436. Dimana Ada Kepedulian (Berinovasi), di Situ Ada Jalan

Penulis : Nuri Sadida
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

“Lebih baik menyalakan lilin, daripada merutuki kegelapan…” (Adlai Stevenson, 1962)

Ungkapan ini sepertinya cukup pas untuk menggambarkan hubungan Belanda dengan air. Sudah banyak orang yang tahu, bahwa Belanda “a Country of Water” adalah Negara yang berhasil dalam tata kelola pengairan dan banjir. Namun tidak banyak yang tahu, bahwa Belanda ‘terpaksa’ berhasil dalam manajemen pengairan.

Bagaimana tidak terpaksa? Dua pertiga kondisi tanah Belanda rawan banjir, karena terletak di bawah permukaan laut. Mereka berjibaku dalam usaha bertahan hidup dengan situasi ini selama lebih dari 1000 tahun. Inovasi demi inovasi dihasilkan dari ketekunan riset mereka, menghasilkan beberapa solusi pengairan sebut saja pembangunan bendungan Ijsselmeer, reklamasi yang menghasilkan daratan baru seperti provinsi Flevoland, dan tentu saja proyek delta (delta works) yang tersohor dan sering disebut-sebut pemerintah dan warga Jakarta yang saban tahun kebanjiran :)
Pengalaman terpaksa berdamai dengan medan yang keras itu membentuk mental warga Belanda yang tidak mudah menyerah dan berusaha mencari inovasi di berbagai hal. Kalau kita lihat Belanda sebagai seorang manusia, maka Belanda adalah orang yang ‘gila’! Gila karena dengan keterbatasannya, Belanda terbilang sukses mengelola berbagai sumber daya untuk asupan energinya : air, angin, api (panas), dan tanah.

Secara singkat keberhasilan Belanda mengelola keempat elemen tersebut bisa kita lihat misalnya pada ribuan kincir angin yang dibangun untuk mempercepat sistem penyerapan air tanah (inovasi elemen angin); pengelolaan panas dari rumah kaca yang ditampung ke dalam aquifer yang terletak di bawah tanah, dan panas ini kemudian disalurkan sebagai energi kebutuhan rumah tangga (inovasi pengelolaan elemen panas); dan tentu saja pada elemen air yang tentu saja kita semua sudah tahu.

Lalu bagaimana dengan inovasi pada elemen tanah? Jika dilihat melalui kacamata manajemen prioritas SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat), maka angin adalah kekuatan (strength) sebab memang iklimnya yang berangin, air adalah hambatan (threat), panas adalah kelemahan (weakness) sebab memang panas bukan iklim Belanda, lalu tanah adalah peluang (opportunity). Disebut peluang karena tanah Belanda sendiri luasnya hanya 41.528 km2 (serupa kurang lebihnya dengan luas Jawa Barat), namun kandungan tanah Belanda termasuk kategori tanah subur.

Dengan luas tanah yang tidak seberapa, Belanda menjadi Negara pengekspor hasil pertanian terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Pada 2007, total ekspor pertanian yang bersumber dari produk susu, daging, sayur, bunga, sejumlah 58 miliar euro per tahun. Untuk berhasil mendapat pencapaian seperti itu, tidak cukup dengan hanya mengandalkan tanah subur.

image002
Gambar dari sini

Lalu apa kuncinya?

Pertama, riset. Pemerintah Belanda sangat mendukung riset. Pemerintah bahkan berani untuk menaruh investasi pada bidang ini hingga 0,06% dari total GDP. Untuk pengelolaan air saja tidak berhenti pada usaha mencegah banjir. Namun hingga penelitian air tanah untuk memecahkan masalah kebutuhan air minum yang cocok di dataran rendah pesisir.

Pada sektor pertanian, pemerintah Belanda bekerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian yang berpengalaman selama puluhan tahun, dan menghasilkan Inovasi sektor alternatif pertanian modern. Kegiatan modern terlihat dari pertanian-pertanian yang menciptakan varietas berbeda; seluruh siklus budidaya dari pembibitan sampai panen dilakukan dalam lingkungan yang serba otomatis; penggunaan mesin dan robot untuk proses pembibitan hingga lebih efisien sumber daya.

Pemerintah Belanda juga melakukan beberapa proyek pada manajemen nutrisi yang salah satunya disebut Proyek Nitrat, sebuah pendekatan untuk meningkatkan efisiensi unsur hara pada tanah. Proyek-proyek ini dikembangkan pada tingkat nasional dan regional.

