490. Sustainable Safety

Penulis : ELFITRA MERCREDI AUGUSTIN
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Semua sama di jalanan
Itulah kesan pertama yang saya dapatkan ketika menapakkan kaki pertama kalinya di Belanda beberapa hari lalu. Kesempatan itu akhirnya datang juga!, jerit saya dalam hati. Negara Oranye (salah satu warna kesukaan saya karena memancarkan suasana ceria dan terbuka) – menyambut saya dengan dasyatnya. Musim semi menuju musim panas yang dalam bayangan saya bersuhu agak suam-suam kuku ini membuyarkan khayalan saya. Oops! Saya lupa bahwa ia terletak di posisi atas daratan Eropa, dekat dengan air. Tentu saja, seperempatnya berada dibawah level laut! Akhirnya saya menikmati 3 hari di Belanda dengan cengiran manis – ekspresi antara membeku dan pasrah.

image002
Volendam. Disini saya mengerti mengapa Netherlands dinamakan Netherlands.

Saya punya kebiasaan yang saya sebut ‘finding my anchor’. Itu yang selalu terjadi setiap saya mengunjungi beberapa lokasi liburan. Pertanyaan, “Can you see yourself living in this city?” tidak pernah luput di setiap hari terakhir saya meninggalkan lokasi. Dimanapun. Untuk Belanda, jawaban saya mantap berkata ‘Sure. Why not?”.
Bagi saya pribadi, sebuah kota (atau negara) dapat dikatakan mature, ada 3 kategori. Jika tiap individu dapat berkreasi tanpa diliputi rasa takut, jika memiliki cagar alam/ kebun binatang yang baik dan terawat, dan jika sarana transportasi serta pengguna jalan memiliki hak yang sama. Di Belanda, saya merasa di-welcome-i (istilah indonglish karangan saya yang dalam Bahasa inggrisnya berarti kurang lebih ‘accepted’).

image004
Sunny day at Damsquare. Cantiknya lautan sepeda yang nangkring dimana-mana

image006
Public space yang menjamin tersedianya ‘safer streets’

Sistem ‘Sustainable Safety’ yang dianut Belanda membiarkan warganya untuk dapat mengasah sense mereka. Saya yang seorang pendatang cukup takjub merasakan sensor nalar saya menyala di Amsterdam. (Biasanya sense saya payah sekali!). Jalanan mereka sangat mengakomodir mobil, sepeda dan pejalan kaki. Saya senang dengan signage yang jelas, area yang didedikasikan khusus, sampai tenggang rasa antar warga pengguna jalanan. Saya ingat saat deringan bel sepeda berbunyi hangat sekitar 8 meter di belakang, berusaha mengingatkan bahwa jalur yang saya ambil tidak pada tempatnya. Atau saat teman segrup lari-lari menyebrang jalan karena terlihat kosong ketika rambu merah menyala; trem nun jauh disana bahkan mulai membunyikan melodi khawatirnya. Maklum, masih kebawa kebiasaan di ibukota Jakarta. Awalnya saya berfikir, ‘ih kan kosong’ atau ‘rambunya lama sekali kok nggak hijau-hijau’; namun saya jadi malu sendiri. Which is good! I feel like this place really loves its people by giving them a ‘self explaining streets’. Jika jalanan itu sendiri sudah menjelaskan fungsinya dan saya tidak mengikutinya, salah saya dong ya? Akhirnya saya ngikik sendiri di jalanan.