472. Menilik Belanda di Balik Mega Proyek Reklamasi Tanah Terbesar di Dunia

Penulis : Ghina Kartika Ardiyati
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Begitu mendengar kata Belanda, pasti banyak hal menarik yang langsung terlintas di benak kita. Nah salah satu contohnya dari penyebutannya saja, mungkin sebagian besar dari kita akan menyangka bahwa kata Belanda, Netherlands, dan Holland itu memiliki makna yang sama. Padahal pada kenyataannya, masing-masing memiliki makna yang berbeda. Netherlands atau Nederland merupakan nama resmi Negara Belanda yang diakui di kancah internasional. Di dalam Netherlands tercakup keseluruhannya 12 provinsi, diantaranya adalah Drenthe, Flevoland, Friesland, Gelderland, Groningen, Limburg, North Brabant, Overijssel, Utrecht, Zeeland, Noord Holland, dan Zuid Holland. Sementara berbeda dari Netherlands, Holland hanya meliputi 2 provinsi dari 12 provinsi di seluruh Netherlands yaitu Noord Holland dan Zuid Holland. Untuk kata Belanda sendiri dalam bahasa Indonesia, berasal dari kosa kata Portugis dalam menyebut Negara Belanda yaitu holanda (yang merujuk pada kata Holland). Sehingga pada akhirnya kita menyebutnya dengan istilah Belanda.1

Bangsa Belanda menyebut bangsa mereka sendiri sebagai “Koninkrijk der Nederlanden”, yang memiliki arti “Kerajaan Tanah-Tanah Rendah. Memang salah satu keunikan Belanda yaitu secara geografis memiliki permukaan tanah yang rendah. Dimana hampir separuh wilayahnya memiliki ketinggian kurang dari 1 meter di atas permukaan laut. Permukaan tertinggi ialah wilayah Vaalserberg di Provinsi Limburg dengan ketinggian 321 meter di atas permukaan laut. Sementara permukaan tanah terendah adalah Nieuwerkerk aan den Ijssel yang berada 6,76 meter di bawah permukaan laut.2 Sehingga tidak mengherankan jika kemudian hal tersebut terabadikan ke dalam namanya yaitu Nederland.

Dengan permukaan daratan yang rendah tersebut, berakibat 2/3 wilayah Belanda menjadi wilayah yang sangat rentan dengan banjir. Hal tersebut dikarenakan pada dasarnya wilayah Belanda merupakan dataran aluvial yang dibangun dari sedimen yang ditinggalkan oleh banjir ribuan tahun dari sungai dan laut. Keterbatan tersebut mampu membuat masyarakat Belanda menjadi lebih kreatif, yaitu untuk mengantisipasi dari serangan banjir tersebut, mereka berinovasi dengan menerapkan sistem reklamasi rawa. Sebab pada awalnya sebelum mereka memikirkan tentang sistem reklamasi, hampir sebagian besar kota-kota yang terdapat di Belanda di tutupi rawa gambut yang ekstensif yang berada di muara laut. Sehingga mereka harus membuat suatu kreasi inovatif yang mampu mencegah banjir masuk ke pemukiman.

Mereka mereklamasi rawa dengan menerapkan sistem polder. Polder merupakan suatu bangunan hidrolik yang dibangun dengan tujuan mengeringkan suatu kawasan yang terendam. Teorinya sederhana yaitu dengan membangun tanggul sehingga kawasan tersebut terisolir dari pengaruh air di sekitarnya.3 Konsep polder ini oleh Belanda telah dikembangkan sejak abad ke-11, kemudian pada abad ke-13 disempurnakan dengan penggunaan kincir angin. Lebih lanjut, disamping untuk mencegah serangan banjir, sistem polder ini juga merupakan suatu usaha untuk memperluas wilayah daratan. Salah satu wilayah Belanda yang merupakan hasil dari reklamasi tersebut adalah Flevoland. Nah, itu artinya Belanda sudah mengenal sistem reklamasi tanah sejak ribuan tahun yang lalu. Maka tidak salah jika seorang filsuf Prancis, Rene Descartes, menyatakan “God created the world, but the Dutch created Holland”, untuk menggambarkan bagaimana orang Belanda mengeringkan daratan yang digenangi air agar dapat menjadi pemukiman yang layak untuk di diami.4

image002
Sistem Polder
sumber : https://n0vitasari.wordpress.com/2012/05/14/belanda-menyulap-rawa-menjadi-kota/

