469. Literatur Belanda Harapan Masa Depan

Penulis : Fitri Muthi’ah Hanum
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Bicara tentang Inovasi, pemikiran maju wanita Belanda merupakan inovasi dari keterbelakangan moral dan ketertinggalan wanita pribumi dalam berbagai hal dikarenakan adat-istiadat Jawa pada zaman Kartini hidup, zaman kolonial. Ketika itu pria memiliki banyak istri sudah menjadi hal yang normal, setiap wanita dikawinkan dengan pria yang tak ia kenal, dan setiap wanita dipingit di dalam rumah ketika masa remajanya dimulai dan berhenti sekolah saat itu juga. Kartini, dengan semangatnya yang bergelora yang tak pernah padam, menggantungkan satu-satunya harapan bahwa pada suatu hari, akan datang masa dimana wanita-wanita Indonesia memiliki pemikiran maju seperti wanita-wanita Belanda dan akan datang masa dimana wanita-wanita pribumi Jawa akan bersekolah sampai tingkat perguruan tinggi seperti wanita-wanita Eropa. Tidak tahu kapan masa itu akan datang, mungkin tiga hingga empat generasi setelahnya, begitulah keyakinan Kartini.

Kartini amat bersyukur Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir, mengijinkannya untuk tetap melanjutkan pembelajaran dirumah saat dimulai waktu dipingitnya dirumah yaitu ketika umur dua belas tahun. Ia belajar bahasa Belanda dari Marie Ovink-Soer, istri kontrolir Jepara, wakil Binnenlandsch Bestuur atau pegawai administrasi kolonial. Beliau juga yang mengenalkan Kartini pada sastra feminis Belanda, mengajarnya melukis, dan memasak ala Eropa. Kartini juga bersyukur Ayahnya mengijinkannya untuk berlangganan jurnal feminis Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini juga gemar membaca De Locomotief, surat kabar terbitan Semarang yang diasuh oleh tokoh aktivis politik etis Pieter Brooshooft.

Selain surat kabar, majalah langganannya, dan teman-teman Belandanya, literatur Belanda telah menyumbangkan sumbangan kemajuan yang besar terhadap kemajuan pemikiran di Pulau Jawa, karena dari kesusastraan Belanda-lah Kartini mendapatkan inspirasi tentang perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Sedikit contoh dari kesusastraan Belanda yang Kartini baca, yaitu: Max Havelaar dan Surat-surat Cinta karangan Eduard Douwes Dekker, De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus, karya-karya Van Eeden, karya-karya Augusta De Witt, sebuah roman anti perang karangan Berta Von Suttner-Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata), dan roman feminis Hilda Van Suylenburg karya Cecile Goekoop de-Jong Van Beek, semuanya berbahasa Belanda.

Kartini membaca novel Hilda Van Suylenburg sebanyak tiga kali. Novel Hilda Suyvelburg pertama kali diterbitkan pada tahun 1897, ketika menulis itu Cecile Gookoep-de Jong Van Beek baru saja menjadi presiden Asosiasi Pameran Nasional Buruh Perempuan. Hilda Suylenburg bukanlah novel Belanda pertama yang menceritakan tentang emansipasi wanita di abad kesembilan belas, namun novel inilah yang paling sukses. Dalam satu tahun, empat edisi terbit, dan edisi kelima muncul pada tahun 1899, edisi keenam 1902, edisi ketujuh 1911, dan kedelapan 1919. Feminis terus menyebut ‘Hilda’ dimanapun selama beberapa dekade, Hilda telah menjadi pegangan bagi gerakan emansipasi wanita.

Novel ini menceritakan tentang Hilda, wanita muda bangsawan berumur sekitar dua puluh dengan gaya hidup glamor, yang kemudian berteman baik dengan Corona van Oven (tokoh kedua dalam novel) yang mengantarkannya pada pemikiran emansipasi wanita. Hilda kemudian meninggalkan kehidupan konvensionalnya. Ia belajar di Universitas dan menjadi seorang pengacara. Tujuan utamanya sebagai pengacara adalah berkontribusi dalam mereformasi sistem hukum, yang menyalahi hak-hak perempuan.

Cecile mulai menulis Hilda Suylenburg pada akhir 1893. Ia menulisnya ketika dia telah kehilangan kepuasan dalam pernikahannya. Ia mendapatkan inspirasi saat kunjungannya ke Amerika bersama suaminya awal tahun itu. Arsitektural wanita pada The Chicago World’s Fair meninggalkan kesan yang dalam pada diri Cecile. Dalam surat-surat yang ditulisnya pada Elisabeth, adik perempuannya, Cecile menyatakan kekagumannya akan kemudahan wanita Amerika mengklaim keberadaannya di publik, mereka jauh lebih biasa berbicara di depan umum daripada wanita Belanda. Pada perjalanannya saat itu, ia juga membaca Ramona karangan Helen Hunt Jackson, novel itu semakin mendorong Cecile untuk menulis sebuah novel tentang posisi perempuan di Belanda.

Kartini merasakan penderitaan yang juga seluruh wanita Jawa alami pada jaman itu, kemudian literatur Belanda yang dibacanya seakan memberinya penerangan akan adanya sebuah jalan. Menjaga api impiannya tetap menyala. Buah-buah pemikirannya yang dalam, berani, kritis, dan jujur dalam surat-suratnya yang telah dibukukan yang dulu ia kirim pada Stella Zeehandelaar—sahabat penanya yang seorang feminis dan anggota dari gerakan reformasi bidang pendidikan pengembangan diri di kalangan kelas pekerja di Belanda, yang ia kenal dari balasan permintaan pertemanannya dengan wanita berpikiran maju Belanda yang diposting oleh majalah De Hollandsche Lelie, menginspirasi sastrawan Indonesia yang membukukan ulang dan menjadi inspirasi awal bagi pembentukan gerakan-gerakan dan organisasi kaum wanita Jawa. Gerakan Wanita Indonesia ini pada dasarnya bertujuan mengangkat harkat dan derajat wanita Indonesia dari belenggu adat istiadat yang kolot.

*Penulis menggolongkan tema ini sebagai Tema Earth, karena Sastra yang digolongkan adalah tulisan, tulisan di lembaran kertas, kertas berasal dari pohon di tanah.

Sumber:
• Mohammad, Goenawan. 2004. Aku Mau: Feminisme dan Nasionalisme (On Feminism and Nationalism: Kartini’s Letters to Stella Zeehandelaar1899-1903). Kompas. Jakarta.
• De Haan, Fransisca. 1998. Gender and the Politics of Office Work: The Netherlands 1860-1940. Amsterdam University Press, Google Books.
• Maria Grever, Berteke Waaldijk. 2004. Transforming the Public Sphere: The Dutch National Exhibition of Women’s. Duke University Press, Google Books.
• PERKEMBANGAN FEMINISME BARAT DARI ABAD KEDELAPAN BELAS HINGGA POSTFEMINISME: SEBUAH TINJAUAN TEORETIS: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=106782&val=5113
• Pusat Komunikasi dan Informasi Perempuan: http://www.kalyanamitra.or.id/
• Teori Feminisme: http://wacanasosiologi.blogspot.com/2011/12/memahamiteori-feminisme.html