450. PERSAHABATAN ITU LEBIH INDAH

Penulis : Nuning Widya H.
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Saat cukup ia menjadi kawan. Saat berlebih ia menjadi lawan. Sejatinya, kehidupan ini tak dapat terpisahkan darinya. Ia adalah pengisi dalam setiap nafas kehidupan. Banyak menjadikan sifatnya sebagai filosofi dalam menapaki kehidupan. Itulah air.

image002
Sumber: http://www.euclidlibrary.org/images/tickle-your-brain/water-wallpapers-12.jpg?sfvrsn=0

Terkadang tenang, terkadang bergelombang. Selalu mengikuti bentuk wadah, apapun itu. Banyak mengira telah mampu membendung pergerakannya. Meski sebenarnya tak ada yang mampu membendungnya dengan sempurna. Saat terbendung alirannya memang nampak berhenti. Padahal ia tetap bergerak. Sebagian meresap ke bumi dan sebagian yang lain bergerak membentuk awan. Begitu seterusnya menjadi siklus air yang tiada pernah terhenti.

Akan lebih baik jika selamanya bisa berkawan. Berarti bahwa, meniadakan lawan. Untuk bisa berkawan harus bisa saling memahami satu sama lain. Saling berkompromi untuk menjalani kehidupan bersama. Itu, adalah hal yang terlalu mudah untuk diucapkan. Seringkali lebih menonjolkan keinginan masing-masing, menjadi ajang untuk saling menaklukkan. Bagaimana manusia dapat menakklukkan alam (air) atau sebaliknya, bagaimana alam (air) menakklukkan manusia? Kata penakklukkan sering digunakan untuk menunjukkan penguasaan atas sesuatu. Padahal persahabatan itu jauh lebih indah daripada penakklukkan.

image004
Sumber: http://rahasiaair.blogspot.com/2011/12/bersahabat-dengan-air_1902.html

Manusia adalah bagian dari alam. Sehingga, kehidupan manusia mutlak tidak dapat dipisahkan dari alam. Hanya sering terjadi bahwa kondisi alam yang telah ada kurang sesuai dengan keinginan manusia. Sehingga, manusia berusaha mengkondisikan alam menurut kehendaknya. Alam bisa menerima bisa juga menolak. Sebagaimana air yang juga bagian dari alam, memiliki pilihan yang sama.

Belanda, atau biasa dikenal Netherland sendiri berasal dari kata “Neder” yang berarti rendah, dan kata “land” yang berarti dataran. Sehingga Netherland adalah negeri dataran rendah. Sepertiga bagian dari Negara Belanda sejatinya berupa dataran yang berada di di bawah permukaan laut. Selama ribuan tahun Belanda berjuang untuk menakklukkan air laut sehingga dataran yang berada di bawah permukaan laut dapat kering dan dihuni manusia. Mulai dari membuat polder dan tanggul-tanggul (dikjen) untuk membendung air. Sampai memompa air keluar dari daratan dengan memanfaatkan kincir angin. Intinya Belanda sangat intens terhadap manajemen pengairan dan drainase untuk menjaga agar daratan tetap kering.

Rotterdam adalah salah satu kota di Belanda dengan titik terendah mencapai 6.76 meter dibawah permukaan air laut, dan merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di dunia. Oleh karena itu, hal ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah Belanda. Berbagai inovasi dilakukan untuk menjaga agar kota Rotterdam tidak tenggelam. Seperti pembuatan Prins Alexander Polder di timur laut Rotterdam, pembuatan Maeslantkering, yaitunya dua gerbang besar yang bisa dibuka tutup untuk melindungi dari banjir dan kenaikan air laut.

Perubahan iklim (Global Warming) sangat berpotensi untuk terus menaikkan permukaan air laut. Sehingga perlu adanya inovasi lebih dari sekedar penahan air dan drainase. Bersahabat akan lebih baik daripada saling menakklukkan. Salah satu solusi yang dicetuskan oleh Koen Olthuis, seorang arsitek Belanda adalah melalui pembuatan bangunan terapung. Ia berpendapat bahwa di atas air dapat dibuat bangunan dan kawasan yang bisa dipindahkan. Akan terdapat rumah-rumah, kantor-kantor, taman, tempat bersantai atau apa saja hingga bisa berlayar di dalam kota. Secara sederhana, ketika tidak melakukan apapun maka itulah yang terbaik bagi alam. Jadi apa pun yang dibangun di suatu lingkungan akan memiliki dampak. Dengan mencoba membuat bangunan apung, solusi apung, akan memperkecil dampak kerusakan lingkungan. Koen Olthuis menyebutnya “bangunan tanpa cacat”. Terdapat dua poin penting, yaitu: tidak ada jejak karbon dan tidak ada jejak fisik. Untuk poin pertama, Koen Olthuis membangun bangunan dengan meminimalisir emisi CO2 atau bahkan netral. Hal ini dapat dilakukan dengan memasang panel surya mengapung di sekelilingnya, sehingga hemat energi. Poin yang kedua adalah dengan tidak meninggalkan jejak fisik, jadi jika telah memakai bangunan selama 50 tahun atau 100 tahun di atas sedikit air, kemudian bangunan tersebut dipindahkan, maka tidak akan ada dampak pada lokasi tersebut.
Rotterdam

image006
Paviliun terapung di Rotterdam
Sumber: http://www.waterstudio.nl/

image008
Penjara terapung di Rotterdam
Sumber: http://www.waterstudio.nl/

Amsterdam
image010
Sumber: http://www.waterstudio.nl/

Ini adalah visual Belanda di masa depan
image011
Sumber: http://www.waterstudio.nl/

Koen Olthuis bercita-cita bukan hanya membuat rumah-rumah terapung tetapi juga ada lahan bertani terapung. Sehingga kedepan Belanda dapat menjadi negeri terapung. Dengan kata lain, Belanda bisa hidup bersama, bersahabat dengan air.

REFERENSI

http://inhabitat.com/interview-koen-olthius-of-waterstudionl/

http://www.waterstudio.nl/projects/59

http://www.suprememastertv.com/ina/featured-video/?wr_id=791&page=2&phoneoffset=0&url=link3_0&goto_url=m

http://www.euclidlibrary.org/images/tickle-your-brain/water-wallpapers-12.jpg?sfvrsn=0