545. Belanda-Indonesia: Budaya, Inovasi, dan Udara

Penulis : ARUM SEKARINI
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Tentang Belanda
Belanda. Berbicara tentang negeri ini seperti sedang membuka lembaran masa lalu, bahwa Indonesia pernah punya kenangan kelam tentang penjajahan. Enam puluh tahun semenjak deklarasi, negeri penjajah kita telah banyak berbenah. Sistem yang sudah rapi semakin ditata. Kebiasaan baik terus dilestarikan.

Bukan tanpa maksud ketika saya harus mencari-cari referensi tentang belanda. Bukan kebetulan juga saya menemukan sebuah buku cetakan tahun tujuh puluh delapan -yang sampulnya telah diganti kertas karton, menandakan betapa lapuk dan tuanya buku tersebut- berjudul Selayang Pandang Negeri Belanda. Buku karya MJM van Hezik dan Lverheije Gravenhage ini memuat berbagai pengetahuan umum tentang belanda yang singkat namun informatif. Seharusnya info tersebut tidak lagi relevan mengingat perubahan terjadi begitu cepatnya, baik secara fisik ataupun tidak. Namun bagi saya, dalam berbagai perubahan, seberapa hebatnya, tidak akan merubah nilai-nilai. Alasan lainnya, terlalu sayang untuk tidak mencuplik info dalam buku ini. Dalam buku selayang pandang negeri Belanda disebutkan bahwa dari tahun 1946-1947angka kelahiran telah menurun. Nampaknya pasangan di Belanda tidak ingin segera memiliki buah hati, sebuah fenomena klasik di banyak negeri di Eropa. Hal ini juga sesuai dengan analisa budaya Hofstede yang memberikan score 80 dari 100 untuk dimensi individualism. Dalam buku tersebut juga dijelaskan pengaruh kaum remaja yang semakin jelas diakibatkan informasi yang lebih langsung. Lebih lanjut dalam bidang pendidikan, sistem yang ada tidak begitu otoriter dan lebih ditujukan pada kemerdekaan diri. Mereka juga tidak terlalu memikirkan biaya pendidikan, sebab pemerintah telah menyediakan fasilitas yang memadai. Remaja juga diberikan akses mengenal dunia kerja dengan part time dan diberkan imbalan yang cukup tinggi.
Poin terakhir yang saya cuplik cukup mengerutkan kening. Di masa seperti itu, pemerintah sudah sangat concern terhadap akses pendidikan dan kesempatan. Saya lalu tertarik mencari tau tentang peran pemerintah dalam bidang lingkungan. Saya lalu menemukan inovasi pemerintah dalam penanganan pencemaran udara yang sustainnable.

Pemerintah belanda memberi perhatian terhadap penghijauan lingkungan untuk menanggulangi pencemaran udara. Kebijakan pemerintah terhadap penghijauan diwujudkan dengan pemberian subsidi bagi warga yang ingin menanami atap mereka dengan rumput hijau. Yang patut dikagumi, kesempatan ini banyak dimanfaatkan oleh penduduk Belanda, tapi tidak untuk menjadikan uang sebagai alasan utama. Atap hijau menjadi salah satu alternatif penghijauan dari pencemaran udara kota yang mengancam. Sebanyak 30 Euro atau sekitar 400 ribu rupiah diberikan pada warga Kota Groningen dan Rotterdam untuk pemasangan rumput di atas atap rumah mereka setiap satu meter persegi. Kota Amsterdam dan Den Haag juga sudah berjanji akan mengeluarkan kebijakan serupa (2009).

Atap hijau memiliki banyak manfaat. Menurut Mark Ottelee dari Universitas Teknik Delf yang meneliti fenomena penghijauan bangunan mengatakan, “Atap hijau bisa berguna untuk mengatur temperatur. Tanaman hijau menyerap panas (Evo-transpirasi) sehingga udara di atas bangunan dan juga di dalamnya bisa dingin. Di atas atap dipasang lahan buatan yang bisa ditanami. Ini saja sebenarnya sudah menurunkan suhu. Dengan adanya tanaman, suhu bisa semakin turun lagi. Atap biasa bisa mencapai suhu 80 derajat celcius pada musim panas. Dengan atap hijau suhu bisa turun sampai 35 derajat.” Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa, “Atap hijau bisa mengerem laju air hujan. Lapisan tanah yang dipasang berfungsi seperti spons yang bisa menyerap banyak air hujan. Jadi akan lebih sedikit air yang turun ke selokan.” Marc Ottelee juga meyarankan penghijauan udara tidak hanya dilakukan pada atap, melainkan juga dinding bangunan. Dinding bangunan punya kemungkinan lebih besar, apalagi yang terbuat dari beton berpori. Dinding jenis itu bisa cukup lembab dan mengandung bahan makanan untuk tanaman.

