pengembangan dibidang air minum, pengelolaan air limbah, dan lain sebagainya. Inovasi Belanda dalam pengembangan teknologi pengelolaan air yang mengembangkan dan menyediakan air minum ke penjuru daerah dengan teknologi membran, penjernihan air melalui bakteri anaerob (UASB), membran bioreaktor (MBR- small scale & high quality), dan Teknologi Anammox. Suplai air dan sanitasi di Belanda disediakan dalam kualitas tinggi dan tentunya harga yang terjangkau di setiap kalangan masyarakat. Tingkat ketidakmerataan pembagian air di Belanda menjadi yang salah satu terendah di dunia dengan hanya 6%.

Dukungan kelembagaan atau institusi untuk masalah pengembangan air ini sangatlah kuat. Berbagai macam institusi besar bertanggung jawab untuk menyediakan air dan pelayanan sanitasi dengan rincian 10 perusahaan air regional menangani air minum, 431 kota madya bertanggung jawab dalam perawatan terowongan air bawah tanah, dan 27 water boards menangani limbah air. Dua kementerian juga berbagi tanggung jawab untuk membuat kebijakan pada bidang tersebut. Kementerian transportasi, pekerjaan umum dan manajemen air berwenang dalam manajemen sumber air. Direktorat Jendral Pekerjaan umum dan manajemen air berwenang mengurusi kebijakan sumber air dan mengatur air permukaan. Kementerian Perumahan , Tata Ruang dan Lingkungan Hidup ( disebut VROM , menggunakan singkatan Belanda nya ) bertanggung jawab atas penyediaan air dan mengatur kesehatan masyarakat.

Tanggung jawab disektor air minum dan sanitasi Belanda tersebar disejumlah lembaga pada berbagai tingkatan. Pada tingkat nasional dua, kementerian berbagi tanggung jawab disektor ini. Institusi riset juga medukung penelitian untuk lebih mengembangkan teknologi dalam sektor ini. Kerjasam yang dilakuka semata-mata untuk kepentingan publik, dan dengan terbaginya wewenang ini dengan jelas dapat meminimalisir fraksi-fraksi dan konflik.

Referensi :
Living with water : 49 water projects in the Netherlands within the context of
LIFE Environment (1992-2006). Senter Novem, VROM.

http://www.hollandtrade.com/sector-information/water/

http://www.dutchwatersector.com/news-events/news/6922-netherlands-in-top-3-of-eu-members-that-fully-comply-with-treatment-of-urban-waste-water.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Water_supply_and_sanitation_in_the_Netherlands