478. Creating Oases in the Desert

Penulis : Caesilia Aristasari
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Bayangkan anda sedang berada di sebuah gurun. Apakah yang anda rasakan? Panas, sudah tentu. Kering, sudah pasti. Sangat sulit untuk hidup pada lingkungan yang tandus seperti itu. Banyak dari kita yang tidak sadar bahwa kerusakan lingkungan adalah akibat dari perbuatan manusia sendiri.

Kerusakan alam dan keberlangsungan kehidupan manusia di bumi merupakan isu yang hangat diperbincangkan di abad 21. Manusia kini dihadapkan pada 7 masalah pokok yang kompleks dan saling terintegrasi, yaitu erosi, kemiskinan, krisis pangan, perubahan iklim, pengangguran, migrasi penduduk, dan penurunan tingkat air tanah. Untuk menyelesaikan masalah yang kompleks tersebut, maka diperlukan solusi yang mampu menyelesaikan beberapa masalah dalam satu aksi. Seperti yang dinyatakan oleh Pieter Hoff, “Half the world’s deserts were created by man, so why can’t we change them back to forest?”

image002
Peta Wilayah yang mengalami Deforestrasi.
Sumber: http://www.groasis.com/en/technology/how-to-combat-desertification-with-reforestation

Pieter Hoff, seorang inventor dari Belanda bersama dengan perusahaan Groasis, yakin bahwa Groasis Waterboxx merupakan solusi yang efektif dan berkelanjutan untuk mengatasi krisis lingkungan dan air. Penggunaan Groasis Waterboxx dapat mengurangi efek dari deforestrasi, mengatasi keterbatasan pangan, dan dapat meningkatkan upaya konservasi air. Konsep dari the Grosis Waterboxx sendiri telah memenangkan beberapa penghargaan diantaranya ‘Best of What’s New Innovation of the Year’ tahun 2010 dan ‘2014 Accenture Green Tulip Award’.

Groasis Waterboxx merupakan teknologi yang dapat mengefisiensikan penggunaan air. Teknologi Groasis Waterboxx bukanlah sebuah sistem irigasi, melainkan teknik dalam menanam tumbuhan yang memungkinkan tanaman tetap hidup meski di tempat yang memiliki krisis air, suhu ekstrim (sangat panas maupun sangat dingin), gurun, area bebatuan, angin kencang, hingga area yang mengalami erosi. Groasis Waterboxx mengadaptasi proses alami untuk mendukung perkembangan tumbuhan di tahun pertama, yaitu pada saat tanaman masih sangat rapuh. Ketika tanaman memasuki tahun kedua dimana akarnya sudah kuat dan ia sudah mampu mencapai sumber air sendiri, Groasis Waterboxx dapat dilepaskan karena tanaman sudah mandiri.

Groasis Waterboxx berdiameter 50 cm dan tinggi 25 cm serta sangat terlihat seperti wadah air biasa dengan lubang ditengahnya. Lubang tersebut adalah tempat tumbuhnya tanaman. Satu Groasis Waterboxx dapat ditanami hingga 2 bibit tanaman.

image004
Groasis Waterboxx
Sumber: http://climate.org/smart-solutions/?p=301

Teknis dari implementasi Groasis Waterboxx ini sangatlah mudah, tidak menelan banyak biaya, dan tidak memerlukan perawatan khusus. Yang diperlukan hanya bibit tanaman, Groasis Waterboxx, humus, dan air. Tanaman dengan Groasis Waterboxx tidak memerlukan perawatan yang khusus karena tanaman dalam Groasis Waterboxx mampu untuk memenuhi kebutuhan airnya sendiri dalam jangka waktu yang cukup lama, kurang lebih satu tahun. Groasis Waterboxx dirancang untuk mengurangi penguapan di musim panas, dan membantu pembentukan embun di malam hari. Dengan embun yang terkumpul maka irigasi tidak lagi diperlukan. Selain itu, penutup Groasis Waterboxx juga berfungsi untuk menadah air hujan.

image006
Ilustrasi tanaman tumbuh di dalam Groasis Waterboxx
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=HRF2bUBPA90

Di dasar Groasis Waterboxx terdapat sumbu kecil yang akan meneteskan air sebanyak 50 cm3 per harinya untuk melunakan tanah dan menstimulasi pertumbuhan akar. Dengan cara seperti itu, akar akan tumbuh secara vertikal hingga mencapai sumber air dari dalam tanah. Biasanya sumber air dalam tanah dapat dicapai setelah panjang akar mencapai 1-2 meter dan memakan waktu sekitar 1 tahun. Groasis Waterboxx memungkinkan tumbuhan untuk terus tumbuh 12 bulan pertahun, tidak terpengaruh oleh musim sama sekali.

image008
Ilustrasi fungsi tetesan air dari sumbu Groasis Waterboxx
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=HRF2bUBPA90

Kesuksesan dari implementasi Groasis Waterboxx ini sudah terbukti di berbagai negara dengan berbagai tantangan alam, mulai dari gurun hingga bukit tandus bebatuan. Beberapa contoh projeknya adalah pada gurun di Dubai, beberapa pegunungan berbatu di Spanyol, beberapa Gunung Es di Spanyol, serta perkebunan anggur di Equador dengan tingkat kesuksesan sebesar 82%. Kegagalan kecil biasanya terjadi karena bibit dimakan oleh hewan liar, Groasis Waterboxx tertiup angin yang sangat kencang atau tertimpa batu yang besar, hingga adanya tanaman liar yang ikut mengambil cadangan air.

image010
Hasil penanaman pohon menggunakan the Groasis Waterboxx di Ecuador.
(kiri: 2 Juli 2012, kanan: 24 Mei 2013)
Sumber: http://www.groasis.com/en

Groasis berharap penggunaan Groasis Waterboxx ini dapat menjadi solusi bagi penghijauan 2 milyar hektar lahan dan mengubahnya menjadi lebih produktif. Lahan yang produktif akan mengurangi erosi tanah dan menghasilkan produk yang dapat dijual, meningkatkan produksi makanan, menyediakan lapangan kerja, dan merevitalisasi suatu wilayah yang gersang menjadi wilayah yang lebih layak untuk disinggahi. Inovasi kecil dari Groasis Waterboxx ini akan membantu manusia dalam mengatasi masalah lingkungan.

image012
Ilustrasi merubah tanah gersang menjadi hutan hijau.
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=HRF2bUBPA90

Dengan penggunaan Groasis Waterboxx, lahan tandus pun dapat disulap menjadi hutan yang lebat. Maka, oase di gurun pun akan menjadi suatu hal yang nyata, bukan sekadar fatamorgana.

Let’s reforest the world with Groasis Waterboxx!

Sumber:

https://www.youtube.com/watch?v=HRF2bUBPA90

http://www.groasis.com/en