514. HOLLAND ooh… HOLLAND

Penulis : Ir. Efriati Efendi
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Banyak kenangan manis saat mengunjungi negeri kincir angin di tahun 2000 yang masih tersimpan di benak saya. Kala itu, saya mendapat kesempatan kursus singkat di Jerman. Saat ada waktu luang teman-teman mengajak mengunjungi negara Belanda, tentu tidak saya lewatkan.

Hawa dingin menusuk tulang, ketika pertama kali saya menjejakkan kaki di benua Eropa. Butuh enam jam untuk sampai kota Amsterdam dari Suderburg (Jerman) dengan menggunakan bis sewa. Tiba di Amsterdam masih pukul lima pagi. Saya pergi ke toilet untuk cuci muka, merapikan diri dan berwudhu untuk sholat subuh. Di Amsterdam tidak ada tempat khusus untuk sholat, maka saya berwudhu di toilet. Saat menaikkan kaki ke wastafel untuk berwudhu, saya ditegur oleh petugas cleaning service wanita yang saat itu bertugas, karena wastafel bukan tempat cuci kaki. Saya jelaskan kepada petugas tersebut bahwa saya mencuci kaki di wastafel sebagai salah satu syarat sebelum sholat, namun dia tidak dapat menerima penjelasan saya.

Saya sholat subuh pojok teras sebuah bangunan. Setelah sholat hari mulai terang, saya dan rombongan dari kampus Suderburg menelusuri kota Amsterdam. Pagi itu Amsterdam masih kotor karena koran dan sampah yang berserakan dijalan sedang disapu oleh petugas kebersihan. Beberapa toko mulai dibuka, saya masuk dari satu toko ke toko yang lain untuk cuci mata.

Ada souvenir mungil yang menarik perhatian saya, sepatu kecil dari kayu. Saya tanya ke penjaga toko, apa nama sepatu mungil tersebut dalam bahasa Belanda, mereka menyebut “Klompen”. Melihat klompen mungil tersebut saya jadi ingat sandal kayu, di Jawa Barat orang menyebutnya “kelom dan di Jawa Tengah bakiak yang saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat bahkan saat ini dimodifikasi menjadi “kelom geulis”. Beda model namun berfungsi sama sebagai alas kaki.

image001

image004

image002

Banyak hal di Belanda yang membuat saya kagum, antara lain tentang tata kota yang teratur, tidak ada pagar pembatas antar rumah, semua tertata rapi, banyak masyarakat menggunakan sepeda walaupun mereka mampu membeli motor sehingga mengurangi polusi. Bahkan saat ini ahli di Belanda telah menciptakan sepeda listrik energi surya yang disebut Dutch Solar Cycle atau S-Bike (Solar Bike). Pada kedua roda sepeda listrik ini diletakan sejumlah panel yang dapat menyerap panas matahari sebagai sumber tenaga baterai penggerak sepeda listrik, saat kita mengayuh pedal terbentuk tenaga yang menghasilkan energi yang dibutuhkan selain energy yang diserap dari matahari. Artinya kita tidak perlu mencharge setiap baterai habis. S-Bike mempunyai bodi ringan sehingga tidak membutuhkan banyak tenaga untuk memutar pedal.

Belanda yang sebagian besar wilayahnya lebih rendah dari permukaan laut, membuat para ilmuan berfikir keras untuk mengatasi banjir dari laut utara yang ganas bisa datang mendadak memporak porandakan negeri itu. Namun ancaman banjir tidak nampak, sebaliknya pemerintah Belanda menggunakan kali/sungai yang ada sebagai salah satu sarana wisata sungai. Dengan menggunakan kapal kecil sebesar kapal roro, wisatawan diajak mengelilingi kota untuk melihat keindahan Amsterdam. Wow… keren, air sungainya bersih, tidak ada sampah, apalagi bau. Pemerintah Belanda membangun mega struktur bendungan dan tanggul sebagai benteng penahanan banjir menggunakan sistem buka tutup yang kompleks yang dikenal sebagai Delta Project.

