531. BELANDA dan AIR

Penulis : FARIDA ARDIANI
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Sesuatu yang dirasa tidak mungkin, ternyata dapat dilakukan dan benar-benar dibuktikan oleh Belanda. Bagaimana tidak? Pada tanggal 1 Januari 1986 Belanda memproklamirkan provinsi baru, yaitu Flevoland sebagai provinsi ke-12, dengan luas area 2.412,30 km2 (5,8% dari total luas wilayah Belanda) yang terdiri dari 1,419 km2 daratan dan 993 km2 perairan. Provinsi tersebut tidak hadir serta merta dari wilayah yang sudah terbentang atau mengambil wilayah negara tetangga, yaitu Germany and Belgium, melainkan lahir dari proses reklamasi tanah di Zuiderzee. Satu abad lalu, Flevoland hanyalah sepetak air di Zuiderzee.

Belanda dikenal sebagai negara yang memiliki topografi dataran rendah dan negara yang melakukan reklamasi tanah yang disebut polder. Sebagian wilayah Belanda merupakan hasil polder di bawah permukaan air laut, hal ini dimaksudkan untuk memperluas wilayah daratan. Selain itu, terdapat tanggul yang dibangun guna mengantisipasi banjir kiriman dari laut. Upaya tersebut dilakukan Belanda untuk mengembangkan negaranya.

Polder adalah daerah yang memiliki dataran rendah yang tertutup oleh tanggul (bendungan) yang membentuk suatu entitas hidrologi buatan. Ada tiga jenis polder:
1. Reklamasi tanah dari wilayah perairan, seperti danau atau laut.
2. Dataran rentan banjir dipisahkan dari laut atau sungai dengan tanggul.
3. Rawa dipisahkan dari air disekitarnya yang dibatasi dengan tanggul, kemudian dikeringkan.
Belanda membangun Flevoland dengan cara reklamasi tanah, yang mulanya diupayakan dengan membangun tanggul di Zuiderzee agar air laut tidak masuk kembali. Setelah tanggul dibangun, kanal dan pompa digunakan untuk mengeringkan tanah serta menjaga agar tanah tetap kering. Tanah baru tersebut yang menyebabkan penciptaan provinsi baru, Flevoland, yang sebenarnya merupakan wilayah perairan selama berabad-abad sebelumnya.

Belanda telah melakukan polder pada beberapa wilayah di negaranya. Berikut merupakan beberapa daerah beserta keterangan tahun pengeringan lahannya, yang telah dibangun Belanda melalui proses polder: Beemster (1609-1612), Haarlemmermeerpolder (1852), dan beberapa bagian dari Zuiderzee, yaitu: Wieringermeerpolder (1930), Noordoostpolder (1942), dan Flevopolder (1956/1966). Flevopolder merupakan sebutan untuk daerah Flevoland, yang merupakan hasil reklamasi. Bagian timur dan selatan Flevoland masing-masing dikeringkan pada tahun 1955 dan tahun 1968.

Polder dilakukan Belanda pada beberapa wilayah di negaranya, karena secara geografis sekitar 20% wilayah Belanda merupakan dataran rendah, 21% berada di bawah permukaan air laut, dan 50% berada pada ketinggian kurang dari satu meter di atas permukaan air laut. Minimnya daratan serta antisispasi datangnya banjir karena dataran yang rendah dengan ketinggian hanya kurang dari satu meter di atas permukaan air laut, membuat Belanda berusaha keras untuk menahan air laut agar tidak mengikis wilayah daratannya, serta berusaha memperluas wilayahnya dari laut utara.

