492. Taklukan Air Berlebih ala Belanda

Penulis : Gabriel Sebastian Butar-butar
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Pada tanggal 23 Januari 1913. kira-kira seratus dua tahun yang lalu,terdapat rapat Koninklijk Instituut van Ingenieurs yang membahas proyek penanggulangan banjir di Batavia yang bertempat di gedung Koningsplein Zuid (kantor Gubernur DKI Jakarta saat ini). Para insinyur Belanda seperti H. van Breen dkk menyimpulkan bahwa Batavia tidak sehat dan tidak ideal untuk dijadikan tempat tinggal. Jan Pieterszoon Coen membangun kota Batavia, hanya sebatas pertimbangan strategis militer,” ujar Van Breen memberikan tinjauan historis (Het Nieuws Van Den Dag voor Nederlands-Indie, 24/1/1913, Koninklijke Bibliotheek). Hadir dalam rapat tersebut para pejabat penting pemerintah.seperti Van Breen yang bertindak sebagai pembicara kunci. Solusi yang sudah ditempuh saat itu adalah dibangun Bendungan Katulampa sebagai titik pertama mengendalikan air di hulu, tanggul-tanggul, kanal- kanal (seperti Kanal Banjir Barat, Kanal Banjir Timur, dll), parit-parit dan selokan-selokan di hilir. Pemukiman orang Eropa direlokasi ke daerah Batavia bagian selatan, ke lokasi yang lebih tinggi: Weltevreden (kini kira-kira Menteng, Gambir dan sekitarnya). Setelah berabad-abad . Batavia telah berkembang menjadi Jakarta seperti sekarang.

Solusi yang dilontarkan dari Prof. BJ Habibie agar untuk membangun bendungan di hulu, sebenarnya itulah konsep Belanda kira-kira pada satu abad lalu. Hulu dan hilir, ditangani secara terintegrasi, membentuk stelsel, jaringan penanggulangan banjir. Sumber-sumber arsip di Koninklijke Bibliotheek, Den Haag, mencatat Bendungan Katulampa tidak bisa untuk mencegah, sebab karya insinyur sipil itu telah menjadi milik kedaulatan Indonesia sepenuhnya. Pertanyaan yang justru menggelitik adalah sejak kapan perubahan menjadi bendung dari sebelumnya bendungan seperti dirancang oleh Belanda itu terjadi? Para insinyur dan mahasiswa teknik sipil seharusnya tergugah di sini, sebab pergeseran makna dan fungsi dari “dam sebagai bagian sistem pengendalian banjir Batavia dengan manfaat ganda untuk irigasi” menjadi “weir dengan fungsi irigasi” ini dapat berimplikasi langsung terhadap visi penanganan banjir Jakarta sekarang. Jika substansi di balik fisik Katoelampa sebagai dam itu ditangkap, maka seharusnya ia sejak lama mendapat perhatian, ditingkatkan kapasitasnya seiring dengan perkembangan zaman dimana bebannya semakin meningkat, lalu Kanal Banjir Barat, Kanal Banjir Timur dan kanal-kanal lainnya diperdalam, diperlebar, atau ditambah jumlahnya. Tanggul- tanggul ditinggikan, diperkuat.

image001
Self-closing flood barrier

Duet Gubernur Jokowi dan Wagub Ahok tidak ada salahnya menengok kembali visi, kebijakan dan disain penanganan banjir oleh Belanda. Amerika Serikat (AS) yang adidaya saja mengagumi keunggulan Belanda dalam bidang ini dan meminta Belanda membangun ulang New Orleans setelah hancur diterjang air akibat badai Katrina. Proyek digarap Belanda dengan memakan waktu selama 5 tahun. Selain itu Amerika juga belajar bagaimana tatakelola perairan (water management) di Belanda. Sebuah panel terdiri dari instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan terkemuka AS juga tertarik pada karakter struktural tatakelola perairan di Belanda dan pembiayaan jangka panjang yang solid (Waterschap Amstel, Gooi en Vecht, 18 September 2009). Megaproyek Dubai yang membendung perairan Laut Persia menjelma menjadi kepulauan artifisial Palm Jumeirah yang spektakuler itu juga terealisasi berkat teknologi dan pengalaman Belanda. Van Oord nama perusahaannya. Menjadi tanda tanya besar mengapa selama ini Indonesia khususnya di DKI Jakarta tidak merangkul Belanda untuk bekerjasama jangka panjang menggarap proyek penaggulangan banjir Jakarta.

