526. “Inovasi yang Beretika untuk Mempertahankan Diri Tanpa Mengorbankan Negara Lain”

Penulis : Nyoman Agus Nova Udayana
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

“Inovasi yang Beretika untuk Mempertahankan Diri Tanpa Mengorbankan Negara Lain”
Studi Terhadap Reklamasi Sistem Polder Belanda

Belanda secara geografis merupakan negara berpermukaan rendah, dengan kira-kira 20% wilayahnya dan 21% populasinya berada di bawah permukaan laut serta, dan 50% tanahnya kurang dari satu meter di atas permukaan laut. Kenyataan yang unik ini terabadikan dalam namanya: Nederland (bahasa Belanda), yang artinya “negeri-negeri berdaratan rendah”, nama ini pun digunakan dengan beberapa variasi dalam bahasa-bahasa Eropa lainnya. Sebagian besar wilayah negara ini sangatlah datar, dengan pengecualian di kaki-kaki bukit di tenggara-jauh, dan beberapa deret perbukitan di bagian tengah. Salah satu bentuk muka yang menarik di Belanda ialah permukaan tanahnya sangat rata. Hampir separuh daripada negara Belanda berada kurang 1 meter dpl. Walaupun demikian, provinsi Limburg, yang berada di bagian tengara negeri Belanda, sedikit berbukit. Permukaan tertinggi ialah Vaalserberg, yang berada di provinsi Limburg, mempunyai ketinggian 321 m. Permukaan yang terendah ialah Nieuwerkerk aan den IJssel, yang berada 6.76 dibawah permukaan laut..Berdasarkan kondisi ini, air menjadi sahabat setia dari negara Belanda. Hampir setiap tahun negara Belanda mengalami banjir. Perjuangan melawan banjir telah dilakukan Belanda hampir selama satu milenium. Lebih dari seratus bencana banjir pernah menyerang Belanda dalam kurun waktu tersebut.

Reklamasi adalah solusi utama untuk menghadapi situasi yang dihadapi Belanda, Rreklamasi adalah proses pembentukan lahan baru di pesisir atau bantaran sungai. Sesuai dengan definisinya, tujuan utama reklamasi adalah menjadikan kawasan berair yang rusak atau tak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat. Belanda menerapkan sistem reklamasi lahan melalui sistem polder yang kompleks untuk mempertahankan wilayah Belanda dari ancaman banjir dan air pasang. Polder merupakan sistem tata air tertutup dengan elemen meliputi tanggul, pompa, saluran air, kolam retensi, pengaturan lansekap lahan, dan instalasi air kotor terpisah. Polder adalah dataran rendah yang membentuk daerah yang dikelilingi oleh tanggul. Pada daerah ini air buangan seperti air kotor dan air hujan dikumpulkan di suatu badan air (sungai, kanal) lalu dipompakan ke badan air yang lebih tinggi posisinya, hingga pada akhirnya dipompakan ke sungai atau kanal yang bermuara ke laut. Polder juga bisa diartikan sebagai tanah yang direklamasi. Sistem polder banyak diterapkan pada reklamasi laut atau muara sungai, juga pada manajemen air buangan (air kotor dan drainase hujan) di daerah yang lebih rendah dari permukaan laut dan sungai.

image001
Belanda Berada di Bawah Permukaan Air (Sumber : http://ngm.nationalgeographic.com)

Sistem polder mula-mula dikembangkan Belanda pada abad ke-11 dengan adanya dewan yang bertugas untuk menjaga level ketinggian air dan untuk melindungi daerah dari banjir (waterschappen). Kemudian sistem polder ini disempurnakan dengan penggunaan kincir angin pada abad ke-13 untuk memompa air keluar dari daerah yang berada di bawah permukaan air laut. Dengan semakin banyaknya pembangunan sistem hidrolik inovatif di negeri Van Oranje tersebut, polder dan kincir angin akhirnya menjadi identik dengan Negeri Belanda.