Inovasi yang telah dilakukan Belanda pada sektor perairan, dengan menjadikannya daratan melalui proses polder, membuat negara tersebut dapat memperluas wilayah daratannya. Inovasi ini menghasilkan output yang besar, sebagai penggerak ekonomi masyarakat Belanda khususnya di daerah polder. Sejarah Flevoland sebagai daerah polder, dimulai dari pernyataan yang diucapkan oleh Ratu Belanda Wilhelmina, selama pidatonya pada September 1913: “I consider it time to initiate the enclosure and reclamation of the Zuiderzee. This will result in an improvement to the water management infrastructure of the surrounding provinces, expansion of the habitable land area and a permanent increase in employment”. Kini pernyataan tersebut telah dibuktikan dan dapat dirasakan manfaatnya oleh penduduk daerah hasil reklamasi Zuiderzee, salah satunya adalah Flevoland yang memiliki sekitar 395,525 penduduk, yang merupakan 2,4% dari total penduduk Belanda. Gross Regional Domestic Product (GRDP) atau hasil laba kotor produk daerah Flevoland adalah €9 .8b (1,7% dari hasil laba kotor Belanda). Tingkat pertumbuhan tahunan hasil laba kotor produk daerah Flevoland adalah 3,3% di periode 2005-2010, hasil tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata di Belanda (2,8%). Tingkat ketenagakerjaan tertinggi di Flevoland, yaitu pada sektor publik (20,8%), diikuti oleh grosir dan perdagangan ritel, transportasi, akomodasi dan kuliner (18,8%). Sedangkan tingkat pekerjaan terendah, berada pada sektor keuangan dan asuransi (2,3%), serta sektor pertanian, perburuan, kehutanan dan perikanan (2,1%). Almere dan Lelystad merupakan kota terbesar di Flevoland, yang juga termasuk dalam tujuh kota terbesar di Belanda. Kedua kota tersebut memiliki laju pertumbuhan penduduk yang tergolong cepat di Belanda, yaitu masing-masing hampir mencapai 200.000 jiwa dan 75.000 jiwa.

Kemampuan Belanda berinovasi dalam memperluas wilayahnya melalui proses polder agar warga negaranya lebih makmur, serta membuat wilayah negaranya lebih berkembang sudah diakui dimata dunia. Daerah yang mulanya merupakan perairan, disulap oleh Belanda menjadi daratan. Ini merupakan inovasi yang sungguh tidak diragukan lagi kehebatannya. Dengan demikian, suatu saat nanti tidak mustahil jika Belanda mampu menggebrak kembali dunia dengan inovasi terbarunya, semisal rekayasa iklim. Hal ini kembali dimaksudkan untuk memakmurkan warga negara serta memajukan perekonomian sebuah negara.

Iklim merupakan kumpulan variasi musim sebagai kesatuan dalam waktu yang relatif lama baik secara lokal, regional atau meliputi seluruh bumi. Iklim dapat mengalami perubahan dari beberapa aspek seperti orbit bumi, perubahan samudera atau keluaran energi matahari. Iklim tentunya menjadi salah satu momok besar pada beberapa sektor bisnis, yang proses bisnisnya bergantung pada musim tertentu. Musim yang tak menentu sering kali membuat para pelaku bisnis kesusahan dalam melakukan proses dan menentukan target bisnis. Semisal pada sektor pertanian, hujan yang tidak dapat dipastikan akan turun pada rentang bulan tertentu, kadang datang lebih awal atau sebaliknya melewati batas normal, hal ini akan mengganggu prakiraan jadwal pembibitan dan jadwal panen. Jika intensitas hujan berlebih dan dalam jangka waktu panjang, maka dapat mengakibatkan terjadinya banjir, sehingga mengakibatkan gagal panen. Sebaliknya, jika hujan tidak kunjung turun, juga akan mengakibatkan hal yang sama, yaitu gagal panen karena padi mengering.

Akibat dari gagal panen, tentunya berdampak pada perekonomian negara yang terganggu dengan menurunnya pasokan beras. Petani sebagai pelaku bisnispun mengalami kerugian atas kegagalannya memanen padi. Secara logika ekonomi, jika penawaran menurun sementara permintaan tetap atau bahkan meningkat, maka hal tersebut akan mengakibatkan harga komoditas naik. Rantai bisnis ini akan menjangkau semua level, hingga masyarakat biasa sebagai konsumen pun akan menerima dampak dari hal tersebut berupa kenaikan harga, dikarenakan kelangkaannya. Jika suatu saat nanti inovasi rekayasa iklim benar dapat diwujudkan, maka Belanda kembali berinovasi pada salah satu elemen kehidupan, yaitu udara. 
REFERENSI

1. https://ec.europa.eu/growth/tools-databases/regional-innovation-monitor/base-profile/flevoland/flevoland
2. http://self.gutenberg.org/article/WHEBN0000042997/Flevoland
3. http://geography.about.com/od/specificplacesofinterest/a/dykes.htm
4. http://www.flevoland.nl/english/from-past-to-present/
5. http://geography.about.com/od/netherlandsmaps/a/netherlandsgeography.htm
6. http://self.gutenberg.org/article/WHEBN0000048065/Polder
7. http://self.gutenberg.org/articles/flevopolder
8. http://self.gutenberg.org/article/WHEBN0000021148/Netherlands#cite_note-milrek-11
9. http://coastalcare.org/2010/12/land-reclamation-at-rotterdam-netherlands/
10. http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/iklim_dan_energi/solusikami/kampanye/powerswitch/spt_iklim/