497. SI PENAKLUK API DARI BELANDA UNTUK INDONESIA

Penulis : Gabriel Sebastian Butar-butar
Tema : Fire
=========================================================================================================================================================

Si penakluk api atau sering disebut petugas pemadaman kebakaran(pamkar) di Indonesia sudah ada sejak Belanda masih menjajah Indonesia. Bersama-sama dengan satuan kepolisian, mereka ditugaskan untuk menjaga keamanan kota pada saat itu. Berdasarkan catatan dari buku yang berjudul “Dari BRANDWEER ke Dinas Kebakaran DKI Jakarta”, pemerintah Hindia Belanda mulai membentuk satuan pamkar pada tahun 1873. Satuan ini sebelumnya bernama Brandweer. Tugas pertama satuan ini adalah menangani masalah kebakaran di Jakarta yang diatur secara hukum dibentuk oleh Resident op Batavia melalui ketentuan Reglement op de Brandweer in de Afdeeling stand Vorstenden Van Batavia.

Kebakaran besar sempat terjadi di kampung Kramat-Kwitan dan pemerintah kota pada saat itu agak kesulitan untuk mengatasi kebakaran tersebut. Dan kemudian muncullah inisiatif untuk membentuk satuan pamkar. Setelah itu , pada tanggal 25 Januari 1915 muncul peraturan tentang pemadam kebakaran, yakni Reglement op de Brandweer itu. Jadi kalau kita dilihat dari sejarah, pemadam kebakaran ini memang sudah disiapkan oleh pemerintah Belanda.

Maka sangat besar pengaruh pemerintah Hindia Belanda pada saat itu dengan memberi solusi untuk menanggulangi si Jago Merah(api) ini yaitu dengan membentuk satuan pemadam kebakaran seperti yang dijelaskan di atas. Dengan begitu ,kebakaran yang terjadi di Indonesia pada saat itu dapat ditanggulangi dengan cepat oleh pemadam kebakaran dan sampai sekarang dengan slogan mereka yaitu “Pantang Pulang Sebelum Padam”.

Sementara untuk saat ini Belanda tetap membantu Indonesia dengan menawarkan program pelatihan pemadaman kebakaran yang saya kutip dari rilisan Harlis Syam pada Minggu, 24 November 2013. Berikut cuplikan berita tersebut.

Dua utusan dari pemerintah Belanda yaitu Theo Deen dan Flinn Deen datang ke Kota Depok pada tanggal 21 November 2013 didampingi Kepala Sub Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Kementerian Dalam Negeri, Ramses Hutagalung dan disambut oleh Wakil Wali Kota Depok H.M. Idris Abdul Shomad. Kunjungan dua tamu itu untuk melakukan penjajakan terhadap kondisi pemadam kebakaran di sejumlah kota di Tanah Air, termasuk Kota Depok. Salah satu yang ditawarkan adalah pelatihan dan pendidikan bagi petugas pemadam kebakaran dalam menangani peristiwa kebakaran seperti mengetahui lebih banyak tentang pengelolaan, mekanisme, prosedur dan sisem pemadam kebakaran di Kota Depok. Hal itu ditanyakan sebagai masukan baginya agar kelak di Kota Depok menerapkan pola penanganan kebakaran secara profesional sebagaimana diterapkan di negeri Belanda. Dia pun menanyakan jumlah penduduk dan kesiapan warga saat mengetahui atau menghadapi peristiwa kebakaran. Dan juga keduanya juga mengorek informasi tentang pemicu terbesar kebakaran di Kota Depok, serta langkah-langkah antisipasi dan cara memadamkan api. Termasuk pembelajaran kepada masyarakat tentang kebakaran.

Begitu besar peran pemerintah Belanda dalam penanganan si Jago Merah (api) ini tidak hanya pada awal mulanya terbentuk satuan pemadam kebakaran pada masa penjajahan tetapi di tahun 2013 mereka juga membantu untuk melakukan pelatihan pemadamam kebakaran kepada satuan pemadam kebakaran Indonesia. Dengan begitu sangat besar peran Belanda untuk Indonesia khususnya di bidang api yaitu penangulangannya dari lahir sampai sekarang. Sepatutnya kita berterimakasih kepada Belanda walau ini adalah dalam penjajahan tetapi mereka melakukan perubahan besar-besaran di Indonesia khususnya di daerah ibukota.

Referensi

http://www.transaktual.com/fullpost/daerah/1385272129/belanda-tawarkan-program-pelatihan-pemadaman-kebakaran.html

http://pampi-damkar.blogspot.com/2012/12/blog-post.html