523. BARISAN KOTAK, NEREDA, DAN RUANG UNTUK SUNGAI

Penulis : Ambar Firda Nur’Aini
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Belanda merupakan suatu negara monarkhi konstitusional di Eropa Barat yang berbatasan langsung dengan North Sea (red : Laut utara) dan terletak diantara Belgia dan Jerman. Luas wilayah Belanda adalah 41.543 km2 dengan populasi 16.877.351 jiwa berdasarkan data pada bulan Juli 2014. Belanda merupakan muara dari 3 sungai besar di Eropa yaitu sungai Rhine, Maas atau Meuse, dan sungai Scheldt. Karena banyaknya air yang bermuara di Negeri Kincir Angin tersebut maka tak mengherankan apabila banjir merupakan ancaman bencana alam utama bagi Belanda. Selain itu, polusi air yang mencemari air di Belanda juga menjadi persoalan lingkungan yang besar bagi Belanda.

Konstitusi Kerajaan Belanda Tahun 2008 pada Bab 1 Pasal 21 dan Pasal 22 ayat (1) dan (3) menyebutkan bahwa hal penting bagi pemerintah adalah 1) Adalah suatu perhatian bagi pemerintah untuk menjaga negara agar dapat dihuni dan untuk melindungi serta memperbaiki lingkungan; 2) Pemerintah harus mengambil langkah dalam peningkatan kesehatan penduduk; dan 3) Pemerintah harus memajukan perkembangan sosial dan budaya serta kegiatan di waktu luang. Berdasarkan beberapa kewajiban pemerintah di dalam konstitusi itulah, Pemerintah Belanda melalui Kementerian Infrastruktur dan Lingkungan mengadakan inovasi atau pembaharuan di dalam pengelolaan air di Belanda untuk menanggulangi dan mencegah banjir dan polusi air yang mengancam negara tersebut.

Kementerian Infrastruktur dan Lingkungan Belanda melalui Rijkwaterstaat mempunyai 35 proyek inovasi yang dikelompokkan menjadi 4 bagian berdasarkan tujuannya. 4 bagian tersebut antara lain 1) proyek untuk keamanan air; 2) proyek untuk pengembangan ketersediaan air tawar; 3) proyek untuk menambah kualitas air; dan 4) proyek untuk menjamin daya tahan iklim. Dari semua proyek tersebut dapat diambil proyek High Water Channel, Nereda – biological waste water purification, dan BoxBarrier sebagai percontohan inovasi yang dilakukan Pemerintah Belanda yang kemungkinan bisa diterapkan di Indonesia. Mari kita mulai dari yang termudah cara kerjanya.

Pertama, BoxBarrier atau barisan kotak penghalang merupakan cara penanggulangan tercepat dan cara pencegahan termudah untuk menaikkan tinggi tembok tanggul ataupun untuk membuat perlindungan melawan air banjir. Walaupun hanya bersifat sementara tapi cara ini lebih mudah untuk melawan banjir secara semantara bila dibandingkan dengan penghalang banjir dari tumpukan karung pasir dan dapat mempercepat jalannya evakuasi penduduk. Cara kerja BoxBarrier ini unik karena untuk melawan banjir kita menggunakan air itu sendiri untuk menghalanginya. Sistem ini sangatlah efisien untuk disimpan, dipindahkan, maupun untuk diisi. BoxBarrier pun sudah digunakan sejak 2013 di Belanda.

image001
Foto penggunaan BoxBarrier yang ketigakalinya di kota Zwujndrecht, Belanda selama badai pada tanggal 10 Januari 2015. Sumber foto dari BoxBarriers.

Kedua, Nereda – biological wastewater purification yang berlokasi di kota Utrecht merupakan teknologi pemurnian air kotor menggunakan bakteri. Seperti yang disebutkan di atas tadi bahwa polusi air juga merupakan ancaman bagi negara Belanda dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan peningkatan kesehatan masyarakat, maka Pemerintah Belanda menjawab kekhawatiran dari ancaman tersebut melalui teknologi Nereda ini. Teknologi ini menggunakan butiran-butiran bakteri untuk memurnikan air dari kotoran organik ataupun dari nitrogen dan fosfat. Di dalam proses tersebut sebagian dilakukan tanpa menggunakan bahan kimia.

Keuntungan dari teknologi ini adalah teknologi ini sekarang dapat terjadi di dalam satu tangki kecil tunggal yang bisa menghemat ruang dan energi, karena air kurang diperlukan dan bahan kimia kurang diperlukan juga. Selain memurnikan air, dengan teknologi ini dapat diperoleh senyawa alginat (red : senyawa yang berasal dari alga coklat) dari lumpur tersebut. Alginat ini biasa digunakan dalam industri makanan dan bahan obat.

image003
Foto Nereda Plant di Utrecht, Belanda yang dibangun sejak 2013. Sumber foto dari Royal HaskoningDHV.

Ketiga, High Water Channel yang merupakan proyek besar dan disebut-sebut sebagai proyek once in a lifetime (red: sekali seumur hidup). Di Belanda resiko terjadinya banjir terus meningkat karena berkurangnya ruang untuk air. Sungai-sungai terjepit oleh semakin tingginya tanggul dan lahan dibelakang tanggul pun semakin berkurang sedangkan hujan semakin sering dan semakin deras. Karena terjadi pembengkakan jumlah air, maka proyek ini dilaksanakan untuk menanggulangi hal tersebut.

Proyek ini merupakan implementasi dari program “ruang untuk sungai” yang dilakukan sejak 2007. Program ini dilaksakan dengan cara-cara seperti memperdalam kedalaman sungai, penyimpanan air, relokasi tanggul, dan membuat high water channel. Pembangunan proyek ini lebarnya 500 meter sampai dengan 1500 meter yang dibentuk dengan dua tanggul sekitar 8 kilometer antara desa Veessen dan Wapenveld, Belanda. Ketika terjadi resiko banjir, saluran yang dibangun tersebut mempunyai dua fungsi yaitu sebagai ruang penyimpanan air dan sebagai jalan pintas bagi air. Saluran ini dikatakan dapat digunakan sekali sumur hidup karena daya tahan dari saluran ini bisa mencapai umur 75 tahun. Ini merupakan proyek jangka panjang.

image005
Foto keadaan lokasi high water channel dalam keadaan biasa. Sumber foto dari zus.

image007
Keadaan lokasi high water channel apabila saluran tersebut dibuka. Sumber foto dari zus.

Dari ketiga inovasi di atas, dapat dilihat kesungguhan Pemerintah Belanda dalam melaksanakan tugasnya sesuai amanat konstitusinya. Solusi penanganan masalah air dari yang bersifat sementara hingga bersifat seumur hidup. Semoga Indonesia dapat mencontoh inovasi ini.