Polder merupakan salah satu Sistem Tata SaluranPembuang di Rawa yang disebut SistemTertutup.Kondisi hidrologi dan tata air dalam sistemsystem ini dapat dikontrol sepenuhnya oleh manusia. Biasanya sistemsystem ini berupa sistem yang dilengkapi bangunan pengendali muka air, misalnya pintu klep otomatis. Umumnya sistemsystem pembuangannya menggunakan pompa.Kelengkapan sarana fisik pada sistem polder antara lain saluran air atau kanal atau tampungan memanjang dan waduk, tanggul, serta pompa. Saluran air atau tampungan memanjang dan waduk dibangun sebagai sarana untuk mengatur penyaluran air ketika elevasi air di titik pembuangan lebih tinggi dari elevasi saluran di dalam kawasan.Yang kedua ialah tanggul yang dibuat di sekeliling kawasan yang berguna untuk mencegah masuknya air kedalam kawasan, baik yang berasal dari luapan sungai, limpasan permukaan atau akibat naiknya muka air laut. Sebaliknya dengan adanya tanggul, air yang ada di dalam kawasan tidak dapat keluar. Tanggul dibuat dengan ukuran yang lebar, besar, dan tinggi serta dapat difungsikan sebagai jalan. Yang ketiga ialah pompa air yang berfungsi sebagai pengering air pada badan air, dan bekerja secara otomatis apabila volume atau elevasi air melebihi nilai perencanaan.Sistem Polder mampu mengendalikan banjir dan genangan akibat aliran dari hulu, hujan setempat dan naiknya muka air laut (ROB). Selain dapat mengendalikan air, sistem polder juga dapat digunakan sebagai obyek wisata atau rekreasi, lahan pertanian, perikanan, dan lingkungan industri serta perkantoran.

Penerapan sistem polder dapat memecahkan masalah banjir perkotaan. Suatu sSubsistem-subsistem pengelolaan tata air tersebut sangat demokratis dan mandiri sehingga dapat dikembangkan dan dioperasikan oleh dan untuk masyarakat dalam hal pengendalian banjir kawasan permukiman mereka. Unsur terpenting di dalam sistem polder adalah organisasi pengelola, tata kelola sistem berbasis partisipasi masyarakat yang demokratis dan mandiri, serta infrastruktur tata air yang dirancang, dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat. Sedangkan pemerintah hanya bertanggung jawab terhadap pengintegrasian sistem-sistem polder, pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan sungai-sungai utama. Hal tersebut merupakan penerapan prinsip pembagian tanggung jawab dan koordinasi dalam good governance.

image002
Metode Polder (Sumber : http://ecoyouthtoyota.com)

Salah satu bencana banjir yang paling memakan banyak korban adalah yang terjadi pada tahun 1953. Bencana banjir tahun 1953 ini melatarbelakangi dipercepatnya Proyek Delta (Delta Works/ Deltawerken) karna pasalnya proyek ini sebenarnya sudah direncanakan sejak 1937, namun pada waktu itu karna ada suatu hal maka proyek ini diundur tanpa batas waktu yang belum ditentukan. Proyek Delta (Delta Works/ Deltawerken) yaitu pembangunan infrastruktur polder strategis untuk menguatkan pertahanan terhadap bencana banjir. Proyek ini dibuat dalam bentuk bendungan berseri secara berturut-turut dan bertujuan untuk menjaga daratan dari ancaman Laut Utara. Proyek Delta (Delta Works/ Deltawerken) ini terdiri dari sepuluh bendungan besar dan tiga penahan gelombang yang dibangun secara bertahap selama 39 tahun. Bendungan pertama selesai dibangun pada 1958 di Sungai The Hollandse Ijssel, sebelah timur Rotterdam. Kemudian dibangun bendungan The Ooster Dam (The Oosterschelde Stormvloedkering), yang panjangnya hampir mencapai 11 kilometer. Bendungan terakhir yang selesai dibangun adalah The Maeslantkering pada 1997. Maeslantkering dibangun di muara Nieuwe Waterweg, yaitu kanal yang menjadi gerbang masuk ke Pelabuhan Rotterdam. Tanggul ini merupakan tanggul terbuka yang melalui program komputer dapat tertutup ketika terjadi badai dari Laut Utara mencapai ketinggian di atas tiga meter.Proyek Delta (Delta Works/ Deltawerken) dibangun dengan menghadapi arus laut, gelombang dan karakter tanah yang bervariasi sehingga dianggap menjadi pencapaian tertinggi dalam konstruksi besar di lautan. Selain itu, design dan teknik yang digunakan khususnya di area persiapan fondasi dan penggunaan matras-matras fondasi perlindungan menggambarkan inovasi dan kerjasama yang kuat antara para geologist dan insinyur yang memberikan penerapan penting dalam berbagai aspek dari konstruksi yang berhubungan dengan pantai dan lepas pantai. Penggunaan komponen yang telah dibentuk sebelumnya (prefabricated) untuk kemudian ditempatkan melalui metode penempatan material-materialnya mencerminkan sebuah terobosan dalam konstruksi di laut terbuka (open water construction).Aspek lingkungan dan sosial pun sangat diperhatikan agar ekologi pantai sekitarnya tidak terganggu dan kehidupan nelayan dan kelancaran arus lalu lintas pelabuhan tidak terganggu.

