567. Di Belanda, Bahan Bangunan pun Dapat Menjaga Bumi!

Penulis : Astarina Natyasari
Tema : Earth
=========================================================================================================================================================

“Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik juga di negeri sendiri”

Sepertinya orang-orang di negeri Belanda menerapkan peribahasa Indonesia di atas. Di Belanda, orang bisa menyulap ‘batu’ yang tidak berguna atau bahkan terkadang merupakan penyebab masalah menjadi ‘emas’ bagi negaranya. Pada kasus ini, ‘batu’ tersebut adalah bahan bangunan yang dapat memberikan harapan kepada bumi untuk menjadi lebih baik dengan cara menyerap polusi udara!

Penelitian oleh Belanda
Semakin hari, dunia semakin berkembang dan diikuti dengan infrastruktur yang semakin meluas pula. Salah satu bahan yang sering digunakan sebagai bahan bangunan adalah beton. Beton kerap dianggap sebagai bahan yang tidak ramah lingkungan karena posisinya yang menyingkirkan kehijauan di bumi ini. Tetapi, peneliti dari Universitas Teknologi Eindhoven tertarik untuk mengubah beton menjadi bahan ramah lingkungan.

image002
Gambar 1. Kota Hangelo, objek penelitian beton penyerap polusi
Sumber: http://articles.latimes.com/

Percobaan terhadap beton ini dilakukan pada trotoar di kota Hangelo, Belanda. Beton-beton trotoar ini dilapisi oleh titanium dioksida yang merupakan zat kimia yang dapat menyerap polutan di udara dari emisi kendaraan bermotor, seperti nitrogen oksida. Setelah diserap, zat berbahaya ini diubah menjadi zat yang lebih aman untuk lingkungan, seperti nitrat.

image004
Gambar 2. Beton yang dilapisi bahan penyerap polusi
Sumber: http://www.bbc.com/news/

Seberapa besar pengaruhnya?
Setelah studi tersebut dilakukan selama satu tahun, hasil penelitian menunjukkan bahwa trotoar penjernih udara ini dapat mengurangi polusi udara berupa nitrogen oksida hingga 45%. Sedangkan, untuk kondisi cuaca ideal, rata-rata polusi dapat berkurang sebesar 19% per hari.

image005
Gambar 3. Cara kerja lapisan titanium dioksida (fotokatalis) dalam menyerap polusi
Sumber: http://www.dogonews.com/

Kenyataannya, Profesor Jos Brouwer dari Departemen Arsitektur, Pembangunan, dan Perencanaan Universitas Teknologi Eindhoven menyatakan bahwa aplikasi teknologi bahan pelapis ini tidak hanya dapat diterapkan pada trotoar saja, tetapi juga pada material lain seperti aspal dan dinding gedung. Bayangkan, jika semua jalan dan bangunan dapat membersihkan udara. Apabila semua infrastruktur tersebut benar-benar diimplementasikan serta ditambah dengan penghijauan, maka tidak akan ada lagi masalah polusi udara dan hujan asam di bumi ini.

I’m possible
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa manusia membutuhkan jalan raya sebagai tempat beroperasinya kendaraan darat. Semakin banyak kendaraan bermotor yang melintasinya, semakin banyak polusi udara yang dihasilkan, dan semakin dibutuhkan solusi penjernih udara. Daripada mencari alat khusus yang dapat menyerap polutan, mengapa tidak infrastruktur jalan itu sendiri yang menjernihkan udara?

Seperti yang dikatakan oleh Audrey Hepburn, Nothing is impossible, the word itself says I’m possible. Yakinlah bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Kita manusia hanya belum menemukan manfaat dari hal tersebut. Jadi, mari belajar dari Belanda yang mencari manfaat sekalipun dari suatu ketidakmungkinan!

Sumber:

http://www.bbc.com/news/science-environment-23324177

http://www.huffingtonpost.com/2013/07/09/smog-eating-pavement-cut-pollution_n_3563472.html

http://edition.cnn.com/2010/TECH/innovation/08/06/concrete.pollution.solution/index.html

http://www.dogonews.com/2013/8/1/smog-eating-sidewalks-and-concrete-recycling-robots-awesome