479. Van Breen, Pengendali Air Asal Belanda

Penulis : Diana Puspita Asri
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Banjir menjadi bencana rutin tahunan yang mendera Jakarta. Genangan air yang merendam pemukiman penduduk dan melumpuhkan jalur transportasi ternyata bukanlah fenomena pada dekade terakhir ini, namun telah menjadi problematika sejak lebih dari seabad lalu. Sebagai jantung ekonomi dan pemerintahan, Jakarta memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan politik dalam negeri. Jelaslah banjir menjadi ancaman serius bagi kota berhutan beton tersebut. Oleh sebab itu, berbagai upaya dikerahkan untuk mencegah terjadinya banjir di wilayah ibu kota. Salah satu upaya pencegahan banjir di Jakarta ialah hasil karya seorang Belanda, yakni Prof. Herman Van Breen. Namanya selalu disebut dalam sejarah pembuatan Banjir Kanal Jakarta.

Berasal dari negeri berpredikat sistem pengolahan air terbaik dunia, Van Breen mencurahkan pemikiran untuk membangun sebuah kanal air yang mampu mengurangi potensi banjir. Ide tersebut bermula ketika pada tahun 1918, Jakarta, yang dulu masih bernama Batavia mengalami bencana banjir bandang. Pemerintah kolonial yang saat itu berpusat di Batavia pun tak mau tinggal diam. Khawatir bencana serupa dapat terjadi lagi, maka Burgerlijke Openbare Werken atau BOW (Departemen PU Hindia Belanda) meminta Van Breen yang merupakan seorang insinyur kelas 2E untuk memberi solusi bagi pencegahan banjir.

Setelah selesai mempelajari kondisi sungai-sungai di Batavia, Van Breen memutuskan untuk menggali kanal yang kemudian diarahkan menuju ke laut tepian barat kota. Banjir Kanal Barat dibangun pada tahun 1922. Penggalian kanal 4,5 km dengan kedalaman 4-12 meter dilakukan dengan tenaga tangan. Pintu air Manggarai menjadi awal pembangunan dan dimaksudkan untuk bermuara ke Muara Angke. Manggarai pun dipilih bukan tanpa sebab, menurut hasil penelitian Van Breen, Manggarai berada di batas wilayah selatan kota yang relatif aman dari banjir. Dengan perhitungan cermat, maka dibuatlah pintu air Manggarai yang berfungsi sebagai pengatur debit air Sungai Ciliwung.

Pada dasarnya Jakarta adalah sebuah daerah yang rentan banjir karena secara geomorfologis berada pada dataran rendah yang bahkan lebih rendah dari permukaan laut. Selain itu, Jakarta merupakan daerah aliran 13 sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta. Pada wilayah timur terdapat Sungai Cakung, Kramat,Jati, Buaran, Sunter, dan Cipinang. Sedangkan pada wilayah tengah terdapat Sungai Ciliwung, Cideng, dan Krukut. Pada wilayah barat terdapat Sungai Grogol, Sekretaris, Pesanggrahan, Mookervart, dan Angke. Dengan mengadopsi tata letak Amsterdam pada waktu itu, Van Breen berniat untuk membuat sistem kanal segi empat di Batavia.

image002
Masyarakat menggunakan kanal untuk mencuci baju dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Foto bersumber dari http://www.108jakarta.com/betawi/2012/06/14/84/Kali-dan-Kanal-di-Jakarta

image004
Kondisi kanal sekarang. Foto bersumber dari portal resmi pemerintah provinsi DKI Jakarta

http://www.jakarta.go.id/web/news/2011/10/kanal-barat

Untuk mengendalikan air di hulu sungai dan membatasi volume air masuk kota, perlu dibangun saluran bagian selatan kota yang selanjutnya dialirkan menuju ke barat. Kanal pun terus melaju hingga memotong Sungai Cideng, Krukut, dan Grogol. Benar saja, kanal dapat mengendalikan banjir dibagian utara. Kanal tersebut yang kemudian disebut dengan Banjir Kanal Barat. Tidak hanya Banjir Kanal Barat, sebelumnya Van Breen telah mengambil langkah untuk membuat sebuah bendung di Bogor setelah melacak faktor-faktor penyebab banjir Batavia.