image003
Proyek Delta Belanda (Sumber : http://www.holland.com)

Salah satu jenis reklamasi lainnya adalah sistem timbunan, sistem timbunan reklamasi dilakukan dengan cara menimbun perairan pantai sampai muka lahan berada di atas muka air laut tinggi (high water level).Hal yang perlu diperhatikan adalah sumber material reklamasi/urugan. Pemilihan material urugan akan mempengaruhi keputusan lokasi sumber material dan sistem transportasi yang dibutuhkan untuk membawa material ke lokasi reklamasi. Sumber urugan pada umumnya dipilih dengan melakukan pemapasan bukit, atau pemapasan pulau tak berpenghuni dan pasir. Hal ini tentunya akan mengganggu lingkungan di sekitar tempat galian (quarry). Cara lain yang relatif lebih aman dapat dilakukan dengan cara mengambil material dengan melakukan pengerukan (dredging) dasar laut di tengah laut dalam.Pilihlah kawasan laut dalam yang memiliki material dasar yang memenuhi syarat gradasi dan kekuatan bahan sesuai dengan yang diperlukan oleh kawasan reklamasi.

Negara yang paling gencar menggunakan sistem timbunan adalah Singapura, pelaksanaan reklamasi pantai Singapura Kegiatan reklamasi pantai secara garis besar dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pembangunan konstruksi pelindung pantai permanen maupun sementara, pengurukan lahan reklamasi dan peningkatan daya pikul tanah dengan sistem perbaikan tanah. B bahan yang biasa digunakan untuk menguruk lahan reklamasi adalah pasir yang telah memenuhi standard tertentu. Pada awalnya, Singapura menggunakan tanah dari bukit-bukit yang diratakan sebagai bahan uruk lahan reklamasinya. Tanah tersebut diambil dari bukit-bukit di Bedok, Siglap, Tampines dan Jurong yang diratakan. Selanjutnya, Singapura mengimpor pasir laut untuk memenuhi kebutuhan bahan urugk untuk proyek reklamasi pantainya. Pasir laut tersebut 47 Ibid 45 diimpor dari Malaysia, Amerika Serikat, Australia, Jepang, Indonesia dan lainlain. sebagian besar diimpor dari Indonesia. Berdasarkan data Singapura (MND dan Singstat), proyek reklamasi pantai tersebut secara keseluruhan memerlukan pasir laut lebih dari 1,6 milyar m3. Namun kenyataannya jumlah keseluruhan pasir laut yang dibutuhkan Singapura melebihi jumlah tersebut. Menurut data KBRI, untuk kontrak impor pasir laut dari Indonesia saja yang akan berakhir tahun 2007, jumlah pasir laut yang diperlukan sudah mencapai 2,2 milyar m3. Kebutuhan pasir laut mulai meningkat tajam pada tahun 1999 ketika singapura mulai melakukan reklamasi pantai untuk memperluas Changi Airport, Jurong dan Pasir Panjang. Pasir laut tersebut dibawa dari lokasi penambangan di Indonesia ke lokasi reklamasi dengan kapal keruk. Kapal keruk tersebut berasal dari Rusia, Belgia, Belanda, Jepang dan Eropa. Para pemilik kapal keruk membeli pasir laut dari pemegang kuasa pertambangan seharga S $ 1,75 per meter kubik, kemudian dijual seharga S $ 3.9 – 4 per meter kubik. Reklamasi pantai yang dilakukan Singapura sejak tahun 1962 tersebut telah berhasil memperluas wilayah daratannya dan juga mengubah bentuk daratan Singapura itu sendiri. Bila pada waktu merdeka tahun 1965 luas wilayah daratan Singapura hanya 581 km2 , tahun 1990 luasnya telah bertambah menjadi 633 km2 . Kegiatan reklamasi pantai yang dilakukan Singapura mulai meningkat pada tahun 1990. Hasilnya pada tahun 2000 luas wilayah daratan Singapura semakin bertambah menjadi 766 km2.

