496. Wortel van Oranye : Pelajaran Inovasi ala Dutch DNA

Penulis : Unggul Sagena
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

Wortel, Susu dan Apel
Menurut ahli gastronomi (tata boga) yaitu seni “good eating”, makan sehat paling simpel dilihat dari jenis warna sajian yang kita makan. Lebih dari tiga artinya keseimbangan gizi hari ini untuk beraktivitas tercukupi. Artinya semakin berwarna, semakin tercukupi asupan gizinya. Nasi dan Telur yang putih, roti gandum dan mie yang kuning keemasan dan cokelat ditambah sayur-mayur yang dominan hijau. Sudah cukup? Hmm perlu lebih dari tiga warna loh bro.

Sekarang pikirkan warna lain. Kita bisa tambah komposisi lauk dengan Terong yang ungu, atau… wortel yang oranye?
Tapi kenapa sih warna wortel oranye?

Sebelum abad ke-18, wortel dari Asia ungu loh. Wortel eropa kalau nggak putih, warnanya merah. Nah, dengan nasionalisme yang tinggi (beneran loh), Petani Belanda mengembangkan varietas wortel warna oranye. Sejak 1721, wortel belanda yang berwarna oranye ini kemudian menjadi warna wortel paling dominan dan namanya sendiri secara umum disebut “horn carrot” berasal dari nama kota Hoorn, di Belanda. Bukan karena bentuknya yang kayak terompet (horn) loh ya. Aha. Baru tau kan?

Oke, sudah suprise dengan wortel, nih saya kasih lagi inovasi Belanda seputar hasil produk pertanian.
1. Sapi Holsten Friesian (sekitar abad 100 SEBELUM MASEHI).
Susu sapi? Pasti deh kebayang sapi bertotol putih hitam yang gemuk dan jadi ikon susu kental manis. Tepat, sapi ini merupakan hasil dari peternakan di belanda. Awalnya ada sapi hitam dan ada sapi putih. Yang hitam dari Batavia (ini di belanda ya, tempat lahirnya J.P. Coen, gubernur Hindia Belanda yang menamakan Sunda kelapa jadi Batavia juga). Lalu sapi yang putih, dari Friesland. Dua jenis breed ini dikembangkan di provinsi North Holland dan Friesland, serta juga Schleswig-Holstein yang sekarang jadi bagian dari Jerman. Hasilnya, sapi perah yang sangat produktif hasilkan susu baik kualitas maupun kuantitas yang unggul.

2. Apel jenis Belle de Boskoop (1856), Karmijn de Sonnaville (1949) dan Elstar (1950). Nah dua varian apel terakhir ini menjadi populer sebagai “Apel abad 21” dan dikembangkan di Wageningen. Yup, daerah yang saat ini pun terkenal dengan studi-studi pertanian dan lingkungan di Belanda.

3. Groasis Waterboxx (2010). Ini nih yang lumayan baru. Alat yang di-desain untuk membantu menumbuhkan pohon di daerah kering. Dikembangkan oleh Pieter Hoff, dan memenangkan “Green Tech Best of What’s New” di Innovation of the year award 2010.

image002
Wortel Oranye. Sumber foto : “CarrotRoots” by Jonathunder, Wikimedia

Hebat, bukan?
Hebat, bahwa dengan lahan yang demikian sempit, bahkan harus mereklamasi laut menjadi tanah hanya untuk bertahan hidup dengan populasi meningkat. Ini adalah kondisi riil teori dimana ketika terjepit, maka kemampuan manusia untuk melakukan kreativitas dan inovasi malah meningkat. Kuncinya, adalah “Dutch DNA”.

Dutch DNA? Re-Code.

Sepertinya warna wortel yang oranye, kalau saya katakan “ulah” Belanda, orang lain tertawa. Dihubung-hubungkan. Padahal benar. Itu determinasi bahwa nama besar bangsa yang di-visualisasi-kan dengan warna, bisa menjadi kebanggaan tersendiri. Segala resources dan daya upaya mengarah ke sana. Kibaran bendera di setiap hari orang lain di seluruh dunia!

Inovasi saat ini toh ngga hanya urusan warna produk pangan. Tapi menarik untuk bermain di warna. Ubi jepang dan korea sudah ditanam di Indonesia hasilnya lebih baik dari negara asalnya karena faktor tanah dan pengelolaannya. Kita bisa inovatif. Ubi merah? Bubur merah-bubur putih, mungkin nilainya hanya sebagai mitos untuk menyambut kelahiran di Indonesia. Es Kacang merah dari tempat saya berasal, Palembang, masih karena kacang yang cokelat dipadu-padan dengan sirup merah Marjan atau Champolay. Padahal, jika kita berpikir jauh, merah-putih dapat menjadi hal inovatif berikutnya. Think of something.

