467. Iklim yang Lumpuh di Negeri Seribu Tanggul

Penulis : Ela Nuryani
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Sekitar abad 17 ketika era industri yang dimulai di Britania Raya menyebabkan perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial , ekonomi dan budaya di dunia. Hal ini turut juga menyebabkan pecahnya isu global warming di sekitar abad ke 21. Iklim menjadi tidak stabil, mencemari lingkungan, menggagalkan panen pertanian, dan menyebabkan peningkatan volume air laut setiap tahun. Sebagian besar penduduk bumi mungkin berpasrah dan berpikir tidak mungkin untuk bisa mengubah iklim. Akan tetapi keputusasaan itu terpatahkan oleh keuletan warga Negara Belanda yang sebagian besar daratannya merupakan laut yang diberi tanggul (dam), karena itu banyak daerah di Belanda menggunakan kata ‘dam’ (Rotterdam, Amsterdam, dll).

image001
Gambar 1. Kerusakan lahan akibat perubahan iklim (sumber : www.sp.beritasatu.com)

Belanda yang hanya memiliki luas 40.922 kilometer persegi memang tidak bisa merubah iklim tetapi mereka mampu beradaptasi dan memanipulasi iklim untuk kelangsungan hidup. Salah satu penyebab perubahan iklim yang berpengaruh sangat besar bagi negara ini yaitu ketinggian air laut yang terus meningkat mengingat negara yang juga memiliki nama Nederland yang artinya letak tanah yang rendah ini sebagian besar daratannya di bawah permukaan laut. Belanda menerapkan inovasi di beberapa bidang kehidupan untuk mengendalikan perubahan iklim diantaranya yang paling terkenal yaitu pemanfaatan angin.

Negeri yang memiliki daerah tertinggi gunung Vaalserburg dengan ketinggian kurang lebih 321 meter ini memanfaatkan angin untuk menggerakan kincir. Kincir angin di negara yang pernah dilanda banjir besar pada 1995 ini memiliki banyak fungsi, diantaranya untuk mendorong air ke lautan agar terbentuk daratan baru yang lebih luas (Polder) dimana daerah terendahnya berada 6,1 meter dibawah laut. Daerah ini dapat ditempati berkat adanya tanggul dan pompa dengan memanfaatkan kincir angin untuk mengeringkan lahan. Kincir angin yang pertama kali digunakan Belanda pada abad ke-13 ini juga menjadi ikon negara dan daya tarik wisata bagi turis mancanegara.

image002
Gambar 2. Kincir angin tradisional (sumber : www. shutterstock.com)

Selain fungsi konvensionalnya, pemanfaatan kincir angin di negeri orange ini mengalami beberapa peningkatan yaitu untuk pembangkit listrik tenaga angin. Belanda mengalihkan kebergantungan ekonomi pada minyak dan gas ke energi terbarukan yang menggunakan angin dan transportasi berkelanjutan.

Dengan sejarah yang bekerja di semua aspek teknologi angin, dari pengembangan turbin, komponen turbin, dan pengujian untuk penciptaan tenaga angin lepas pantai dan dukungan logistik yang diperlukan untuk efisiensi dan kehandalan, Belanda menawarkan keahlian yang luas di bidang energi angin. Organisasi Belanda dan AS berkolaborasi pada penelitian dan pengujian di bidang energi angin, Energy Research Center of the Netherlands (ECN) bekerja dengan National Renewable Energy Lab Amerika Serikat dan Sandia National Lab. Kerjasama ini mengembangkan tenaga angin menjadi sumber energi yang efisien, handal, dan dapat di akses.

image003
Gambar 3. Kincir angin pembangkit listrik (sumber : www.offshorewind.biz)

Ladang kincir angin 30 megawatt di pulau Aruba Belanda memanfaatkan angin untuk memenuhi 18% dari kebutuhan energi pulau. Keahlian unik Belanda dalam menghadapi tantangan pulau-pulau kecil sangat berharga untuk perkembangan masa depan kepulauan Virgin, Samoa dan Hawaii. Salah satu perusahan yang mengembangkan kincir angin yaitu Aeolus Associated membuka ladang kincir angin di Afrika dan Indonesia.

