528. Menjadi DJ di Bawah Matahari

Penulis : Dea Putri Utami
Tema : Fire
=========================================================================================================================================================

Ingin tahu bagaimana rasanya jadi DJ (Disc Jokey) tapi ingin belajar dengan cara yang sederhana dan gratis? Atau, ingin menonton orang nge-DJ dengan suasana yang berbeda dari biasanya (tidak perlu ke diskotik, misalnya)? Ada inovasi datang dari Yalp, sebuah perusahaan active gaming di Belanda, yang menawarkan konsep baru untuk anak muda yang tertarik dengan dunia DJ. Hanya dengan bermodalkan musik dari telepon selular dan bantuan dari alam berupa sinar matahari, Anda sudah bisa menjadi DJ dadakan. Adalah Fono, sebuah inovasi berupa DJ booth bertenaga surya!

image002

image004
Gambar 1. Fono dengan konsep outdoor
Sumber: http://www.yalpinteractive.com/653-Technology_outdoors.html

image006
Gambar 2. Desain Fono
Sumber: http://www.yalpinteractive.com/648-Outdoor_DJ_system.html

Konsep outdoor dan penggunaan matahari sebagai sumber energi yang diterapkan pada Fono mengubah persepsi orang awam bahwa dunia DJ identik dengan “dunia malam”. Yalp telah membawa dunia DJ keluar dari kegelapan secara harafiah, walaupun Fono tetap dapat digunakan pada malam hari dengan energi surya yang tersimpan di dalam baterai. Fono dilengkapi panel surya yang dipasang di bagian atap, charge controller, battery monitor, inverter, dan baterai litium. Instalasi perangkat tersebut memungkinkan Fono menggunakan energi surya bahkan ketika cuaca tidak terlalu mendukung. Ketika sistem energi surya tidak menyediakan energi yang cukup, baterai akan digunakan untuk menyuplai energi.

Didirikan di taman-taman publik di Belanda, Fono ditujukan untuk menjadi meeting point bagi orang-orang, khususnya para anak muda, untuk dapat menghubungkan mereka lewat musik dan memperkenalkan profesi DJ pada mereka sedini mungkin. Rupanya, Belanda masih ingin terus mencetak DJ handal setelah saat ini sudah punya banyak DJ yang terkenal secara internasional. Sebut saja Armin van Buuren, Tiësto, Hardwell, Afrojack, dan Ferry Corsten.

Banyaknya DJ dari Belanda yang sudah terkenal di tingkat dunia menjadikan desain Fono tidak main-main karena ada campur tangan mereka di dalamnya. Fono memang bukan merupakan perangkat DJ profesional, namun Fono dimodelkan seperti sistem DJ profesional sehingga keduanya memiliki banyak kesamaan, hanya saja Fono dioptimalkan untuk penggunaan sederhana di ruang terbuka.

image008
Gambar 3. Penggunaan telepon seluler untuk Fono
Sumber: http://www.yalpinteractive.com/649-Effects.html

image010
Gambar 4. Bagian-bagian Fono
Sumber: http://www.yalpinteractive.com/649-Effects.html

Untuk menggunakan Fono, nyalakan musik dari telepon selular Anda dan taruh telepon selular tersebut di tempat yang disediakan (gambar 3) agar suara musik teramplifikasi. Sementara itu, bagian-bagian Fono secara garis besar dapat dilihat pada gambar 4. Nomor 1 digunakan untuk mengatur volume, 2 adalah crossfader untuk menggabungkan 2 musik dari 2 ponsel yang berbeda, 3 adalah tombol loop untuk mengulang-ngulang musik, dan 4 adalah efek yang bisa ditambahkan pada musik. Ada enam efek yang tersedia: Scratch, Filter, Pitch, Delay, Flanger and Crush. Tampak simple untuk seorang pemula, bukan?

Pada tahun 2014, Fono memenangkan Red Dot design award, sebuah kompetisi desain berskala internasional yang dikenal sebagai ‘the Oscar of design’. Fono mengalahkan 4.815 desain lain dari 53 negara yang bersaing di berbagai kategori. Kini, Fono sudah digunakan juga di negara lain selain Belanda, seperti Finlandia, Denmark, Swedia, dan Australia.

Menggabungkan inovasi di sektor industri kreatif dan energi, Fono merupakan produk yang menarik. Dari sini bisa dilihat betapa Belanda serius untuk mengembangkan energi terbarukan hingga mampu mengimplementasikannya untuk sesuatu yang tak terduga sebelumnya, hal yang patut diteladani oleh bangsa Indonesia. Indonesia memang belum memanfaatkan energi surya seintens Belanda. Padahal, potensi energi surya Indonesia sebenarnya lebih besar dari Belanda. Coba kita bandingkan dua peta berikut:

image013

image012
Gambar 5. Global Horizontal Irradiation Belanda dan Indonesia
Sumber: http://solargis.info/doc/free-solar-radiation-maps-GHI

Global Horizontal Irradiation (GHI) adalah parameter penting yang digunakan untuk mengevaluasi potensi energi surya di sebuah daerah. Dari gambar 5 bisa dilihat bahwa rata-rata GHI tahunan Indonesia lebih tinggi dari Belanda. Artinya, sebenarnya Indonesia juga punya potensi, bahkan lebih besar! Karena itu, diharapkan inovasi-inovasi yang dilakukan Belanda dapat menginspirasi kita semua. Banyak contoh yang bisa kita ambil. Fono oleh Yalp adalah salah satunya.

Referensi

http://www.yalpinteractive.com/

http://thebanginbeats.com/2014/07/19/dutch-company-launches-revolutionary-fono-solar-powered-public-dj-booth/

http://www.victronenergy.com/markets/off-grid/Fono

http://solargis.info/doc/free-solar-radiation-maps-GHI