Pernah suatu istilah menyebut ambisinya orang Belanda dalam perfeksionisme di berbagai hal, menggelora menemukan hal yang baru. termasuk melakukan inovasi. Bahkan yang radikal. Ambition. Ini disebut orang sudah menjadi “Dutch DNA”. Hey, Kamu pikir kalau ngga ada ide dan ambisi menelusuri terra incognita, bakalan ada the Flying Dutchman? Tapi no problemo. Nenek Moyang kita Orang Pelaut, jo. Sama dengan orang Belanda. Lebih lama malah melautnya. Hanya generasi sekarang yang mungkin ya, agak tercerabut dari motivasi dan kejayaan masa lampau ini. Tapi gapapa. Kata Rhenald Kasali, “Recode! Change your DNA!”

Dutch DNA merupakan representasi kekaguman sebuah karakter. Jadi bukan berarti kita nggak sama. Ambisi, keinginan untuk eksplorasi, berusaha untuk menaklukan keadaan, itu adalah nilainya. Setelah dari “DNA” alias dari dalam diri, juga ditopang kemampuan kompetensi. Kompetensi adalah gabungan dari Skill (keterampilan), Knowledge (pengetahuan), dan Attitude (perilaku). Dengan memiliki tiga hal ini, dijamin, “Indonesian DNA” juga ada kok. So, re-code!

Belajar dari Belanda
Menurut saya ada beberapa hal yang Indonesia (kita) harus juga bisa agar menjadi inovatif dan meningkatkan daya saing.
1. Sistem. Butuh kesadaran kolektif dan perjuangan kolektif. Para petani di belanda bersama-sama mencari solusi, dengan dukungan pemerintah juga. Sistem inovasi belanda saat ini dikembangkan dengan kerangka yang jelas dan tujuan yang pas. Sistem ini lah yang membuat Belanda Tapi belanda inovatif. Bayangkan, negeri kecil ini mampu menjadi top 5 most innovative countries di dunia menurut Global Innovation Index dan 20 Innovative countries menurut Bloomberg Innovation Index. Kita juga mestinya mampu memiliki Sistem Inovasi seperti ini.

2. Kompetensi. Faktor penting kompetensi ada pada diri kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Belanda memiliki tingkat intelektual yang tinggi dengan Top 5 Human Development Index yang mumpuni. Di tahun 2013 lalu bertengger di posisi 4 dari 187 negara. Wow. Sementara, Indonesia hanya menempati urutan 121. Sedangkan, pada Global Competitiveness Report 2014-2015 menunjukkan bahwa dalam hal pasar tenaga kerja (labor market), Indonesia masih lemah. Posisi Indonesia turun tujuh tingkat menjadi ke-110. Berdasarkan rekam jejak Belanda hingga hari ini, harusnya wajar jika Indonesia, yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda dan dalam hal sepakbola pun pada masa kolonial dapat masuk Piala Dunia tahun 1938, memperbaiki peringkatnya. Harus lebih baik, karena kita punya “Indonesian DNA”!

3. Belajar dari yang alam berikan dan dunia intelektual kodifikasikan. Alam memberikan “ilmu”nya kepada kita orang-orang yang mau belajar. Mau membaca (iqro). Orang belanda “iqro” nya sudah dari dulu, kita, masih halaman pertama. Untuk itu, pilihan studi di Belanda sangat direkomendasikan karena mempunyai SDM intelektual untuk kita mengasah kompetensi dan mempelajari Inovasi.

Yuk mari inovatif dan belajar dari Wortel van Oranye!

Referensi

http://www.bloomberg.com/graphics/2015-innovative-countries/

https://en.wikipedia.org/wiki/Flying_Dutchman

https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Dutch_inventions_and_discoveries

http://hdr.undp.org/sites/default/files/hdr14-report-en-1.pdf

http://hdr.undp.org/sites/all/themes/hdr_theme/country-notes/IDN.pdf

http://www.thejakartapost.com/news/2013/03/16/ri-makes-progress-hdi-still-below-regional-average.html

http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2013/09/130927_tinjauan_olahraga_indonesia_pialadunia1938