506. KETERBATASAN TANPA BATAS, NEGERI VAN ORANJE

Penulis : Nur Sufianti
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Belanda negeri kincir (katanya.. katanya..)
Keju penghasilannya (katanya.. katanya..)
Tulip nama bunganya (wow.. wow..)
Dam nama bendungannya

Cuplikan lirik lagu di atas, sengaja saya ambil dari sebuah lagu yang popular di jamannya, sekitar tahun 1998-an yang sampai detik ini masih hafal jika disuruh menyanyikannya. Walaupun belum sempat berkunjung kesana, cuplikan lirik lagu tersebut seakan menghipnotis kita bahwa memang negeri Belanda terkenal dengan kincir, keju, tulip dan Dam, sebagai bendungannya. Rasa sakit karena terjajah berabad-abad lamanya, mungkin masih melekat pada diri kita apalagi saat nama “Belanda” disebut. Namun jika kita tilik lebih dalam, Belanda merupakan sebuah negara yang luas wilayahnya jauh lebih sempit dibandingkan dengan Indonesia. Luas wilayah Belanda 42.679 Km2 bahkan hampir sejajar dengan luas salah satu propinsi Indonesia, yaitu Jawa Timur 47.922 Km2. Koninkrijk der Nederlande, kerajaan tanah-tanah rendah, dari sanalah nama Netherland berasal. Netherland yang dalam bahasa Indonesia disebut Belanda memiliki sebutan bertanah rendah, karena sebagian besar tanah di Belanda berada di bawah permukaan air laut. Terlahir sebagai negara yang kurang beruntung dengan segala keterbatasan, serta merta tidak membuat Belanda menjadi negara yang mengerdil. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, Belanda telah belajar untuk menyatu dan berdamai dengan alam. Mencari berbagai solusi terbaik, menciptakan berbagai macam penemuan dan inovasi. Sampai dengan abad ini Belanda tidak lagi hanya dikenal dengan kincir, keju, tulip atau Damnya, namun merupakan sebuah bangsa yang maju secara radikal menembus seluruh lini, menjadi terdepan di setiap kemajuan, dan mengekspansi prestasi di segala bidang.

Setelah melalui perjalanan penelusuran sejarah peradaban Belanda dalam beberapa hari ini, hati ini sangat tergelitik dengan terobosan inovasi yang telah Belanda lakukan. Inovasi yang bisa dijadikan sebagai bahan cerminan bagi bangsa Indonesia belajar menjadi bangsa pembelajar. Adalah inovasi air, inovasi tanah, inovasi udara dan bahkan inovasi api yang kesemuanya saling terikat, terhubung, membentuk sebuah rantai sekaligus siklus.

Indonesia sebagai negara tropis telah dikaruniai 4 musim. Namun demikian, hadirnya 4 musim tersebut tidak membuat bangsa Indonesia terhindar dari bencana kekeringan. Seperti halnya Belanda seakan tiada henti menghadapi masalah berkepanjangan dengan air. Jika dulu air menggenangi 70% daratan Belanda, Maka Belanda menemui kendala tingginya angka kematian yang disebabkan kurangnya ketersediaan air bersih (thypoid dan kolera). Melalui inovasi udara, dengan menggunakan teknologi “Dutch Rainmaker” Belanda mampu mengubah udara menjadi air bersih. Pemanfaatan udara yang bergerak, yaitu angin merupakan sumber energi yang digunakan dalam teknologi ini. Teknologi ini diciptakan oleh Dutch Rainmaker BV, sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di Belanda. Gerakan angin yang melalui rotor akan menghasilkan energi mekanik pada turbin. Turbin akan memaksa udara melalui sebuah alat penukar panas, di mana udara akan didinginkan, dan kondensasi pun berlangsung. Ketika suhu udara turun hingga di bawah titik pengembunan, tetesan air pun akhirnya terbentuk. Tetes-tetes air ini akan terkumpul ke dalam kompartemen penyimpanan air. Air ini yang kemudian bisa digunakan untuk kebutuhan domestik (termasuk minum, mandi, cuci) maupun irigasi.

image001
Udara Sebagai Objek Utama Teknologi Dutch Rainmaker

Prinsip pengoperasian teknologi Dutch Rainmaker ini dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan udara daerah yang bersangkutan. Teknologi ini paling cocok saat digunakan di daerah yang memiliki suhu udara hangat dan iklim lembap, seperti Timur Tengah, sebagian Amerika Selatan, Afrika, Australia, serta Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dengan masalah kekeringan yang hampir setiap tahun melanda, inovasi teknologi ini diharapkan mampu menciptakan bentuk inovasi lain yang serupa.