Selain pembangunan benteng penahan banjir ditemukan pompa system hidrolik menggunakan kincir angin untuk mengeringkan air laut, sehingga lahan pertanian untuk negeri itu bertambah. Jika kincir angin di Belanda dipakai untuk menumbuk gandum, maka di Madura masyarakat menggunakan kincir angin untuk menggerakan pompa untuk menyalurkan air laut ke darat untuk petani garam.

PENERAPAN TEKNOLOGI BELANDA DI INDONESIA DIMASA LAMPAU

Sejarah Sanitasi Indonesia 1607 – 2011

Banyak teknologi dari Belanda yang masih dipergunakan hingga saat ini diantaranya pembangunan IPAL (Instalasi Pengplahan Air Limbah). Sejak tahun 1699 diceritakan oleh Dampier bahwa kebiasaan BAB (buang air besar) kesungai atau dipantai di Aceh didasarkan anggapan bahwa air yang mengalir bisa membersihkan, Tahun 1710 terjadi pencemaran akibat 130 buah molen gula, sampah dan bekas kayu pembakaran yang sengaja dibuang ke sungai. Tahun 1916 Pemerintah Belanda membangun IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) di kota Bandung kemudian dikembangkan melalui Proyek BUDP (Bandung Urban Development Project) I, II dan III, untuk melayani seluruh Bandung + 2.800 Ha atau 17% dari luas kota; meliputi 90.000 pelanggan atau sekitar 450.000 jiwa (20% penduduk kota)

Tahun 1920 pemerintah Belanda juga membangun IPAL Di kota Cirebon untuk melayani daerah komersial, kemudian pada tahun 1978 dilanjutkan pembangunan IPAL untuk melayani Perumnas. Tahun 1996 Pemerintah Swiss membantu pembangunan IPAL baru, yang bisa melayanani 384 Ha (9.7% dari luas kota) dan total 19.000 pelanggan atau 90.000 jiwa (32 % jumlah penduduk kota).

Tahun 1935 Belanda membangun IPAL pertama di Yogyakarta, kemudian dikembangkan melalui bantuan Pemerintah Jepang yang saat ini melayani 1.250 Ha (6% luas wilayah greater Yogyakarta) sekitar 10.000 pelanggan atau 85.000 jiwa (10% populasi).

Tahun 1940 Belanda telah membangun IPAL di Surakarta selatan kemudian Perumnas melanjutkan pembangunan tahun 1984 kemudian dikembangkan lagi dengan pinjaman IBRD (SSUDP, Semarang Surakarta Urban Development Project) untuk melayani 8.000 pelanggan sekitar 70.000 jiwa pada area 1.165 Ha (sekitar 26 % luas kota)

Trem Inovatif Pertama Belanda di Batavia

image009

image009

image005

Pada tahun 1808, Daendels memulai pembangunan De Grote Postweg (Jalan Raya Pos) 1000 km jalan raya yang membentang dari Anyer di ujung barat Pulau Jawa sampai ke Panarukan di ujung timur. Banyak rakyat Indonesia yang meninggal dalam pembangunan jalan yang melewati gunung, lembah sehingga bisa selesai dalam waktu setahun untuk memudahkan dan mempercepat waktu tempuh lalu lintas darat yang saat itu menggunakan kereta kuda, delman, sepeda.

Kecepatan dan kenyamanan perjalanan semakin bertambah ketika kereta api dan mobil mulai digunakan di Hindia-Belanda. Perjalanan antar pulau di Nusantara menggunakan kapal layar dan kapal api sehinga perjalanan dari Batavia ke negeri Belanda menjadi lebih singkat dari setengah tahun menjadi enam minggu.

