457. Di Belanda, Bunga Bukan Hanya Simbol Belaka.

Penulis : Ririe Rachmania
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Bunga saat ini memiliki nilai fungsi yang lebih selain sebagai estetika, namun juga bagian dari cara berkomunikasi dalam menyampaikan emosi dan keindahan. Bunga tumbuh menjadi suatu simbol yang bebas dimaknai dan memiliki peminat yang besar di dunia global. Hal ini dilihat oleh Belanda sebagai sebuah peluang. Tidak hanya menyimbolkan negaranya dengan bunga tulip, Belanda melakukan lebih dari itu dengan menemukan berbagai inovasi dan perpaduan teknologi terhadap bidang florikultura sebagai bisnis yang menjanjikan.

image002
Taman bunga yang terletak di Lisse, Belanda, dan merupakan taman bunga terbesar di dunia Taman ini pembuktian bahwa Belanda adalah negara eksportir terbesar di dunia. (Source: www.holland.com)

Industri florikultura saat ini memiliki pasar yang cukup besar di dunia internasional. Belanda merupakan negara yang mendominasi 50% ekspor dalam industri bunga/ florikultura, dan tentunya mendominasi 80% dalam penyediaan bunga tulip di kancah internasional. Berbicara bunga dan Belanda, tentunya tidak hanya berbicara mengenai tulip, tapi lebih menarik mengetahui inovasi-inovasi yang dilakukan Belanda untuk membuat mereka memimpin industri ini. Bunga yang mungkin hanya dianggap sebagai hiasan estetika, justru didalami dengan serius oleh Belanda dan menjadi industri andalan negara tersebut yang sangat menjanjikan.

Setiap Pelaku Industri, Wajib Berinovasi.
Belanda mendobrak keterbatasan untuk mendapatkan peluang di industri ini. Bagaimana mungkin sebuah negara dengan sinar matahari yang sedikit dan tanah yang kurang cocok untuk bercocok-tanam, justru menjadi negara yang hampir menguasai industri florikultura global. Inovasi demi inovasi terus dilakukan oleh Belanda agar terus memimpin industri ini dengan saling bekerja sama dengan seluruh pelaku industri ini secara koperatif dan intensif. Mereka tidak hanya mengembangkan teknologi dalam produksi saja agar menghasilkan berbagai macam produk, namun juga melakukan inovasi dalam pemasaran produk secara global. Inovasi Belanda telah dilakukan di setiap pelaku di industri florikultura ini, dari produsen bibit, para petani, hingga pemasar produk.

Untuk mendapatkan varietas tanaman terbaru, produsen bibit harus melakukan berbagai macam penelitian yang akan menghabiskan waktu puluhan tahun. Penelitian menjadi inti dari industri florikultura dengan menggandeng institusi-institusi terbaik seperti Wageningen University and Research Center. Tahun 2006, pemerintah Belanda memutuskan untuk meluncurkan ‘Green Genetics’ yaitu sebuah institusi yang fokus pada genetika, patologi, dan fisiologi tanaman. Tidak hanya itu, pemerintah juga memperhatikan hak cipta atas penemuan varietas tanaman baru sebagai cara untuk menghargai karya intelektual para ilmuwan. Dan mereka para peneliti, akan mendapatkan royalti dari penanam yang menggunakan bibit mereka. Dengan begitu, industri ini akan menguntungkan semua pihak.

image004
Teknologi rumah kaca yang digunakan para petani belanda untuk menanam bunga tulip (Source: www.tripadvisor.com)

Inovasi lain juga dilakukan oleh para petani yaitu dengan adanya teknologi pertanian rumah kaca yang bisa menghemat energi. Belanda memiliki 10.000 hektar pertanian rumah kaca atau sekitar setengah total lahan pertaniannya. Sehingga hal tersebut memudahkan para petaninya agar memiliki kuasa untuk menentukan suhu, kebutuhan air, hingga pasokan karbon dioksida yang akan menjamin panen florikultura sepanjang waktu. Teknologi tersebut juga memanfaatkan energi panas bumi untuk listrik, pemanasan rumah kaca, hingga produksi CO2, yang dikembangkan sejak lima tahun lalu. Pemerintah dan para petani bekerja sama untuk membuat program Greenhouse As Energy Source initiative, dimana program tersebut bertujuan untuk mengembangkan teknologi rumah kaca agar memproduksi energi daripada mengonsumsinya seperti penggunaan sinar dan panas matahari secara efisien. Selain inovasi dilakukan oleh para produsen bibit dan petani, inovasi juga dilakukan oleh pemasar di industri florikultura ini.

