553. Indahnya Mendayung Perahu Kehidupan di Kanal-Kanal Air di Giethoorn “The Dutch Venice”

Penulis : Priyo Wibowo Pramularto
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Jika kita berbicara mengenai sebuah kota dimana kanal-kanal dipenuhi oleh perahu-perahu yang berlalu-lalang di bawah terangnya sinar rembulan di malam hari, pasti akan langsung terbesit satu nama di dalam benak kita: Venesia. Siapa yang tidak kenal Venesia, kota penuh kisah romantis dengan nuansa yang berbeda dengan kota-kota romantis lainnya. Satu kata yang paling menggambarkan kota ini: air. Kota Venesia memang berada di atas permukaan air, atau lebih tepatnya mengapung di atas air bersama perahu-perahu yang menemani aktivitas warga setempat. Tapi siapa yang menyangka jika ternyata ada sebuah kota mengapung lainnya yang sama indahnya, sama menakjubkannya, dan sama romantisnya. Ya, kota itu bernama Giethoorn yang terletak di Wieden, provinsi Overijssel dan termasuk ke dalam wilayah Taman Nasional Weerribben-Wieden di Negeri Kincir Angin, Belanda.

image002
Gambar 1. Wisatawan sedang menjelajahi kanal air di Giethoorn.

Kota Giethoorn, terkenal dengan ciri khas yang identik dengan salah satu elemen kehidupan yaitu air. Orang-orang yang berkunjung kesana dipastikan akan selalu berjumpa dengan elemen sumber kehidupan tersebut. Saking ramahnya kota ini terhadap lingkungan, transportasi di sana juga mengandalkan air sebagai prasarana yang utama. Bagaimana tidak, sarana transportasi yang diperbolehkan untuk digunakan di daratan hanyalah sepeda, dan tentunya berjalan kaki. Tidak ada kendaraan bermotor yang diperbolehkan untuk masuk ke wilayah kota tersebut. Selain karena tidak adanya jalanan yang tersedia, kota ini memang didesain untuk benar-benar ramah terhadap lingkungan.

Lalu bagaimana wujud moda transportasi warga setempat dalam aktivitasnya sehari-hari? Tentu sudah dapat ditebak jawabannya dan itu adalah perahu (canoe, boat, atau punt) yang menggunakan kanal-kanal air sebagai medianya. Terkesan meniru konsep milik kota Venesia? Tidak juga. Salah satu hal yang membedakan kota Giethoorn dengan kota Venesia adalah nuansa kehidupan warganya yang memiliki cita rasa pertanian. Hal itu dapat dilihat dari bangunan-bangunan yang ada di Giethoorn yang sebagian besar merupakan farmhouses. Tidak kalah menarik adalah fakta bahwa jembatan-jembatan yang menghubungkan bangunan satu dengan lainnya di atas kanal, terbuat dari kayu seluruhnya. Selain itu, hal lain yang menciptakan kesan memesona pada kota ini yaitu rindangnya pepohonan dan semak-semak hijau di setiap sisi kota. Tentu hawa sejuk yang tercipta dari kehadiran pepohonan dan semak-semak itu menjadi nilai tambah bagi kota Giethoorn, disamping juga pesona gaya bangunan Mediterranian dan kejernihan kanal airnya.

Jika kita berbicara mengenai inovasi, maka perlu diketahui makna dari kata inovasi itu sendiri. Inovasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki artian (1) pembaharuan; (2) penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, alat). Inovasi yang diterapkan kepada kota Giethoorn ini lebih berupa gagasan yang membedakan konsep kota ini dengan kota kanal lainnya seperti Venesia dan mungkin juga kota yang menjadi saudaranya di wilayah Belanda yang mana jauh lebih komersial, Amsterdam. Konsep yang dilekatkan kepada kota Giethoorn adalah sebuah kota bernuansa pedesaan yang nyaman, tenang, ramah lingkungan, namun juga siap untuk menyambut hangat para pengunjung yang datang. Dalam mewujudkan konsep tersebut, beberapa hal telah dilakukan yaitu antara lain penggunaan moda transportasi air berupa perahu, pembatasan penggunaan moda transportasi darat berupa sepeda dan jalanan setapak bagi para pejalan kaki (pedestrian ways), serta pembangunan jembatan-jembatan yang menghubungkan bangunan satu dengan yang lainnya.

image004
Gambar 2. Penampakan salah satu sudut kota Giethoorn.

Merupakan suatu hal yang benar-benar menakjubkan yaitu bahwa Giethoorn sama sekali tidak menyediakan jalan (roads) bagi kendaraan bermotor dan dapat dikatakan hampir seluruh aktivitas warganya dalam menjelajah kota dilakukan di atas permukaan air. Tentu hal ini merupakan suatu terobosan yang sangat patut untuk dijadikan acuan yang ideal bagi kota-kota lain di seluruh dunia, terutama yang dari segi geografis memiliki bentang alam perairan, seperti sungai, danau, hingga yang berada di pesisir pantai. Pemanfaatan air sebagai media transportasi seperti yang diterapkan oleh warga di kota Giethoorn merupakan tindakan yang praktis dan efisien, meski konsep pemikirannya sederhana saja: artinya tanpa harus menciptakan teknologi yang canggih dan juga tanpa menggunakan konsep ilmu pengetahuan yang rumit. Meskipun demikian, terobosan tersebut sangat berdampak positif bagi lingkungan hidup. Tentu selain mengurangi kadar polutan dan limbah yang disebabkan oleh bahan bakar kendaraan bermotor, juga karena tidak adanya penggunaan material-material dengan senyawa logam berat seperti aspal, batu bara, beton, dan bijih besi yang diperlukan untuk pembangunan jalan.

Melihat keindahan dan kealamian yang ditawarkan oleh kota Giethoorn, seketika saya berimajinasi dan mengandai-andai jikalau kota Jakarta juga menerapkan terobosan tersebut. Mungkin tidak sampai seperti kota Giethoorn. Tetapi setidaknya pihak yang menata kota Jakarta dapat memanfaatkan Sungai Ciliwung untuk dijadikan kanal-kanal air sebagai media transportasi, seperti yang ada di ibukota Belanda, Amsterdam. Semoga impian saya dapat terwujud di suatu saat nanti, menikmati indahnya mendayung perahu kehidupan di kanal-kanal air di Giethoorn, The Dutch Venice.

…….

Referensi:
Dailymail website
EDEN – European Destinations of Excellence website
holland.com
giethoorntourism.com
Courtesy Gambar:
saga.vn (gambar 1)
toptravellists.net (gambar 2)