542. (Air) Seni Memuliakan Tanah di Belanda

Penulis : Rizal Bagus Rahman
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

“There are some people who live in a dream world, and there are some who face reality; and then there are those who turn one into the other.” (Desiderius Erasmus, 1466-1536)

Bagi saya, ucapan seorang filsuf di atas telah menantang bangsa Belanda untuk berani mengubah impian jadi kenyataan. Tak habis di benak kita, ketika berbicara Belanda sering sekali menghubungkannya dengan kegiatan inovasi yang tak pernah mati. Dianugerahi tanah yang lebih rendah dari lautan, pun sumber daya yang tidak begitu melimpah-ruah, menjadikan manusia Belanda memiliki satu pertanyaan yang terus-menerus dijawab melalui etos hidup mereka, “Bagaimana kami bisa bertahan hidup?”

Ya, itulah kunci inovasi. Masyarakat Belanda hidup dengan kreasi. Sejarah mencatat, tak sedikit temuan dan pembaruan teknologi dipelopori Belanda. Alam barang kali tidak hanya jadi penyegar mata, tetapi sekaligus menjadi tantangan yang selalu diperhatikan agar bisa bertahan beratus tahun ke depan, sembari mempersiapkan sebaik-baik warisan bagi anak-cucu dan handai taulan.

Belanda, berkali-kali memukau dunia. Termasuk saya, yang berhasil terpikat oleh pesona negeri van Oranje ini. Soal bumi, Belanda tak pernah main-main. Tanah dipandang sebagai sahabat yang pantang untuk dirusak. Mereka menyangga kehidupan dengan membersamai alam, bahkan dengan hal-hal di luar nalar kita!

Terpikirkah oleh Anda, kalau urine atau air seni manusia bisa menjadi alternatif pupuk bagi tanaman? Belanda lagi-lagi menjawabnya. Alih-alih ketika dunia kelimpungan dengan pupuk berbahan dasar kimia yang dinilai membahayakan lingkungan, otoritas pemeliharaan air di kota Amsterdam menaruh perhatian bagi upaya penyelamatan tanah. Caranya, pemerintah kota memanfaatkan Public Urinals—sebuah fasilitas toilet umum untuk buang air kecil warga kota—dengan mengalihkan pembuangan urine yang semula dibiarkan menuju laut kemudian ‘diotak-atik’ jadi sesuatu yang berharga.

Air seni ternyata tak selamanya dibuang percuma. Menurut Peer Roojimans[1], kandungan fosfor dan nitrogen yang ada di dalam urine manusia selanjutnya akan dipisahkan dan dibersihkan, lalu menghasilkan konsentrat baru sebagai bahan baku untuk penyubur tanaman. Menakjubkan, bukan?

image002
Gambar 1. Public Urinals yang ada di kota Amsterdam. Warga laki-laki terlihat sedang memanfaatkan fasilitas ini.

Waternet, salah satu perusahaan lokal pemasok air di Amsterdam, memprediksikan bahwa pada tahun 2030, unsur kimia seperti fosfor, nitrogen, dan potassium akan mengalami kelangkaan. Akibatnya, cara lain untuk menemukan bahan pengganti adalah mengolah beragam nutrisi yang dimiliki urine manusia. Salah satu yang diuntungkan dari inovasi ini adalah atap-atap rumah berbahan rumput (green rooftop) milik warga kota dan rumput lapangan di stadion olahraga. Tidak tanggung-tanggung, kemampuan pupuk air seni ini bisa menyuburkan tak kurang dari 10.000 tanah lapangan di Belanda!

image004
Gambar 2. Salah satu rumah dengan green rooftop di Amsterdam

Setali tiga uang, pemerintah kota memantik semua penggiat inovasi teknologi untuk bersama-sama menyukseskan program ini. Diperkirakan, jika sejuta warga Amsterdam menggunakan Public Urinals secara rutin, maka akan menghasilkan hampir seribu ton pupuk setiap tahun. Voila! Penyelamatan lingkungan tidak saja menenangkan alam, tetapi juga mengamankan ‘dompet pemerintah’. Dapat dibayangkan, betapa hematnya pemerintah untuk tidak lagi mengeluarkan biaya belanja pupuk karena telah memiliki produk tersendiri. Anggaran pemerintah pada akhirnya dapat dipakai untuk membiayai pembangunan di sektor lain yang lebih prioritas.

