520. “ Air dalam Inovasi Kebencanaan Masyarakat Belanda “

Penulis : Patmawaty Taibe
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Sewaktu kuliah di Yunani saya menyempatkan diri berkunjung ke Amsterdam, inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Belanda, Negara yang sejak kecil sangat familiar di telinga saya, selalu saja ada dimana-mana khususnya di pelajaran sejarah jaman sekolah dulu. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Belanda saya merasa seperti pulang kampung, ada banyak makanan Indonesia dan pastinya menemukan TEMPE, sebagai orang Indonesia yang kala itu sedang dalam perantauan, bertemu dengan Tempe di Belanda merupakan kebahagiaan yang tiada terkira. Selain Tempe ada hal yang membuat saya mengagumi Negara ini mungkin juga semua orang yang pernah menginjakkan kaki di Belanda merasakan hal yang sama yakni kanal, full of water.

image002
Salah satu kanal di Amsterdam
2014 koleksi Patmawaty Taibe

Saat berjalan-jalan di Amsterdam dari satu kanal ke kanal lainnya, saya berpikir Amsterdam tidaklah menarik tanpa kanal-kanal tersebut. Pertanyaan sederhana muncul apa kegunaan kanal-kanal ini. Mari kita lihat, Air dan Negara Belanda mungkin seperti sisi mata koin ada sisi baik dan buruknya. Negara ini harus beradaptasi dan hidup dalam “vulnerable” rawan bencana, seluruh tempat memiliki potensi untuk bencana banjir.

Teringat dengan sebuah pepatah Inggris kuno “God created the world, but the Dutch created the Netherlands” (Tuhan menciptakan dunia tetapi orang Belanda menciptakan Neterlands). Sekitar 2000 tahun yang lalu Belanda merupakan daerah rawa dan memiliki jenis tanah gambut yang luas, Belanda terdiri atas landform yang luas dan terbentuk dari sedimen yang ditinggalkan oleh luapan banjir dari sungai dan laut, untuk terhindar dari banjir ataupun air pasang yang seringkali terjadi maka masyarakat belanda pun menimbun tanah liat di tengah-tengah lahan yang cukup luas dan lebar serta jauh dari tepian sungai yang ada sehingga tampak seperti bukit, hal ini dikenal dengan nama terpen atau artificial dwelling hill(1). Selain untuk menghindari banjir atau air pasang, bukit ini dijadikan lahan perkebunan dan peternakan. Artificial dwelling hill ini bisa dilihat di Zeeland, Groningen, dan Friesland (2).

Groningen 1772
Source: www.wikiwand.com
image004

Selain bukit buatan, Masayarakat membangun bendungan/tanggul yang mampu melindungi Belanda dari permukaan laut yang semakin meninggi. Bendungan pertama yang dibuat hanyalah untuk melindungi tanaman dari banjir, namun pada abad ke 9 tanggul-tanggul ini mulai dikembangkan dan kemudian menjadi cikal bakal desa-desa di Belanda(3). Masyarakat Belanda hidup bersama dengan banjir dan menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak zaman nenek moyang mereka. Di Belanda ada dua jenis tipe banjir yakni, internal flooding yakni banjir yang disebabkan oleh sungai untuk mengatasi tipe banjir ini dibuatlah kanal-kanal yang saling terkait dengan bendungan utama sehingga level air dapat dikontrol, sedangkan yang kedua adalah External flooding yakni banjir yang diakibatkan oleh badai yang terjadi di lautan hingga menyebabkan gelombang badai yang bisa menyebabkan kerusakan pada tanggul yang telah dibuat (4).

Terkait dengan tipe external flooding, climate change menjadi isu penting di Negara kincir angin ini, banjir dengan tipekal eksternal tentu saja akan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan Negara bunga tulip. Sehingga tidak heran jika program proteksi banjir menjadi program penting dalam pemerintahan Belanda, ada banyak kucuran dana untuk hal ini, salah satu program yang terkenal adalah DELTA project dikenal dengan nama Rijkswaterstaat/water management dimulai pada tahun 1953(3), Delta project ini dirancang dengan adanya kesadaran penuh dari Pemerintah Belanda mengenai resiko dan urgensi untuk mengelola air, termasuk penyediaan air bersih yang menjadi persoalan di Negara tersebut berdasarkan potensi geografis yang ada di Belanda.

