532. BUDIDAYA PERIKANAN : DARI 1 MENJADI SERATUS

Penulis : Andriano P S
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

image002

“We must plant the sea and herd its animals using the sea as farmers instead of hunters. That is what civilization is all about — farming replacing hunting.”-Jacques Y C-

Budidaya perikanan (aquaculture) belakangan ini menjadi topik yang tren bagi Belanda. Negara kecil yang dikelilingi oleh laut ini menyadari bahwa tingkat konsumsi harian masyarakat, bukan hanya dari Belanda namun seluruh masyarakat dari negara berkembang hingga negara maju, terhadap hasil laut meningkat sangat pesat tetapi dilain pihak persediaan sumber daya laut semakin berkurang. Dimulai dari daerah pesisir, dasar laut hingga laut dalam, semua sumberdaya ini dapat memiliki nilai ekonomi yang dapat memberikan pendapatan yang maksimal dalam jangka panjang. Menyadari ancaman tersebut, Belanda menjawab tantangan ini dengan inovasi-inovasi dan menggunakan kesempatan serta kemampuan yang dimiliki oleh negara yang terkenal dengan kincir anginnya.

Dalam bidang budidaya perikanan, Belanda sangat terkenal dengan jumlah kerang-kerangan (shellfish) yang melimpah. Budidaya perikanan merupakan tanggung jawab penuh oleh Kementrian Budidaya Perikanan, Alam, dan Kualitas Makanan. Ada berbagai macam tantangan dalam membudidayakan species ini. Contohnya seperti benih shellfish masih menggunakan benih impor sehingga meningkatkan biaya produksinya, dibutuhkan tingkat kehati-hatian dan ketelitian yang tinggi sepanjang proses budidaya perikanan sebab pekerjaan ini berhubungan langsung dengan alam. Selain itu, terkadang selama proses budidaya perikanan, terdapat juga beberapa bakteri yang mengganggu kesehatan ikan. Namun, Belanda mengubah tantangan tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan nasional akibat minat masyarakat eropa, bahkan internasional, yang mulai berubah dari konsumsi hasil peternakan menjadi konsumsi hasil perikanan.

image004

Lantas, apa saja inovasi yang dilakukan oleh Belanda untuk mengubah tantangan ini menjadi Euro? Sebagai negara yang terkenal dengan teknologi modernnya, Belanda telah menggunakan teknologi yang efektif dan efisien dalam melakukan budidaya perikanan. Teknologi Sistem Resirkulasi Aquakultur Tertutup adalah salah satu teknologi yang digunakan untuk mengurangi konsumsi air dan energi selama proses budidaya serta mengurangi emisi nutrisi dan berdampak pada lingkungan. Sistem ini beroperasi dengan menggunakan air yang telah digunakan selama budidaya perikanan, lalu memurnikan air tersebut secara mekanis dan biologis. Sistem ini juga akan mengontrol temperatur air yang digunakan, sehingga ikan yang dibudidayakan memiliki kondisi tubuh yang optimal. Pada saat ikan budidaya diberi makanan berupa tumbuh-tumbuhan maupun alga, makanan tersebut mengandung nitrogen yang berguna namun juga berbahaya jika memiliki kandungan NH3. Sistem yang mempunyai filtrasi air ini akan berfungsi untuk menguraikan ammonia (NH3) menjadi nitrogen (N2) dan karbondioksida (CO2). Dengan sistem ini, dengan area yang terbatas akan menghasilkan output yang maksimal dan air yang digunakan selama budidaya perikanan sangatlah minimal bahkan bisa mencapai 1% – 5% dari jumlah air yang digunakan oleh pembudidaya ikan di Asia. Teknologi ini telah menempatkan Belanda sebagai salah satu produser kerang-kerangan (shellfish) terbesar. Spesies shellfish yang terkenal yaitu blue mussel (produksi sekitar 38.000 MT per tahun), Pacific oyster (produksi sekitar 1500 ton per tahun) dan European oyster (produksi sebesar 100 ton per tahun).

image005

Selain kerang-kerangan, budidaya perikanan Belanda juga sementara berinovasi dalam hal peningkatan produksi rumput laut. Minat konsumsi masyarakat global terhadap rumput laut meningkat setiap hari mengakibatkan semua negara produsen rumput laut berlomba dalam meningkatkan produksi rumput lautnya dalam jangka waktu yang singkat. Dalam kompetisi ini, Belanda telah menghasilkan pendapatan sebesar US$7.5 milyar dan diprediksikan menigkat setiap tahunnya mengingat tingkat konsumsi rumput laut yang pesat karena nutrisi yang terkandung dalam rumput laut seperti protein tergolong tinggi. Konsep yang digunakan yaitu mengadopsi konsep produksi berkelanjutan yang mengkombinasikan keuntungan ekonomis dan keseimbangan ekosistem laut.

