529. Ungkapan Cinta Bumi Lewat Groasis Waterboxx

Penulis : Dea Putri Utami
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Manusia punya banyak cara dalam mengungkapkan rasa cintanya pada bumi yang, setidaknya sampai saat tulisan ini dibuat, menjadi satu-satunya planet layak huni bagi kita semua. Buktinya, permasalahan lingkungan telah menginisiasi berbagai inisiatif yang kreatif. Tak terkecuali inisiatif yang datang dari Pieter Hoff, seorang mantan eksportir bunga lili dan tulip dari Belanda. Pieter berinisiatif untuk menghijaukan kembali bumi kita lewat inovasinya pada air dalam wujud sebuah inkubator tanaman bernama Groasis Waterboxx. Inovasi tersebut telah berhasil diterapkan di berbagai negara dan memenangkan berbagai penghargaan, seperti Best of What’s New 2010 dari majalah Popular Science.

image001
Gambar 1. Pieter Hoff dan Groasis Waterboxx
Sumber: http://www.theguardian.com/technology/2010/nov/28/bright-idea-pieter-hoff-agriculture

Menurut United Nations Convention to Combat Desertification, 52% area untuk pertanian telah terdegradasi, padahal area tersebut seharusnya dapat menghasilkan 20 juta ton tanaman biji-bijian setiap tahun sehingga tidak perlu ada 1.5 milyar orang yang terkena dampaknya. Singkat cerita: degradasi lahan memberikan efek domino pada aspek-aspek lain seperti ketahanan pangan dan kemiskinan. Hal itulah yang menginspirasi Pieter dalam berinovasi. Membawa misi untuk menghijaukan 2 milyar hektar area yang terdegradasi, berkelilinglah Pieter dengan inovasinya ke berbagai penjuru dunia dengan moto: “If the area was small enough to cut, it is certainly small enough to replant!”

Misi dan moto tersebut menjadi dasar pengembangan Groasis Waterboxx yang memungkinkan penanaman pohon di kondisi ekstrem: lahan kering, longsor, dan bahkan di atas batu besar! Kuncinya adalah inovasi pada penggunaan air. Dengan teknologi ini, kita hanya perlu “investasi” sepersepuluh dari jumlah normal air yang biasa dibutuhkan, atau sama dengan menghemat 90% air, dan tidak perlu dilakukan irigasi secara kontinu. Bagaimana bisa? Tak kenal maka tak sayang, maka mari kita kenali Groasis Waterboxx dan bersiaplah untuk berdecak kagum atas betapa setiap detail perangkat ini didesain dengan penuh determinasi!

image003
Gambar 2. Desain Groasis Waterboxx
Sumber: http://poptech.org/blog/pieter_hoff_saving_the_world_with_radical_roots_and_water_batteries

Gambar 2 menunjukkan desain dan bagian dalam Waterboxx dilihat dari atas dan samping. Di bagian tengah (a), terdapat lubang untuk tempat tanaman bertumbuh, sementara ruang yang mengelilingi lubang tersebut (b) diisi sekitar 15 liter air. Selain itu, ada juga lubang (c) yang berfungsi untuk mengalirkan air hujan dan air yang dihasilkan dari kondensasi ke dalam Waterboxx atau ruang (b).

Kondensasi? Ya, seperti saat kita naik mobil di tengah hujan, kaca mobil akan berembun karena ada perbedaan temperatur di luar dan di dalam mobil. Begitu pula dengan prinsip Waterboxx ini. Malam hari, temperatur luar yang lebih rendah dibandingkan di dalam Waterboxx menyebabkan terjadinya kondensasi/pengembunan, yaitu perubahan udara menjadi air, dan air yang dihasilkan akan mengalir ke dalam Waterboxx. Itulah mengapa desain tutup Waterboxx miring seperti pada gambar. Walaupun tidak sebanyak air hujan, tapi karena terjadi konsisten setiap malam, maka pertambahan air dari pengembunan ini juga tak kalah pentingnya. Bersama-sama dengan air hujan, air ini kemudian akan berfungsi untuk menjaga temperatur dalam Waterboxx agar tercipta iklim mikro yang baik untuk pertumbuhan tanaman.