Saat ini ada tiga elemen penting yang dibuat oleh pemerintah Belanda dalam mengatasi krisis lingkungan yang terjadi akibat climate change, yakni tidak hanya pada peningkatan infrastruktur ataupun teknologi dalam mengatasi bencana banjir namun juga secara cerdas pemerintah mempersiapkan masyarakatnya untuk hidup bersama dengan bencana tersebut, bersahabat dengan banjir ada tiga hal penting yang dikampanyekan pemerintah Belanda yakni adaptation, cooperation dan mitigation, dalam mempersiapkan diri menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin jelas dimasa sekarang ini.

Kemampuan masyarakat dalam melihat dan beradaptasi dalam hal ini merupakan hal yang menarik bagi saya, berbicara mengenai bencana khususnya bencana banjir adalah bencana yang disebabkan oleh perilaku manusia dengan tingkat keterlibatan sangat tinggi dibandingkan dengan jenis bencana alam lainnya. Sehingga peran manusia dalam hal ini juga menjadi hal penting dalam mengatasinya. Melalui adaptation, cooperation dan mitigation(5). Beradaptasi dengan bencana dan melakukan kerjasama dengan seluruh pihak akan meningkatkan perilaku-perilaku preventive yang dimulai dari individu-individu hingga ke lingkungan sosial melalui hal tersebut akan tercipta sebuah bentuk mitigasi masif yang sustainable.

Belanda mampu menjadi Negara termaju dalam mengatasi banjir dan water management, selain itu Belanda mampu melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk terlibat bersama dalam mengatasi ancaman bencana banjir, bagi saya hal yang tersullit dalam proses mitigasi adalah melakukan perubahan pada masyarakat, yang berimbas pada perubahan sikap dan perilaku. Dengan melibatkan seluruh elemen di sosial masyarakat, akan membantu terlaksananya perubahan radikal pada masyarakat. Belanda juga memberikan inspirasi kepada seluruh dunia dalam melakukan pendekatan yang sangat mempertimbangkan fungsi natural dari alam dengan mempelajari system alam dan dituangkan dalam teknologi yang mampu memberikan perlindungan dari bencana banjir(4). Diperlukan waktu yang tidak sedikit, diperlukan banyak dana, diperlukan banyak pengorbanan untuk mewujudkan masyarakat yang peduli dengan lingkungannya.

Belanda melalui keterbatasan dan dengan segala kekurangannya secara Geografis mampu menjadikannya sebagai bangsa yang termaju dalam teknologi dan mengedukasi masyarakatnya mengenai bencana banjir, jika ingin belajar water management yah, salah satu yang terbaik di dunia adalah Belanda. Belanda tidaklah menarik tanpa kanal-kanalnya, belanda tidaklah menjadi unik tanpa persoalan banjirnya, Belanda tidak akan menjadi bangsa yang hebat dalam flood protection tanpa adanya masalah banjir. Keterikatan emosional yang kuat antara masyarakat belanda dan banjir menjadi faktor penting dalam suksesnya bangsa Belanda dalam berinovasi di bidang-bidang energi terbarukan, teknik pengelolaan air dan isu-isu lingkungan hidup.

Ibu saya pernah berkata jangan mengeluh atas kesusahan yang kau hadapi tetapi carilah peluang dalam kesusahan tersebut niscaya ada hal yang luar biasa dibalik kesulitan tersebut, live in your problem, face it, do not escape, kira-kira itulah yang terjadi di Belanda, air adalah sumber masalah namun juga menjadikan bangsa Belanda mampu menemukan potensi terkuat dari bangsa mereka hingga mampu memberikan inspirasi bagi kehidupan dunia.

Sumber :
(1) http://en.wikipedia.org/wiki/Flood_control_in_the_Netherlands
(2) http://en.wikipedia.org/wiki/Artificial_dwelling_hill
(3) https://martindale.cc.lehigh.edu/sites/martindale.cc.lehigh.edu/files/FromControl.pdf
(4) http://e360.yale.edu/feature/to_control_floods_the_dutch_turn_to_nature_for_inspiration/2621/
(5) http://www.government.nl/issues/climate-change/national-measures