image004
Pemindahan Pasir Indonesia ke Singapura (Sumber : https://ditwassdk.files.wordpress.com)

image005
Penyedotan Pasir Bawah Laut (Sumber : http://beritatrans.com)

Reklamasi Singapura dengan mengimpor pasir dari Riau dalam kurun waktu 24 tahun (1978-2002) telah menimbulkan banyak kerugian, bukan saja aspek teritorial tapi juga ekonomi, perdagangan dan lingkungan hidup.Dalam kurun waktu itu kerugian yang dialami Indonesia telah mencapai 42,38 milyar dollar Singapura atau Rp. 237,328 trilyun. Selain itu ekspor pasir laut pada saat ini sudah memasuki kawasan Malaysia dengan kerugian sebesar 3,09 milyar dollar Singapura. Para analis pecinta lingkungan Batam mencatat pula paling tidak ada 29 kali kapal hilir mudik pembawa ribuan meter kubik pasir laut dari Riau setiap harinya menuju Singapura, di mana kapasitas muat kapal berkisar antara 1.000-4.000 meter kubik sekali angkut.

Permintaan yang besar dari Singapura terhadap pasir laut Kepulauan Riau menyebabkan banyak didirikan usaha penambangan pasir, yang resmi, setengah resmi, maupun yang liar. Usaha ini menjamur di banyak bagian pantai Riau.Pada tahun 2001 tercatat sedikitnya 140 perusahaan yang bergerak di bidang penambangan pasir laut. Dari 140 perusahaan penambangan, hanya dua yang disertai kelengkapan AMDAL. Perusahaan-perusahaan tersebut sebagian besar memegang izin dari Propinsi dan Kabupaten di Pemda Riau sejalan dengan penerapan UU No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah (Otda).
Sistem reklamasi timbunan ini menimbulkan banyak dampak negatif bagi lingkungan dan sosial. Hilangnya sebuah pulau karang di alur pelayaran antara Selat Panjang – Tanjung Balai Karimun akibat pengerukan pasir untuk pemenuhan kebutuhan reklamasi Singapura. Pengambilan pasir dengan sistem sedotan akan membuat pantai semakin curam yang mengakibatkan ombak akan lebih leluasa menghajar apapun yang ada di pantai. Abrasi semakin tidak bisa dikendalikan, terbukti dengan tertelannya Pulau Karang oleh lautan. Abrasi kini semakin menghantui berbagai daerah yang mengalami penamabangan pasir seperti Desa Parit Kecamatan Karimun, Pulau Burudan Lubuk Puding. Pengambilan pasir tersebut juga menyebabkan keruhnya lautan akibat proses pemisahan pasir dengan lumpur yang menyebabkan hasil tangkapan para nelayan menjadi berkurang, lautan menjadi keruh dan bau akibat jasad renik yang ikut terangkat ke permukaan pada saat dilakukan penyedotan. Penyedotan pasir membuat hancurnya kehidupan bawah laut seperti terumbu karang dan membuat lamanya proses perbaikan lingkungan bawah laut karena air yang keruh menyebabkan biota bawah laut tidak bisa mendapatkan sinar matahari untuk tumbuh. Kerugian ekonomi dari para nelayan yang menggantungkan kehidupannya pada laut dapat dilihat dari hasil tangkapan mereka yang menurun drastis. Sebelum penambangan pasir, para nelayan dalam 1 hari mendapatkan 40-50 kg udang, namun dengan adanya penambangan pasir, dalam 2-3 hari para nelayan hanya mendapatkan 10 kg udang. Sebelum penambangan pasir, para nelayan dalam 1 hari mendapatkan 20-35 kg ikan tenggiri namun setelah penambangan pasir para nelayan jarang bisa melihat ikan tenggiri di laut mereka.