Di bagian bawah Waterboxx terdapat sebuah sumbu kecil (d) yang berfungsi untuk mengalirkan air ke dalam tanah. Laju air yang mengalir ini diatur sedemikian rupa (50 ml per hari, kira-kira setara dengan 10 sendok teh) sehingga cukup untuk menjaga tanaman tetap hidup tapi tidak cukup untuk menumbuhkannya dengan normal. Sebagaimana manusia yang tidak semestinya dimanjakan agar bisa mandiri dan survive, begitu pula tanaman dalam Waterboxx. Pemilihan kuantitas air tersebut adalah trik supaya akar tanaman terpacu untuk terus tumbuh ke bawah, mencari air ke tanah yang lebih dalam sehingga nantinya dihasilkan akar yang lebih kuat. Ketika sudah punya akar yang kuat, tanaman bisa tumbuh sendiri dan Waterboxx bisa dilepas. Hebatnya, Waterboxx tidak langsung pensiun, tapi dapat digunakan kembali untuk 10-20 tanaman. Bagaimana, sudah cukup terpukau?

Keberhasilan Waterboxx sudah terbukti di berbagai negara, seperti Spanyol, Ekuador, Peru, India, Prancis, Amerika Serikat, dan tentunya di Belanda sendiri. Bahkan, teknologi ini juga berhasil diterapkan di Gurun Sahara, Maroko oleh Sahara Roots Foundation.

image007

image006
Gambar 3. Aplikasi Groasis Waterboxx di Gurun Sahara, Oktober 2011 (atas) dan Februari 2014 (bawah)
Sumber: http://www.groasis.com/en/technology/sahara-roots

Tak heran, berkat teknologi ini, Pieter memenangkan Best of What’s New 2010 oleh majalah Popular Science dengan mengalahkan 119 inovasi lainnya, termasuk iPad dan Porsche 918 Spyder. Dan teknologi ini tidaklah seperti penyanyi yang terkenal karena satu lagu saja lalu menghilang, melainkan berbagai penghargaan lain juga disabetnya, bukti dari betapa signifikannya aplikasi teknologi ini untuk masyarakat luas. Penghargaan-penghargaan lain itu di antaranya,:

1. Best New Product for Gulf Market – Agriculture Award of AgraMe (2015)
2. Accenture “Green Tulip Award” (2014)
3. 14 semi-finalist in Climate Colab Contest by Massachusetts Institute of Technology (2014)
4. Sustainia 100 Award (2014)
5. Environmental Excellence Award (2012)
6. Limburg Design Association Award (2011)
7. Beta Dragon Science Award (2008)

Bukan tidak mungkin proyek Groasis akan sampai ke Indonesia suatu saat nanti. Berdasarkan data WWF Indonesia, hutan hujan tropis di Indonesia pada 2003 adalah yang terluas ke-3 di dunia, namun hampir setengahnya sudah terdegradasi. Berikut proyeksi kondisi hutan Kalimantan sampai 2020:

2015-04-29_215002
Gambar 4. Proyeksi Hutan Kalimantan sampai 2020
Sumber: http://awsassets.wwf.or.id/downloads/lembar_fakta_deforestasi_tanpa_foto.pdf

Jadi, bukan hanya Earth Hour, Car Free Day, atau gerakan cinta bumi lainnya saja yang butuh dukungan dari seantero penghuni bumi. Teknologi Groasis Waterboxx juga butuh dukungan masif. Untuk mengajak dunia berpartisipasi, pada akhir presentasinya di PopTech 2010, Pieter memaparkan beberapa inovasi di Belanda seperti 100.000 mil kanal, 8000 mil tanggul, dan green energy dari angin. Ia percaya metode yang dilakukan Belanda untuk membuat semua itu dapat juga menyukseskan misinya menghijaukan bumi kita ini:

“All this created, without slaves, based on free cooperation and a determined will. If we could make Holland from the sea, why can’t the world make its eroded areas productive?” – Pieter Hoff-

Belajar dari alam. Mencari kemungkinan di setiap keterbatasan. Terus bertanya “mengapa” untuk kemudian menemukan “bagaimana”. Itulah hal-hal yang perlu kita pelajari dari Pieter Hoff dan Belanda. Bangsa Indonesia dengan kekayaan biodiversitasnya sudah punya modal kuat untuk berinovasi. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan potensi tersebut secara berkelanjutan untuk kesejahteraan Indonesia, dan bahkan dunia.

Referensi

http://www.groasis.com

http://www.theguardian.com/technology/2010/nov/28/bright-idea-pieter-hoff-agriculture

http://poptech.org/blog/pieter_hoff_saving_the_world_with_radical_roots_and_water_batteries

http://awsassets.wwf.or.id/downloads/lembar_fakta_deforestasi_tanpa_foto.pdf

http://www.unccd.int/Lists/SiteDocumentLibrary/WDCD/DLDD%20Facts.pdf