568. CO2 Berbahaya? Belum tentu.

Penulis : Kurnia Nourma Indah
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Bagaimana caranya memberi makan 12 Milyar orang pada tahun 2050 nanti?
Ketahanan pangan sudah menjadi agenda utama pemerintah saat ini, hal yang sama terjadi dalam agenda Konferensi Asia Afrika lalu. Sekarang sudah ada 7 milyar manusia di bumi, 2 milyar manusia diantaranya menderita kelaparan. Di Indonesia, sudah sedemikian banyak makanan terbuang percuma didalam industri pangan, baik dari hal yang terlihat sepele seperti makanan sisa diatas piring sampai terbuangnya sayuran di pasar – pasar tradisional. Fakta ini seakan menjadi alarm dari pernyataan Prof. Shashi Sharma (ahli ketahanan pangan) yang menyebutkan, sepertiga pangan yang kita produksi itu hilang dan terbuang percuma. Maka saya menyimpulkan, inilah waktunya kita mempertahankan makanan daripada memproduksi makanan lebih banyak. Pertanyaannya, siapkah Indonesia untuk mengontrol pangan secara maksimal?

Di Indonesia sendiri ada begitu banyak cara pengawetan makanan, dari mulai pengeringan, pendinginan, pembekuan, pengasapan sampai pengalengan. Namun cara ini relatif kurang berorientasi terhadap nilai gizi, inilah problematika mendasar dari cara kita mempertahankan makanan. Seperti saat proses pengeringan makanan, sifat dan asal bahan akan berubah baik bentuk, sifat fisik, sifat kimia maupun mutunya yang berkurang sedangkan proses pembekuan dan pendinginan tidak akan membunuh kuman, sehingga saat mencair, bakteri akan kembali aktif. Sama halnya dengan proses pengeringan, proses pembekuan dan pendinginan juga akan mempengaruhi rasa, tekstur dan gizi. Belum lagi jika kita ingin menerima fakta bahwa sayuran dan protein hewani yang kita konsumsi seringkali dibumbui borak, formalin dan lilin. Sementara UU nomor 7 tahun 1996 menyebutkan bahwa kualitas pangan yang dikonsumsi harus memenuhi kriteria aman, bergizi, bermutu dan dapat dijangkau oleh daya beli masyarakat.

FeyeCon, perusahaan asal Belanda pada tahun 2013 lalu memperkenalkan cara pengawetan makanan terbaru dengan memakai CO2. Teknologi baru ini dinamakan CO2 Dry, inovasi pengawetan makanan yang menghasilkan bahan pangan berkualitas tinggi tanpa mengubah rasa, kandungan gizi dan bentuk dari makanan tersebut. Loh, CO2 kan berbahaya? Belum tentu. Mari saya jelaskan bagaimana inovasi CO2 Dry dari negeri kincir angin ini dapat membantu pengawetan pangan di Indonesia.

CO2 Dry menggunakan cara supercritical CO2 dalam mengawetkan makanan. Ini adalah pengkondisian dimana CO2 berada atau diatas temperatur dan tekanan kritis sehingga CO2 akan berwujud seperti gas tapi dengan tingkat kepadatan seperti cairan. CO2 sendiri didapat dari penyulingan unsur air dalam makanan ataupun larutan. Air yang terlarut selama tahapan pembuatan CO2 dapat terus menerus dipisahkan sehingga 99% CO2 dapat gunakan kembali untuk proses pengawetan selanjutnya. Hasilnya teknologi CO2 50% lebih hemat energi dan biaya dari pengawetan dengan cara pembekuan dan pendinginan. Teknologi CO2 selama ini dipakai karena terbukti tidak beracun bagi manusia dan tidak berdampak buruk bagi lingkungan. Hanya sedikit sterilisasi CO2 sudah mampu memperpanjang tenggang kadaluarsa produk selama beberapa minggu.

Saya berandai jika Indonesia menerapkan teknologi CO2 Dry dalam industri makanan maka tidak ada lagi istilah makanan awet = tiada gizi. Kita bisa mendistribusikan makanan alami, segar dan penuh gizi ke seluruh pelosok Indonesia tanpa takut makanan itu akan busuk dalam perjalanan. Pangan dari para produsen makanan dan petani lokal pun bisa masuk ke pasar yang lebih luas karena memiliki standar kesehatan yang tinggi. CO2 Dry cocok diterapkan dalam produksi skala besar karena ia mampu menampung volume produksi yang cukup tinggi dan menjamin kestabilan proses distribusi dan konsumsi. Teknologi teranyar dari Belanda ini juga bisa menjelma sebagai alat bantu menggalakkan program diversifikasi pemerintah, karena hasil pengawetan dari CO2 Dry akan menghasilkan makanan dengan rasa yang lebih enak, warna yang lebih alami dan kandungan gizi seperti lemak asam amino, vitamin dan mineral akan jauh lebih terjaga. Makanan alami bermutu tinggi seperti ini akan meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi daripada mengkonsumsi makanan olahan terigu dan gandum, karena makanan alami dan sehat pun bisa disimpan selama berminggu – minggu tanpa kerusakan.

Sumber referensi :
1. Kompas.com. 2014. “Isu Besar Pangan” Santosa, Dwi Andreas. Diakses pada tanggal 23 April 2015
2. Rahmawati, Fitri. “Pengawetan Makanan dan Permasalahannya”. Universitas Negeri Yogyakarta. Diunduh pada 22 April 2015, 05.04 WIB
3. www.co2dry.com, diakses pada tanggal 21 April 2015.