Saya cukup mengapresiasi langkah pemerintah untuk memberikan insentif pada pemilik rumah beratap ‘hijau’. Setidaknya hal ini membuktikan bahwa pemerintah menghargai setiap usaha yang menjadikan lingkungan ini lebih baik. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Tentang Indonesia
Tentang budaya, kita tidak perlu meragukan lagi untuk Indonesia. Berupa-rupa budaya baik fisik maupun tidak Indonesia punya. Budaya seharusnya menjadi alat kontrol sosial, dalam hal ini terutama tentang pelestarian lingkungan dan pencemaran udara. Namun faktanya, pembangunan di Indonesia yang meningkat drastis beberapa tahun ini perlahan menggeser jumlah lahan terbuka hijau. Tapi saya tidak sedang ingin mencela pembangunan, dalam beberapa alasan, pembangunan itu penting, selama tetap memperhatiakan aspek lingkungan.

Nun jauh di pelosok Jawa Timur, munculah mahasiwa Surabaya bernama Arief dengan idenya Green Smart Roof. Atap hijau yang serupa seperti di Belanda ini juga diaplikasikan oleh Arief Rahmatullah dengan membuat prototipe karyanya. Bermula dari angan-angannya untuk meneduhkan seluruh atap bangunan di Surabaya, ia mulai berkreasi mendesain penyangga pot yang mampu dipasang di genteng.
Atap tersebut ditanami tanaman merambat seperti sirih belanda yang dalam setahun telah bisa dipastikan padat hijau dedaunan. Karya mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya bersama karya kreatif lainnya ditampilkan dalam acara penghargaan Emil Salim bagi Generasi Muda 2011 pada bulan November 2011 di Jakarta.

Seperangkat Green Smart Roof membutuhkan pipa air 5 inchi dan penutupnya, besi, serta paralon setengah inchi. Pipa 5 inchi dan penutupnya dibelah vertikal lalu paralon 0,5 inchi yang sudah dilubangi dimasukkan penutup pipa 5 inchi tadi. Paralon kecil berfungsi sebagai alat penyiraman. Pipa besi dibentuk untuk menyangga pipa air. Pipa ditaruh tanah dan ditanam sirih belanda kemudian diletakkan di atap rumah. Sirih belanda yang termasuk tanaman mudah perawatan itu akan mulai menjalar dan menempel di atap. Sirih belanda berakar serabut sehingga tidak merusak genting, bahkan bisa menguatkan dan berdampak minimal pada atap. Tanaman ini akan mengurangi panas dan membantu penyerapan karbondioksida. Menurut artikel penelitian, sirih belanda mampu menyerap 54 % benzene 0,156 ppm, 67% formaldehide 18 ppm, dan 75% karbonmonoksida 113 ppm.

Green Smart Roof merupakan inovasi anak muda Indonesia yang sesuai dengan amanat UU Tata Ruang Wilayah yang mewajibkan 30% ruang terbuka hijau. Green Smart Roof sekaligus menjawab tantangan bahwa Indonesia pun bisa mengaplikasikan karya ramah lingkungan seperti milik ‘ibunya’.

Indonesia dan Belanda. Dua negara yang masing-masing punya kisah. Keduanya memiliki budaya yang hampir bertolak belakang. Belanda dengan angka individual yang cukup tinggi dan Indonesia dengan semangat kebersamaannya. Tentang inovasi, pemerintah Belanda lebih unggul. Sistem pemerintahan top down yang berlaku di Belanda memungkinkan pemerintah menyediakan kebijakan yang berpihak pada rakyat Belanda. Hal ini ditanggapi positif oleh masyarakat yang antusias terhadap kebijakan terkait. Sementara di negeri ini, aspirasi dan ide kreatif yang bottom up nampaknya belum segera direalisasikan oleh pembuat kebijakan. Namun dari sekian banyak perbedaan, salah satu yang pasti, sebagai manusia, dua negara ini sama-sama menginginkan lingkungan dengan pencemaran udara minimal, lingkungan yang lebih baik.

Mari sekali lagi mengapresiasi pada negeri kincir angin bagaimana pemerintahnya bisa begitu tanggap dan melakukan langkah konkrit. Kita juga tak boleh melupakan inovasi-inovasi generasi muda terutama untuk lingkungan. Ayo jadi bagian orang-orang yang melakukan perbaikan 

image002

image004

Referensi:
About Netherland. http://geert-hofstede.com/netherlands.html. Diakses pada: 24 April 2015
MJM van Hezik dan Lverheije Gravenhage. 1978. Negeri Belanda Selayang Pandang. Kementrian Luar Negeri
Radio Nederland Wereldomroep (RNW). Penghijauan Atap di Perkotaan. http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&dn=20081009071747. Diakses pada 27 April 2015
Susanto, Ichwan. 2011. Atap Pintar, Solusi Menambah Ruang Hijau. Web: m.kompas.com/. Diakses pada: 24 April 2015
Widya, Ginanjar. http://eco4lifestyle.blogspot.com/2013/11/green-roof-taman-taman-hijau-di-atas.html. Diakses pada 27 April 2015