Selain riset, dukungan juga berasal dari regulasi pemerintah serta kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang gencar. Regulasi yang sangat ramah lingkungan pun tidak baru-baru ini saja. Dapat dilihat pada tahun 1984, pemerintah Belanda membatasi penggunaan mineral dan pupuk kandang dalam rangka mengurangi emisi dari mineral dan amonia. Lalu regulasi tentang penggunaan energi di rumah. Pada tahun 1919-an, dibentuk perjanjian antara pemerintah dan sektor hortikultura untuk meningkatkan efisiensi pengunaan energi sebesar 50% pada tahun 2000. Perjanjian itu berakibat merangsang petani hemat energi. Lalu ada juga kebijakan penggunaan pestisida. Pengaturan penggunaan pestisida juga dibatasi, selain itu juga dikembangkan tanaman yang lebih tahan hama, serta mengoptimalkan rumah kaca untuk mencegah emisi pestisida dan mineral ke udara terbuka maupun ke tanah dan permukaan air.

Kerjasama juga diwujudkan antara perusahaan swasta dengan pemerintah yang pada tahun 2001 merilis kebijakan ‘CSR, perspektif dari pemerintah” dimana perusahaan diharuskan terlibat pro aktif dalam pembangunan dan pemeliharaan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Pada tahun 2006, penelitian menunjukkan bahwa di antara perusahaan terbesar dunia, terdapat 24 perusahaan Belanda yang memiliki performa terbaik, dan empat di antaranya adalah pemimpin sektor dalam Dow Jones Sustainablity Index. Ini artinya perusahaan-perusahaan tersebut komit dalam CSR dan menerapkan praktik yang transparan dan terbuka.

Utamanya adalah mental

Kita bisa terpukau-pukau “ooh”, “waaah” menyaksikan keberhasilan Belanda mengelola sumber daya alam melalui riset dan kebijakan pemerintah yang supportif dalam pengembangan sumber daya. Tapi semua itu kembali kepada mental masyarakat.

Akar dari keberhasilan riset adalah kepedulian.

Kepedulian melahirkan semangat bekerja keras, keinginan untuk berdikari, dan menciptakan inovasi-inovasi untuk generasi penerus. Kepedulian pemerintah ini ditangkap oleh masyarakat, dan hal tersebut menular.

Banyak petani di Belanda sangat antusias mengelola sendiri pertanian mereka dengan inovasi dan kreativitas. Mereka melakukan penelitian dan eksperimen sendiri untuk meningkatkan produktivitas. Hal itu terlihat dalam rancangan rekayasa holistik di beberapa pertanian di Belanda. Sebagai contoh, terlihat pada salah satu pertanian sebuah inovasi propagasi tanaman selada dengan menggunakan formula pencahayaan LED, yang berguna untuk meningkatkan tingkat produksi dan kualitas selada lebih konsisten sepanjang musim yang berbeda.

Di pertanian lain, ada juga inovasi yang meneliti suhu air yang optimal untuk pertanian turbot yang dapat mencegah perkembangbiakan bakteri. Mereka juga mengembangkan perangkat lunak sendiri untuk memonitor dan membangun sistem peringatan sendiri.

Hal terakhir inilah yang membantu kita menjawab pertanyaan kita sendiri, “Mengapa Indonesia (atau mungkin minimal Jakarta sebagai ibukota), tidak bisa mencontoh keberhasilan Belanda?”. Kenapa kita terus-terusan banjir? Kenapa jalanan kita rusak, dan seterusnya? Bisa jadi bukan masalah riset yang tidak (atau belum) serius. Mungkin memang kita belum memiliki dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan kita. Siapa atau apa aset kita? Harusnya kita kenali dulu siapa musuh kita, seperti Belanda memilih untuk bersahabat dengan Air. Sehingga alih-alih mengutuki semua kerusakan ini, kenapa kita tidak mulai peduli dan memulai berinovasi?

http://www.groundwatergovernance.org/fileadmin/user_upload/groundwatergovernance/docs/Hague/Readings/Groundwater_De_Vries.pdf

https://www.facebook.com/notes/ministry-of-national-development/high-tech-farming-insights-from-food-security-trip-to-the-netherlands-and-denmar/875347099160014

http://www.un.org/esa/agenda21/natlinfo/countr/nether/agriculture.pdf

http://news.detik.com/read/2013/11/17/173444/2415273/103/2/pada-belanda-kita-belajar-tani-dan-pangan

https://www.rijkswaterstaat.nl/en/images/Water%20Management%20in%20the%20Netherlands_tcm224-303503.pdf

http://www.rvo.nl/sites/default/files/2014/12/IA%20Special%20Water%20UK__may%202014.pdf

http://internasional.kompas.com/read/2010/08/30/05303243/Pertanian.Hidupi.Belanda.

http://veganrivercruises.com/Our-next-reisenzen-123/Vegan_Easter_Voyage/9