547. EMA untuk Perencanaan Transportasi

Penulis : Firza Violita Putri
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

“A developed country is not a place where the poor have cars, it’s where the rich use public transportation”

Kata-kata tersebut merupakan sindiran betapa negara maju tidak ditandai oleh kepemilikan kendaraan pribadi yang tumpah ruah di jalanan. Kemudian menimbulkan kemacetan dan ketidakefisienan dalam penggunaan transportasi. Melainkan, negara yang maju justru memprioritaskan penggunaan transportasi massal bagi penduduknya. Tulisan ini akan mengkaji bagaimana perencanaan transportasi di Belanda.

Belanda memiliki posisi yang strategis di Benua Eropa. Belanda merupakan gerbang utama menuju Eropa. Belanda juga merupakan tempat strategis untuk transit di Eropa. Moda transportasi di Belanda beragam, yaitu trem, kereta api, metro, mobil dan sepeda. Semua transportasi di Belanda memberi kenyamanan bagi penggunanya.

Transportasi di belanda yaitu setengah trip menggunakan mobil, 25% sepeda, 20% berjalan kaki dan 5% menggunakan publik transportasi. Dengan total jaringan jalan sepanjang 139.295 km, termasuk jalan tol 2.758 km. Tidak mengherankan jika menurut World Economic Forum, infrastruktur transportasi di Belanda menempati rangking 4 di dunia.

Perencanaan transportasi di Belanda menggunakan strategi yang selalu berkembang. Inovasi negeri kincir angin ini menyelesaikan masalah transportasi bisa menjadi referensi bagaimana pergerakan perencanaan transportasi di dunia. Penulis merangkum inovasi Belanda dalam satu kata singkat yaitu EMA. Apakah EMA itu ?. EMA merupakan singkatan dari Environmental Concern, Multimoda Approach dan Actors.

image001

Environmental Concern
Isu lingkungan telah lama menjadi isu global di Belanda sehingga perencanaan transportasi di Belanda berkonsentrasi terhadap pelestarian lingkungan. Dengan adanya transportasi massal penggunaan kendaraan pribadi akan berkurang, sehingga polusi udara pun akan berkurang pula. Selain itu masyarakat di Belanda juga bepergian dengan sepeda sebagai upaya untuk mengurangi polusi udara.

Penggunaan sepeda di Belanda adalah 27% dari total perjalanan. Bahkan jumlah sepeda di Belanda kurang lebih sebanyak 18.000.000 (2012), jumlah tersebut melebihi jumlah penduduk Belanda yaitu 16.800.000 (2013). Faktanya 85% orang di Belanda setidaknya memiliki satu buah sepeda.
Penggunaan sepeda didukung oleh infrastruktur, kebijakan publik, dan perencanaan kota yang bike-friendly. Selain itu pemerintah berkomitmen untuk mendukung penduduknya bersepeda dengan menyediakan trek khusus yang sudah terpisah dari jalur motor sepanjang 35.000 km dan mendorong pemakaian helm untuk pengendara sepeda.

Multimoda Approach
Dalam transportasi, Belanda juga memakai pendekatan multimoda. Tidak mengherankan jika semua transportasi publik di Belanda tidak ada yang di abaikan pengelolaannya. Belanda yakin bahwa dengan pendekatan multimoda efektifitas mobilitas penduduknya dapat terakomodasi. Dengan mobilitas yang tinggi tersebut diharapkan dapat terciptanya perkembangan ekonomi di negeri ini. Selain itu tranportasi tersebut juga selalu mengikuti perkembangan zaman dan dipadukan dengan teknnologi masa kini.
Sebagai contohnya, terdapat Route Planners. Route Planners menunjukkan rute yang dilalui publik transportasi, informasi dan titik keberangkatan/kedatangan. Maps yang menunjukkan setiap titik jaringan kereta api dan bus di Belanda. Jadi kita bisa mengetahui ketika kereta jurusan A dan jurusan B akan bertemu di tempat yang mana, bahkan Maps juga menunjukkan jaringan bus dengan tempat pemberhentian yang diinginkan user.

Actors
Perencanaan transportasi di Belanda berjalan dengan keterlibatan suatu aktor. Aktor-aktor tersebut ialah Public, Private dan Citizen. Keterlibatan publik yaitu pemerintah saat signifikan dimulai dari tahun 60an hingga sekarang. Keterlibatan privat dimulai di akhir 80an namun intervensi pemerintah masih mendominasi sektor transportasi. Kemudian partisipasi masyarakat dalam menyelenggarakan transportasi publik mulai muncul tahun 70an hingga 90an namun tidak terlalu signifikan. Dalam poin ini Belanda yakin bahwa keterpaduan antara setiap aktor akan menunjang keberlangsungan transportasi publik. Selain itu perencanaan transportasi yang dilakukan dengan metode bottom-up akan memiliki Local Value bagi masyarakat.

Kesimpulannya, perencanaan transportasi di Belanda menerapkan strategi EMA, yaitu Environmental Concern, Multimoda Approach dan Actors. Belanda selalu berinovasi untuk memenuhi kebutuhan penduduknya tanpa melupakan aspek-aspek penting lainnya.

Daftar Pustaka

Melli, W. (2006). Transportation Planning: Comparison The Mechanism In The Netherlands, US, and Indonesia. Institut Teknologi Bandung, Regional and City Planning, ITB. Bandung: Department of Regional and City Planning, ITB.
Wikipedia. (2015, April 27). Diambil kembali dari Transport in the Netherland: http://en.wikipedia.org/wiki/Transport_in_the_Netherlands
Wikipedia. (2015, April 27). Diambil kembali dari Public Transport in the Netherlands: http://en.wikipedia.org/wiki/Public_transport_in_the_Netherlands
Wikipedia. (2015, April 27). Diambil kembali dari Cycling in the Netherlands: http://en.wikipedia.org/wiki/Cycling_in_the_Netherlands