Berlokasi di Kelurahan Katulampa Bogor Jawa Barat, bendung sepanjang 74 meter dibangun dan diresmikan pada tahun 1912. Bendung Katulampa tidaklah sama dengan bendungan. Bila bendungan dimaksudkan untuk mengendalikan volume air, maka Bendung Katulampa berfungsi sebagai sirine awal peringatan banjir. Sengaja dibangun di hulu Sungai Ciliwung, bangunan ini memiliki gambar pengukuran air dalam sentimeter. Dibagi sesuai katagori peringatan, bila ketinggian air di bawah 50cm maka kondisi normal, 50-80cm masuk dalam siaga empat, 80-150cm siaga tiga, 150-200cm siaga dua, dan diatas 200cm menandakan siaga satu. Dapat diprediksi bahwa peningkatan debit air di Bendung Katulampa akan memasuki pintu air depok 3-4 jam kemudian. Aliran air tersebut memasuki pintu air manggarai 11 jam kemudian.

Bangunan beton tersebut sering menuai decak kagum karena masih berdiri kokoh hingga kini. Selain memegang fungsi krusial sebagai peringatan banjir Jakarta, Bendung Katulampa menjadi pintu irigasi bagi 5000 hektare sawah pada waktu itu. Tidak hanya itu, hasil karya Van Breen masih terasa nyata digunakan sebagai jalur transportasi warga. Diatasnya melintang sebuah jembatan yang menghubungkan dua kelurahan, yakni Kelurahan Katulampa dan Sindang Rasa.

image006
Foto Bendung Katulampa, Bogor. Bersumber dari http://www.tempo.co/read/news/2014/02/18/214555375/Banjir-Usai-Bendung-Katulampa-Dibersihkan

Namun ternyata peribahasa ‘pucuk di cinta ulam pun tiba’ tidak berlaku bagi cita-cita Van Breen untuk mencegah banjir di Jakarta. Realitas menunjukkan bahwa banjir masih menjadi penyakit kronis Jakarta. Pola hidup masyarakat yang tidak ramah lingkungan, minimnya kesadaran akan tata ruang kota yang baik, dan curah hujan yang tinggi menjadi kombinasi sempurna pemicu banjir yang tidak berkesudahan. Namun apabila berkenan menilik sejarah kembali, sesungguhnya alternatif yang ditawarkan Van Breen tidaklah diimplementasikan sebagaimana mestinya. Banjir Kanal Barat dan Bendung Katulampa hanya cuplikan kecil dari ide besar yang diramu Van Breen. Kegagalan tersebut disebabkan karena kebuntuan dana.

Idealnya pembangunan kanal dialirkan ke barat kemudian membujur ke utara hingga dapat menghindarkan dari ancaman banjir selatan. Selain itu, perlu dibangun terusan lingkar luar Banjir Kanal Barat. Disisi lain, Jakarta perlu untuk menerapkan sistem polder. Kawasan rawa disepanjang utara pantai mestinya dikelilingi tanggul lalu airnya dipompa ke luar melalui parit-parit hingga benar-benar kering. Gagasan Van Breen mulai dipertimbangkan kembali ketika Jakarta mengalami musibah banjir secara berulang. Pada tahun 1965 pemerintah pusat turut andil dalam menyelesaikan persoalan banjir. Berangkat dari gagasan Van Breen, pemerintah berusaha menerapkan sistem polder dengan melakukan kombinasi waduk dan pompa. Tercatat dibangun 4 waduk, 5 polder sungai, 2 sodetan sungai, dan 1 gorong-gorong baru.