Pengalaman dan keunggulan Belanda menaklukkan air mungkin tidak bisa disamai oleh bangsa mana pun. Upaya penaklukkan air oleh bangsa Belanda sendiri prosesnya telah berbilang puluhan abad. Untuk bisa survive, bangsa ini letterlijk jatuh bangun bergelut melawan air, baik air laut maupun sungai, karena letak Belanda di muara tiga sungai besar Eropa: De Rijn, Maas dan Schelde. Dimulai sejak pertama kali mereka mendiami kawasan rendah menghadap Laut Utara ini, lalu di masa pendudukan Romawi mereka mulai membangun dam (bendungan) di Rijndal, dekat Kleef, menggali kanal-kanal, seperti Kanal de Vliet dekat Voorburg, yang menghubungkan Sungai Oude Rijn dan Schie satu sama lain. Sejak 1667 dengan perencanaan Hendrik Stevin, putera ahli matematika Belanda nan masyhur Simon Stevin, bangsa ini membangun cincin tanggul yang membentang dari Noord- Holland via Waddeneilanden sampai Friesland. Proses berlanjut, tapi tiada abad berlalu, tanpa bencana banjir menyapu. Antara tahun 1000 sampai 1953 tercatat ada 111 bencana banjir kecil dan besar, begitulah Watermuseum mencatat. Tapi dengan itu Belanda memupuk pengalaman, melakukan inovasi sampai menjadi bangsa yang sangat sohor dalam tatakelola perairan hingga saat ini. Sejak 1953 Belanda aman dari banjir, berkat mahakarya insinyur sipil yang menakjubkan antara lain Afsluitdijk dan Delta Plan.

Tanpa rekayasa manusia Belanda, 55% wilayah negeri ini tenggelam ditelan oleh air laut, di mana di wilayah itu justru sumber 65% GNP Belanda (IPCC, hal 147). Provinsi Flevoland itu sepenuhnya diciptakan oleh tangan-tangan manusia, hasil kreasi hebat bangsa Belanda menaklukkan laut. Seluruh wilayah provinsi ini berada -5 meter di bawah permukaan air laut. Lainnya, berdasarkan data Kementerian Perhubungan dan Perairan Belanda, Bandara Internasional Schiphol nan supermoderen itu berada -4,5 meter di bawah permukaan laut, Rotterdam (-6 meter), titik terendah wilayah Belanda di bawah permukaan laut mencapai -6,74 meter, yakni di Nieuwerkerk aan den IJssel. Perlu diketahui, ganasnya gempuran badai dan angin di sini, terutama antara Oktober-Januari, kadang sampai berkekuatan 10 Skala Bft (Beaufort) atau ekuivalen 92 sd 102 km/jam! Saya jadi teringat ketika menghadiri undangan jamuan di kediaman Dubes Belanda Van Royen, Jl. Diponegoro (1992), saya mendengar sebuah adagium yang sampai kini masih kuat melekat dalam ingatan, “God heeft de wereld geschapen behalve Nederland, want dat hebben de Nederlanders zelf gedaan, Tuhan telah mencipta dunia kecuali Negeri Belanda, sebab bangsa Belanda sendirilah yang melakukannya,” Jangan lagi tambal sulam. Untuk menaklukkan gempuran air di Jakarta, rangkullah Belanda.

Referensi:

http://kumpulan-berita-unik.blogspot.com/2014/02/Cara-Mengatasi-Banjir.html#ixzz3WZjN3Kj7

http://www.lihat.co.id/2013/01/5-kisah-sukses-kota-di-dunia-yang.html#axzz3WZgXhBVv

http://news.detik.com/read/2013/01/25/191358/2152542/103/banjir-jakarta-rangkullah-belanda