Di Belanda, Trem pertama digunakan tahun 1864 ditarik beberapa kuda, idenya menggabungkan gerobak pengangkut barang dengan kereta perorangan yang ditarik kuda. Tahun 1880 trem bertenaga kuda digantikan tenaga uap. Sebagai angkutan dalam kota, di Belanda, kuda dipakai sebagai angkutan umum. Tahun 1881 Jerman menawarkan rit pertama menggunakan trem listrik.

Beberapa tahun kemudian, seorang Belanda yang bernama Vaals mendapatkan ide menyalurkan aliran listrik dari bagian atas trem (bovenleiding) untuk menjalankanya sehingga tidak perlu membongkar jalan untuk membuat saluran listrik untuk menggerakan trem. Sejak itu trem yang bertenaga uap dilengkapi dengan alat itu sehingga di Belanda terbentuk jaringan trem listrik yang lebih murah daripada jaringan kereta api.

Walaupun ide electrische bovenleiding (aliran listrik jalur atas) ditemukan tahun 1884, namun baru dapat dipraktekan tahun 1899. Trem pertama di seluruh wilayah Kerajaan Belanda yang menggunakan ide inovatif itu trem listrik di Batavia. Waktu itu angkutan umum di Batavia menggunakan trem bertenaga kuda dan kereta – kereta kuda yang bisa disewa. Jalur kereta api juga sudah ada diantara Batavia dan Buitenzorg (Bogor) sejak tahun 1873.

Stasiun Semut dan Kereta Api

Sistem transportasi kereta api yang dipakai Indonesia saat ini sebagian masih warisan Belanda. Stasiun Semut Surabaya yg diresmikan 16 Mei 1878 salah satu stasiun kereta paling sibuk pada masanya. Awalnya, rel kereta api dibangun sebagai alat transportasi industri tebu dari Pasuruan ke Surabaya. Kemudian berkembang menjadi sarana transportasi masal favorit masyarakat yang kita kenal seperti saat ini 3M (massal-murah-meriah) belum bisa ditinggalkan, meski ada mobil, bis sebagai alternatif transportasi.

Revitalisasi Jalur Trem di Jawa Timur

image011

Walikota Surabaya Tri Rismaharini menemui Menteri Perhubungan Ignasius Jonan di Kantor Kementerian Perhubungan tanggal 19/3/2015. untuk membahas rencana pembangunan trem, jalur kereta api menuju Bandara Internasional Juanda, dan jalur trem menuju Pelabuhan Teluk Lamong. Tri Rismaharini meminta dukungan pemerintah pusat untuk merealisasikan pembangunan transportasi masal tersebut dengan memanfaatkan jalur lama yang direvitalisasi.

Menurut Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto Dwiatmoko PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Pemerintah Kota Surabaya telah memeriksa jalur tersebut dan dinyatakan layak untuk digunakan setelah direvitalisasi. Pembiayaan revitalisasi rel dan pengadaan gerbong trem sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Panjang (RPJMP) Kementrian Perhubungan dikerjakan tahun 2015 dan diperkirakan selesai akhir tahun 2017 dengan anggaran sekitar Rp 2 triliun. Pemkot Surabaya harus membebaskan lahan tanpa hambatan sepanjang 17 kilometer yang menghubungkan dengan Stasiun Wonokromo ke Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo (Surabaya) melalui Stasiun Waru, selain Jalur kereta dari Stasiun Tandes atau Stasiun Kandangan menuju pelabuhan Teluk Lamong diharapkan mengurangi kepadatan di jalan raya. Pembangunan jalur kereta api dan operasional kereta api akan dikerjasamakan PT Kereta Api dan Pelindo III.

Angkutan Massal Cepat (AMC) bersifat mendesak dan tidak bisa ditunda karena volume kendaraan pribadi semakin meningkat dan jalan raya semakin padat. Pemerintah harus menyediakan alternatif sarana transportasi berkualitas, trem akan paralel dengan transportasi lain seperti mobil dan motor, agar tidak memperparah kemacetan dan warga diharapkan untuk beralih dari kendaraan pribadi ke AMC, sehingga menghemat bakar bakar dan udara lebih bersih karena polusi berkurang.