Mempertahankan Posisi Utama
Belanda melihat bahwa industri florikultura akan terus berkembang sesuai dengan permintaan pasar. Belanda merupakan jantung utama dari sektor florikultura global karena memiliki jaringan perusahaan yang berkualitas dan profesional, dari perusahaan produsen bibit, para petani, hingga para penjual dan perusahaan ekspor, yang mewakili berbagai aspek dari bisnis tersebut. Sejak 1911, penjualan bunga harus melalui pelelangan agar para petani mengetahui kemungkinan terbaik untuk posisi produk mereka di pasar. Salah satu badan lelang bunga terbaik di dunia adalah FloraHolland yang dimiliki oleh Belanda dan mereka memiliki hampir 6000 anggota, sebagian besar merupakan para petani di Belanda. Badan lelang inilah yang menentukan harga bunga di dunia ditentukan setiap harinya. Menariknya, pelelangan ini pun juga bisa disaksikan oleh warga Belanda di sana.

image006
Suasana Pelelangan Bunga di FloraHolland. Salah satu pusatnya adalah di Aalsmer yang juga bisa dilihat langsung oleh pengunjung. (Source: www.hollandtrade.com)

Saat ini, kebanyakan bunga secara fisik harus melewati rumah lelang terlebih dahulu sesuai dengan rute internasional yang dilalui, dari si petani hingga sampai ke tangan pelanggan. Bunga tersebut harus melalui serangkaian aktivitas quality control. Belanda ingin melakukan inovasi dengan membuat sebuah konsep baru agar pemasaran bunga secara internasional ini bisa lebih efisien. Para pelaku industri berusaha mencari mekanisme terbaik untuk melakukan kontrol dan kordinasi terhadap industri florikultura, sehingga bisa mememenuhi permintaan pasar yang sangat besar. Dan tentunya, hal ini dimaksudkan untuk tetap mempertahankan posisi Belanda di industri florikultura.

Untuk melihat hal tersebut, pemerintah Belanda bekerja sama dengan para peneliti di Wageningen University, membuat proyek 4 tahun yang bernama DAVINC3I (Dutch Agricultural Virtualized International Network with Coordination, Consolidation, Collaboration and Information availability). Proyek penelitian ini dimulai pada tahun 2011 masih berjalan hingga tahun ini 2015, dan memiliki tujuan untuk memperkuat posisi Belanda di sektor florikultura global, dengan cara membuat pelelangan virtual yang akan membawa cara baru dalam konsep kordinasi, konsolidasi, dan kolaborasi di jaringan internasional dan juga memunculkan kemungkinan baru untuk mendapatkan informasi mengenai produk secara langsung, sehingga memudahkan pelelangan harga pada jaringan bisnis florikultural. Hal ini tentunya tidak mudah karena system pelelangan yang sudah tersusun dengan baik sejak lama. Namun, Belanda ingin membuat proses ini menjadi virtual agar pengiriman bisa berlangsung secara efisien meskipun sebelumnya teknologi pengiriman barang di sana sudah canggih. Mereka mampu mengirim bunga yang dipetik sampai ke Amerika di hari yang sama dan kondisi bunga yang masih sama.

Dari sini, saya mengetahui bahwa Belanda dengan sangat baik, bersinergi melakukan inovasi di setiap aspek untuk menjadi yang terbaik di bidang florikultura yang mungkin terlihat remeh dan tidak signifikan di dunia global. Namun justru mereka mampu mengubah dan menambah nilai fungsi dari sebuah tanaman yang tumbuh menjadi bunga yang indah di tanah mereka, yang konon katanya tidak cocok untuk ditanami. Pemerintah Belanda mengetahui bahwa inovasi untuk menjadi yang terbaik tidak hanya sekedar penemuan terbaru belaka, namun juga membutuhkan sinergi bersama semua pelaku industri yang dilakukan secara berkelanjutan. Inovasi Belanda di bidang florikultura bukan hanya tulip, kan?

Sumber:

http://www.dutchagrofood.com/english/horticulture/sectors/floriculture/

http://www.agropress.org.rs/files/holland_floriculture.pdf

http://www.hollandtrade.com/sector-information/horticulture/?bstnum=4928

https://www.floraholland.com/en

http://travel.kompas.com/read/2015/04/17/154500027/Wisata.Belanda.Semangat.Belajar.dari.Keterbatasan