Inovasi Belanda tidak hanya berhenti pada tahap pengembangan teknologi semata, salah satu negara yang sangat berkontribusi dalam kestabilan European Union (EU) ini juga memiliki peraturan yang sangat disiplin sehubungan dengan budidaya perikanan. Netherlands Institute for Fishery Research (RIVO) sebagai pihak pemerintah Belanda yang bertanggung jawab dalam budidaya perikanan, melakukan pengawasan terhadap area-area yang menjadi pusat pembudidayaan perikanan seperti di area Oosterschelde, Laut Wadden, dan Danau Grevelingen. Jika produksi ikan ini berkembang ke daerah lain, maka pengawasannya juga akan mengalami perluasan. Jika kuantitas ikan ini melebihi standar yang telah ditetapkan, hal ini akan mengganggu ekosistem laut sehingga Pemerintah Belanda akan menutup area tersebut dan memanen ikan tersebut. Jika sampel ini kembali dalam sekitar kuantitas normal maka area tersebut akan dibuka kembali. Tantangan bukan hanya terjadi ketika kuantitas sampel melebihi standar namun juga ketika jumlah sampel sangat minim karena akan mengakibatkan burung pemakan ikan mengalami kekurangan makanan itulah sebabnya jumlah sampel menjadi bagian penting dalam keseimbangan ekosistem. Selain mengontrol populasi sampel, Pemerintah Belanda juga mengontrol temperature dan kualitas air di area budidaya perikanan. Sampel air ini akan diujicoba apakah mengandung zat-zat beracun, bakteri, hama, dan sebagainya. Setelah proses produksi budidaya perikanan, maka seluruh limbah hasil produksi seperti ukuran ikan produksi yang kekecilan dan kerang yang rusak akan dimurnikan dan diproses di daerah Yarseke, Belanda, dan akan dibawa oleh kapal ke tempat pembuangan limbah di laut yang telah ditentukan.

image007

Budidaya perikanan pada masa kini telah mengubah persepsi masyarakat bahwa sumberdaya laut bukan hanya untuk dikonsumsi tapi juga harus dibudidayakan untuk mendapatkan nilai ekonomis yang maksimal dan berkelanjutan. Budidaya perikanan juga sangat membutuhkan inovasi teknologi yang efektif dan efisien serta peraturan pemerintah yang dapat melindungi kestabilan ekosistem. Dengan meningkatnya aktifitas budidaya perikanan di Belanda, hal ini juga sudah perlahan mulai berdampak pada perekonomian Belanda karena selain meningkatkan produksi perikanan dengan input yang minimal, hal ini juga mengurangi tingkat pengangguran negara karena semakin banyak perusahaan swasta yang mulai beralih ke bidang ini. Inovasi Belanda dalam budidaya perikanan telah mengalami peningkatan yang pesat. Hal ini dibuktikan dengan status Belanda sebagai eksportir perikanan terbesar ke 10 dibawah Denmark dan Spanyol. Jika Belanda dapat memberikan inovasi yang luar biasa dalam mengatasi kondisi geografis dimana daratan yang lebih rendah dibanding lautnya (Netherland), maka bukanlah hal yang mustahil jika Belanda akan terus memberikan inovasi yang luar biasa di bidang budidaya perikanan. Dengan sumberdaya perikanan yang melimpah khususnya species kerang-kerangan (shellfish) dan kondisi laut yang sehat, hal ini menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi
Belanda. World needs more Netherland’s Innovation.

REFERENSI

http://www.dutchagrofood.com/english/fisheries-and-aquaculture/services/aquaculture/

http://www.dutchagrofood.com/english/fisheries-and-aquaculture/photo-gallery/

http://www.fao.org/fishery/countrysector/naso_netherlands/en

http://www.fishion-aquaculture.com/en/farming/recirculation-farm/

http://www.fao.org/3/a-i0970e/i0970e01d.pdf