Pada tahun 2007 pemerintah daerah kembali membuktikan keseriusannya dalam menangani banjir. Sesuai dengan ide Van Breen, mulai dibangun sebuah kanal baru yang diberi nama Banjir Kanal Timur. Berbeda dari pembangunan Banjir Kanal Barat karena pada saat itu Batavia masih seluas 2.500 Ha dan berpenduduk sekitar 15.000 jiwa, Jakarta kini mengekspansi wilayah hingga menjadi 664,01 km² dan berpenduduk 9.988.495 jiwa. Pesatnya perkembangan Jakarta mengharuskan pembangunan Banjir Kanal Timur dapat luwes berkompromi dengan tata ruang kota tanpa mengesampingkan keberlanjutan aktivitas warga. Bukan tidak mungkin keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan banjir Jakarta dapat membuka jalan bagi implementasi gagasan Van Breen.

Van Breen menjadi sosok insinyur asal Belanda yang buah pemikirannya masih hidup hingga kini. Pembangunan kanal menjadi bukti nyata kelanggengan gagasan Van Breen terus menjadi acuan solusi banjir Jakarta. Pengembangan idenya masih digunakan untuk menyelesaikan momok permasalahan yang mendera sentra pertumbuhan ekonomi dan pemerintahan Indonesia. Van Breen menawarkan alternatif penyelesaian banjir yang dapat menginspirasi wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Referensi :
Londo, Paulus. 2002. Artikel Kompas: Strategi Prof Dr H Van Breen Menyelamatkan Jakarta dari Banjir. Terbit pada Selasa, 5 Februari 2002.
Maulana, Yudhi. 2015. Bendung Katulampa, Pengingat Banjir Peninggalan Belanda. Diakses melalui http://news.okezone.com/read/2015/02/11/338/1104165/bendung-katulampa-pengingat-banjir-peninggalan-belanda ditinjau pada Sabtu, 25 April 2015 pukul 07.32 WIB.
Mickey. 2015. Stunas 2015 : Proyek Sudetan ke Kanal BanjirTtimur (KBT), Kunjungan PJT II dan Bendungan Jatiluhur. Diakses melalui http://teknik.ub.ac.id/id/stunas-2015-proyek-sudetan-ke-kanal-banjir-timur-kbt-kunjungan-pjt-ii-dan-bendungan-jatiluhur/ ditinjau pada Sabtu, 25 April 2015 pukul 07.47 WIB.
Rizal, M. 2013. Kisah Van Breen dan Warisan Kanal Jakarta. Diakses melalui http://news.detik.com/read/2013/01/03/083802/2131834/159/kisah-van-breen-dan-warisan-kanal-jakarta ditinjau pada Sabtu, 25 April 2015 pukul 07.32 WIB
Susanti, Neni. 2015. Belanda Selalu Bertahan Pada Elemen Kehidupan. Diakses melalui http://hwc2015.nvo.or.id/168-belanda-selalu-bertahan-pada-eleman-kehidupan/ ditinjau pada Minggu, 26 April 2015 pukul 09.19 WIB.
http://www.jakarta.go.id/web/news/2011/10/kanal-barat diakses pada Minggu, 26 April 2015 pukul 09.45 WIB.
http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/provinsi/detail/31/dki-jakarta ditinjau pada Minggu, 26 April 2015 pukul 09.04 WIB.
http://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/14/01/20/mznqfn-bendung-katulampa-beton-belanda-yang-istimewa ditinjau pada Sabtu, 25 April 2015 pukul 07.35 WIB.
http://www.tempo.co/read/news/2014/02/18/214555375/Banjir-Usai-Bendung-Katulampa-Dibersihkan diakses pada Minggu, 26 April 2015 pukul 09.45 WIB.
http://www.108jakarta.com/betawi/2012/06/14/84/Kali-dan-Kanal-di-Jakarta diakses pada Minggu, 26 April 2015 pukul 09.45 WIB.