Ditambah lagi, proyek eco-friendly seperti ini memiliki peluang pemasaran yang tak bisa diremehkan. Negara-negara satelit Belanda bahkan negara lintas benua boleh jadi ikut kepincut, utamanya bagi mereka yang masih memiliki kualitas pengelolaan sanitasi yang belum optimal. Pundi-pundi materi tak saja jadi capaian bagi kesejahteraan negeri, melainkan kampanye nilai yang begitu luhur untuk memuliakan tanah, di belahan bumi mana pun. Bukan malah merusaknya dengan bahan-bahan berbahaya bagi keberlangsungan mutu tanah itu sendiri.

Rupanya gebrakan Belanda ini seirama dengan nasihat sebuah transkrip berbahasa Sansekerta sekitar 1.500 tahun SM yang berarti:

“Dengan kebaikan tanah, kelangsungan hidup kita bergantung. Dampingilah tanah dan tanah akan menumbuhkan makanan kita, minyak kita, tempat berlindung kita, dan melingkupi kita dengan keindahan. Dengan merusaknya, tanah akan hancur dan mati, bersama (rasa) kemanusiaan didalamnya” [2]

Tanah sudah sepantasnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan (dan penghidupan) manusia. Tidak hanya berkutat soal untung rugi, tetapi juga kesadaran diri dengan memuliakan apa yang sepantasnya dipelihara. Belanda telah menelandakan cinta nyata kepada tanah yang mereka injak setiap hari. Waste-goods (barang habis pakai) seperti air seni manusia saja bisa dimanfaatkan dengan cara cerdas dan ramah lingkungan demi kelangsungan makhluk hidup di atas permukaan bumi.

Belanda sekali lagi sukses menghidupkan seni untuk memuliakan tanah. Seni dari air seni. Seni dari sesuatu yang dianggap remeh-temeh menuju keselamatan bumi yang ramah-tamah. Mari, membuka mata! Tabik!

Catatan Kaki
[1] Peer Roojimans, salah seorang pejabat di otoritas pemeliharaan air di kota Amsterdam, Belanda
[2] Diterjemahkan dari laman web: http://www.theguardian.com/commentisfree/2015/mar/25/treating-soil-like-dirt-fatal-mistake-human-life Kutipan teks asli berbahasa Inggris.

Sumber Referensi:

https://rangecommander.wordpress.com/2013/11/12/lets-go-dutch-public-urination-and-public-urinals/ diakses 26 April 2015

http://blogs.angloinfo.com/hollywood-2-holland/2012/08/03/pop-up-urinals-in-the-netherlands/ diakses 26 April 2015

http://www.eurocheapo.com/blog/going-dutch-where-to-find-public-restrooms-in-amsterdam.html diakses 26 April 2015

http://inhabitat.com/public-urinals-help-amsterdam-harvest-pee-as-fertilizer-for-green-roofs/ diakses 26 April 2015

http://www.theguardian.com/commentisfree/2015/mar/25/treating-soil-like-dirt-fatal-mistake-human-life diakses 26 April 2015

Sumber Gambar:

Gambar 1. http://www.fastcoexist.com/3022496/these-urinals-turn-pee-into-fertilizer-for-local-food diakses 25 April 2015

Gambar 2. http://inhabitat.com/public-urinals-help-amsterdam-harvest-pee-as-fertilizer-for-green-roofs/ diakses 26 April 2015