Sedangkan di Kota Denmark, negara yang mampu memanipulasi iklim untuk lahan pertanian ini memiliki banyak kincir angin yang digunakan sebagai sumber tenaga listrik ekonomis dan ramah lingkungan. Denmark mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin (PLTA) terbesar di dunia. Negara itu membangun 80 turbin kincir dengan tinggi sekitar 110 meter di garis 20 km dari pantai Denmark. Kincir ini bisa menghasilkan listrik sebesar 160 MW dengan kipas berukuran 30 meter.

Inovasi lainnya yang dilakukan negara dengan kebun bunga terbesar dan terindah di dunia yang terletak di Kota Keukenhof ini yaitu dalam pengurangan emisi gas rumah kaca yang ditandatangi di Kyoto pada 1997. Untuk menjaga kebersihan kualitas udara sesuai standar Eropa, agar kota layak huni, Belanda melakukan beberepa inovasi untuk mengendalikan perubahan iklim yang tidak beraturan.

Pemerintah Belanda menargetkan pada 2050, emisi karbon dioksida dapat dipotong setengahnya dan 40% listrik menggunakan sumber-sumber energi berkelanjutan yang ramah lingkungan seperti tenaga angin dan biomassa. Negara Belanda percaya bahwa solusi perubahan iklim dapat diimplementasikan diseluruh dunia. Negara yang memiliki bandara udara terbesar di Eropa ini berkomitmen membantu negara-negara lain menyesuaikan usahanya.

Salah satu proyek pengurangan emisi karbon dioksida yang sukses diterapkan yaitu Rotterdam climate initiative. Proyek ini bercita-cita mengurangi 50% emisi di Rotterdam yang merupakan pelabuhan terbesar di dunia dan pintu gerbang utama untuk memasuki Eropa.
Dalam pengelolaaan pengurangan emisi, Belanda bekerjasama dengan hampir 40 mitra industri untuk mengeksplorasi karbon menggunakan teknologi carbon capture and storage (CCS) yang menanggkap dan menyimpan karbon dioksida dari sumber-sumber seperti plant bahan bakar fosil dengan cara cryogenic.

Upaya-upaya sederhana yang memiliki dampak besar untuk menjaga kualitas udara juga digalakan pemerintah Belanda berupa program think bike, dimana 30% perjalanan dalam jarak 5 mil ditempuh menggunakan sepeda, sehingga populasi menjadi sehat. Selain itu Belanda juga menargetkan 1 juta mobil listrik pada 2015 untuk mengurangi emisi.

Melihat kenyataan bahwa negara kecil ini mampu menampung 16 juta jiwa dan menjadi negara pengekspore hasil pertanian terbesar kedua di dunia dengan lahan pertanian yang sebagian berupa polder merupakan hal yang ajaib. Hal ini membuktikan kemajuan teknologi, penerapan hasil penelitian, dan kerjasama antara pemerintah, kaum akademisi, dan masyarakat yang harmonis mampu membawa negara ini menjadi salah satu negara maju di dunia. Negara ini bisa menjadi cerminan bagi Indonesia dalam penerapan teknologi untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, serta meningkatkan kualitas hidup yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Sumber :

http://www.government.nl/issues/climate-change/national-measures

http://www.rtcc.org/2014/03/04/netherlands-to-upgrade-flood-defences-to-cope-with-climate-change/

http://www.the-netherlands.org/key-topics/energy–climate/climate-change-and-energy-allies.html

http://www.the-netherlands.org/key-topics/energy–climate/sustainable-transportation

https://www.youtube.com/watch?v=22XM8-YTC98

http://www.binasyifa.com/349/14/27/kincir-angin-di-indonesia.htm

http://menujuhijau.blogspot.com/2010/09/3-keunikan-dari-negeri-orange-belanda.html

http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2013/10/tentang-negara-belanda.html