Rencana pembangunan trem Wonokromo-Waru- Juanda dan jalur KA menuju Teluk Lamong tidak akan mengganggu proyek AMC pengerjaan jalur trem dan monorel yang akan menghubungkan Surabaya Utara- Surabaya Selatan (trem) dan Surabaya Barat- Surabaya Timur (monorel).

Bappeko mendahulukan penyelesaian jalur utara-selatan sepanjang 24 kilometer sebelum jalur koridor timur-barat dengan konsep mereaktivasi dan revitalisasi jalur trem lama yang dipakai dan sekarang sedang diperbaiki karena banyak jalur atau rel yang rusak, berkarat dan rapuh agar cepat jadi dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Surabaya.

Pembangunan jalur trem itu dimulai dari Selatan di Joyoboyo dengan Jalur: Wonokromo – Kebun Binatang Surabaya (KBS) – Jalan Pandegiling – Embong Malang – Kedungdoro – Pasar Blauran – Pasar Turi – Surabaya.
Jalur Utara dari Jalan Indrapura, lalu memutar ke arah Jalan Rajawali- Jembatan Merah- Tugu Pahlawan-Jalan Tunjungan-Jalan Panglima Sudirman, kembali ke Wonokromo.

Trem itu memiliki 29 titik pemberhentian (halte) setiap 1.5 kilometer sampai 2 kilometer. Trem berisi dua gerbong dengan kemampuan muat 200 orang

Saya berharap agar pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan teknologi dari peninggalan Belanda yang sudah ada dengan baik dan bisa dikembangkan lebih lanjut untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Sumber:
1. Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I, Penerbit Yayasan Obor, Jakarta 1992
2. J.J. van de Velde, Surat-surat dari Sumatera 1928-1949, Penerbit Pustaka Azet, Jakarta, Agustus 1987
3. Panduan Pengawasan Sistem Pengelolaan Air Limbah, Inspektorat Jenderal, Departemen PU
4. Risyana Sukarma and Richard Pollard. Indonesia Overview of Sanitation and Sewerage Experiencve and Policy Options, IBRDE, 2001
5. Perumusan Rencana Tindak National Bidang Air Limbah 2005-2015. Ditjen Kotdes, Depkimpraswil, Desember 2003
6. Pedoman Pengelolaan Air Limbah Perkotaan, untuk Pelaksana Lapangan di Pemerintah Kabupaten/Kota, Ditjen Kotdes, Depkimpraswil, Desember 2003
7. Permen PU Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman, Departemen Pekerjaan Umum
8. Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Indonesia; Pembelajaran dari Berbagai Pengalaman, Diterbitkan oleh POKJA AMPL, Jakarta April 2008
9. http://www.dephub.go.id/berita/baca/menhub-dan-walikota-surabaya-bertemu-bahas-trem-dan-kereta-ke-teluk-lamong
10. http://kereta-api.info/pemkot-surabaya-dahulukan-reaktivasi-jalur-rel-utara-selatan-4081.htm

Informasi Gambar:
1. Klompen: kantelcolleges.blogspot.com
2. Bakiak: renigetha.blogdetik.com
3. Kelom geulis: sandalkelommurah.wordpress.com
4. Trem Kereta Kuda: skycrapercity.com
5. Trem Jaman dahulu: stevo-balereot.blogspot.com
6. Trem di Batavia: fajarglorian.wordpress.com
7. Pertemuan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini membahas rencana pembangunan trem menuju Bandara Internasional Juanda dan Pelabuhan Teluk Lamong: diambil 21 Maret 2015: http://kereta-api.info/ditarget-selesai-2017-pemerintah-pusat-anggarkan-rp-2-triliun-untuk-trem-wonokromo-juanda-4076.htm#prettyPhoto