Dari uraikan di atas jelas sekali terlihat betapa handalnya Belanda dalam melakukan reklamasi tanah. Adapun proyek reklamasi tanah terbesar di dunia yang sampai dengan saat ini masih dalam dalam proses pengerjaan yaitu Palm Island, dimana pengerjaannya juga melibatkan Belanda. Adalah Van Oord, kontraktor pengerukan Belanda yang merupakan salah satu ahli terkenal dalam reklamasi tanah turut terlibat dalam proses pembuatan kepulauan buatan yang terletak di Dubai, Uni Emirat Arab tersebut. Palm Island terdiri atas 3 pulau diantaranya Palm Jumeirah, Palm Jebel Ali, dan Palm Deira. Kepulauan ini diciptakan oleh Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum yang bertujuan untuk meningkatkan pariwisata di Dubai. Palam Island ini berbentuk pohon palem, dengan diatapi oleh sebuah sabit.

image004
Palm Island
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Palm_Jumeirah

Pengerjaan Palm Island ini sangat canggih, dengan dibangun dari pasir yang dikeruk dari dasar Teluk Persia oleh perusahaan Belgia, Jan De Nul dan perusahaan Belanda, Van Oord. Kemudian pasir tersebut di semprotkan oleh kapal keruk menuju wilayah yang ditentukan dengan menggunakan proses yang dikenal sebagai mempelangikan, karena bentuk pasir melengkung seperti pelangi ketika disemprotkan.5 Melalui proses penyemprotan tersebut, pulau-pulau buatan yang ada di Palm Islands dibuat. Berikut ini gambar proses penyemprotan pasir yang dilakukan oleh kapal keruk.

image006
Proses mempelangikan
sumber : https://mdefa.wordpress.com/

Dengan demikian, pengakuan dunia internasional terhadap Belanda dalam hal reklamasi tanah tidak perlu lagi diragukan. Terbukti dengan kepercayaan yang diberikan oleh Nakheel Properties, perusahaan pembangun properties di Uni Emirat Arab, yang menyewa jasa Van Oord untuk membentuk pulau-pulau buatan di Palm Island. Atas prestasi yang diakui tersebut, Van Oord juga dianugerahi berbagai kontrak tambahan, misalnya untuk instalasi perlindungan gerusan. Lebih lanjut, kontraktor pengerukan Belanda tersebut juga berhasil memenangkan kontrak untuk membangun The World, sebuah kepulauan yang terdiri dari lebih 300 pulau buatan yang membentuk peta dunia.6

Begitu banyak hal positif yang dapat kita pelajari dari Belanda. Dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki, tidak membuat mereka menjadi bangsa yang hanya pasrah akan keadaan. Akan tetapi keadaan tersebut malah mencetak mereka menjadi bangsa yang kreatif dan tangguh. Melalui berbagai macam inovasi-inovasi yang mereka temukan yang tentu saja pada akhirnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup mereka.

Sumber:
1 http://www.kaskus.co.id/thread/53b4562c1a9975d8788b4819/apa-beda-nya-antara-belanda–holland–dutch-dan-the-netherlands.
2 http://jalanjalankelilingdunia.blogspot.com/2010/04/netherlands-negara-dengan-2-ibukota.html
3 https://n0vitasari.wordpress.com/2012/05/14/belanda-menyulap-rawa-menjadi-kota/
4 http://anggunsugiarti.blogspot.com/2012/02/belajar-dari-sistem-polder-negera.html
5 http://id.wikipedia.org/wiki/Palm_Islands
6 http://www.vanoord.com/activities/dubai