image006
Kerusakan Pulau di Indonesia Akibat Penambangan Pasir (Sumber : https://www.ceriwis.com)

image007
Kerusakan Pulau di Indonesia Akibat Penambangan Pasir (Sumber : http://www.tnial.mil.id)

Belanda tidak memilih cara reklamasi dengan timbunan seperti Singapura yang hanya mengorbankan wilayah negara lain untuk kepentingannya. Belanda lebih memilih cara polder yang telah dikembangkan oleh negara itu sendiri mulai dari abad 11. Belanda bisa saja mengambil cara instan dengan timbunan dan membeli secara legal maupun ilegal pasir-pasir negara-negara ataupun oknum-oknum yang membutuhkan dana pemasukan yang berlimpah dari berbisnis pasirtertentu dengan iming-iming harga yang tinggi. Padahal jika dilihat dari tingkat urgentsi dari reklamasi, Belanda jauh lebih urgent karena dalam tujuan menyelamatkan penduduknya dari banjir air pasang dan untuk bertahan dari ketidakberuntungan mendapatkan wilayah di bawah permukaan laut. Jika dibandingkan Singapura yang bertujuan menambah wilayah teritorial dengan berkedok perluasan lahan tempat tinggal, Belanda lebih pantas untuk melakukan reklamasi cara instan dengan metode reklamasi timbunan, namun Belanda tidak memilih itu, Belanda lebih memilih cara yang lebih beretika untuk bertahan dari air laut dengan segala kekurangan dari sistem polder yang malah membuat Belanda tidak pernah berhenti untuk terus berinovasi menyempurnakan sistem polder tersebut, Belanda tidak mengorbankan negara lain untuk menyelamatkan wilayahnya dan bertahan dari ketidakberuntungan wilayah mereka karena Belanda mempunyai etika dalam berinovasi.

Daftar Pustaka

Anonymous, diakses 2015, Belanda, http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda.

Dr. Ir. Ruchyat Deni Djakapermana M.Eng, diakses 2015, Reklamasi Pantai Sebagai Alternatif Pengembangan Kawasan, http://penataanruang.pu.go.id/bulletin/upload/data_artikel/edisi4g.pdf.

EkaChristiningsih Tanlain, 2006, Dampak Reklamasi Pantai Singapura Terhadap Batas Maritim Indonesia-Singapura,http://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/14601/A%20
(18)%3B.pdf?sequence=1.

Kalipatra Sumatera, 2002, Blunder Berikutnya dari Sebuah Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Serakah, http://www.slideshare.net/Bembenk/lembar-informasi-112004-penambangan-pasir-laut-neraka-bagi-presentation.

Kementrian Lingkungan Hidup, diakses 2015, Reklamasi Pantai Singapura Rusak Lingkangan Indonesia, http://www.menlh.go.id/reklamasi-pantai-singapura-rusak-lingkungan-indonesia/.

Vorlan Idrus, diakses 2015, Dampak Reklamasi Pantai Terhadap Kelestarian Lingkungan

http://www.academia.edu/4432623/Reklamasi_Pantai.