Kemacetan sekaligus udara berpolusi adalah dua hal yang sudah menjadi makanan pokok sehari-hari terutama di ibu kota negara kita, Jakarta. Berbagai upaya solusi alternatif telah dicanangkan oleh pemerintah misalnya, pembangunan Jalan TOL, Jakarta Monorail, Peningkatan sarana transportasi kereta api, Tri in One, Car Free Day, dsb. Namun, masih belum mampu untuk mengurai kemacetan di Jakarta. Demikian halnya dengan Belanda, sebagai negara yang maju dalam perindustrian, Belanda menjadi salah satu negara dengan tingkat polusi udara yang tinggi sebagai dampak dari aktivitas industri. Bermula dari keadaan tersebut, Belanda mencoba bangkit dengan inovasi baru, yaitu dengan pergerakan penggunaan sepeda sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan dengan tidak memperburuk polusi udara. Selain itu, bersepeda juga menyimpan sejuta manfaat bagi kesehatan, salah satu hal yang paling penting adalah mengurangi stress. Belanda telah berhasil mencanangkan gerakan tersebut hingga saat ini. Maka tidak aneh jika Belanda menyabet predikat pertama sebagai negara yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi dengan jumlah mencapai 99.1% total penduduk. Belanda pun naik urutan keempat sebagai “The World’s Happiest Country” salah satunya dinilai berdasarkan kesehatan di level individu. Bermula dari sebuah inovasi dalam menghadapi polusi udara, kini bersepeda telah menjadi bagian dari budaya Belanda. Hampir semua tempat usaha di Amsterdam dilengkapi dengan tempat parkir khusus sepeda, bahkan kadang luasnya lebih besar dibandingkan parkir mobil. Hal ini bisa menjadi solusi sederhana yang bisa diaplikasikan secara nyata dan menyeluruh di Indonesia, agar Indonesia terbebas dari macet sekaligus mengurangi polusi udara.

image003

image005

image006
Patung Queen Beatrix dibuat oleh Daphné du Barry, saat Queen Beatrix sering bersepeda waktu mudanya

Satu hal terkahir yang tidak kalah bermanfaatnya terkait inovasi udara Belanda sekaligus menjadi solusi alternatif mimpi buruk bagi Indonesia adalah pengurangan penggunaan Air Conditioner (AC) dengan memakai system Greenhouse Village. Dewasa ini, penggunaan AC kian menjamur, tidak hanya di daerah perumahan tetapi juga kendaraan beroda empat, perkantoran, perhotelan, mall dsb. Pemakaian AC yang terlalu banyak di kehidupan masyarakat, turut serta andil penyebab pemanasan global. Teknik Greenhouse Village mampu mengubah rumah/gedung dari wilayah sebagai “pengguna energi” menjadi “penyedia energi”. Teknologi ini hampir samadengan system rumah kaca (greenhouse) yang sering dipakai di pertanian. Panas yang terperangkap di dalam rumah kaca bermanfaat untuk tanaman pertanian agar tetap hangat meskipun udara di luar dingin. Industri rumah kaca untuk pertanian yang berkembang pesat di Belanda ternayta tidak menyerap radiasi panas serta menghasilkan emisi gas CO2 yang masif sehingga dinilai tidak ramah lingkungan. Berlatarbelakang akan hal tersebut, Ilmuwan Belanda telah memanfaatkan rumah kaca sebagai industri rumah tangga.

image008
Cara Kerja Sirkulasi Energi Panas di Sistem Greenhouse Village

Cara kerja dari teknologi ini adalah panas berlebih (biasanya musim semi/panas) dari sinar matahari yang tertangkap dalam rumah kaca atau ruangan rumah tersebut dialirkan dan disimpan ke dalam air tanah (aquifer). Panas berlebih itu akan tersimpan dengan baik di dalam aquifer dan, voila, sehingga suhu di rumah kaca dan di rumah menjadi lebih sejuk. Jika dibutuhkan panas misal di musim gugur atau musim dingin, panas tersebut bisa “diambil” dan dialirkan ke ruangan rumah/rumah kaca misal untuk pemanas ruangan, pemanas air, atau penghangat tanaman. Untuk menjaga kestabilan tanah, Pemerintah Belanda memiliki aturan bahwa air tanah tidak boleh memiliki suhu lebih dari 25°C. Oleh sebab itu, dalam sistem ini terdapat menara pendingin (cooling tower) untuk menjaga suhu di aquifer agar tidak terlalu panas.

Berbagai rentetan inovasi udara yang telah diciptakan oleh Belanda sedikit memberikan gambaran bagi kita bahwa tidak ada negara di dunia yang terlepas dari masalah dan tantangan, sekalipun negara besar dan maju. Pelajaran berharga yang bisa diambil adalah kemampuan dalam menghadapai dan memecahkan tantangan melalui inovasi dan kreativitas bangsa sendiri. Sumber daya alam yang kaya serta sumber daya manusia yang mumpuni semoga mampu membawa Bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang mandiri, inovatif dan kreatif.

Referensi dan sumber gambar :
Sunderasan, Srinivasan. 2015. “Cleaner-Energy Investments: Cases and Teaching Notes”. India: Springer.
Dutch Rainmaker. 2013. “Product Sheet: Air to Water Production (AW 75)”. Netherlands: Dutch Rainmaker BV.
Dutch Rainmaker. 2013. “AW75 Booster to Maximize Water Production from Air”. Netherlands: Dutch Rainmaker BV

http://clubbing.kapanlagi.com/threads/118965-Fakta-tentang-Negara-Belanda-sebagai-Negeri-Sepeda