575. Salt-tolerant Potato: Let’s Fight The World Hunger!

Penulis : Leony Wijaya
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Belanda patut berbangga hati dengan predikatnya sebagai negara kedua pengekspor hasil pertanian terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat. Selama ini, negeri kincir angin tersebut terkenal dengan inovasi cemerlangnya di bidang teknologi pertanian, dengan produksi sumber makanan yang sehat dan tetap menjaga alam, contohnya inovasi smart greenhouse. Pengusaha bidang pertanian di Belanda menggunakan sistem dan proses yang efisien dan berkelanjutan yang menyebabkan produktivitas pertaniannya lima kali lebih tinggi daripada negara-negara Eropa lain. Industri pertanian memberikan dampak luar biasa bagi perekonomian negeri bawah laut ini. Seperempat dari sayuran yang diekspor dari Eropa berasal dari Belanda loh!

Permasalahannya, World Bank, NGO, Government dan Environmentalist menyatakan bahwa air bersih telah menjadi ‘barang langka’ di muka bumi. Air yang tersedia di alam bebas sekarang sebagian besar sudah tercemar. 89% air di dunia tercemar oleh air laut dan 50% lahan pertanian terancam oleh pencemaran tersebut. Sementara, Edward P. Glenn, J. Jed Brown, dan James W. O’Leary pernah menulis pernyataan: “None of the top five plants eaten by people — wheat, corn, rice, potatoes and soybeans — can tolerate salt”. Air laut sejak dahulu dianggap tidak kompatibel dengan tanaman, karena dapat membunuh tumbuh kembang tanaman dan pada akhirnya tanaman akan mati. Sooo, gimana dengan nasib ketersediaan pangan kita di masa mendatang? Apa krisis pangan akan datang melanda?

Tenanggg, Edward dan kawan-kawannya menulis pernyataan itu 16 tahun yang lalu kok. Pernyataan itu jelas terbantahkan karena kini air laut sudah berhasil dimanfaatkan dalam pembudidayaan kentang! Ide jenius ini datang dari seorang entrepreneurial organic farmer asal negri bunga tulip bernama Marc Van Rijsselberghe yang berkolaborasi dengan peneliti dari Free University di Amsterdam bernama Dr. Arjen de Vos. Mereka berhasil membudidayakan kentang yang dapat tumbuh dengan “minum” air laut. Kentang yang disebut salt-tolerant potato ini pertama kali dikembangbiakan di Texel pada tahun 2010. Texel merupakan pulau kecil di bagian negara Belanda Utara, dimana ladangnya dikelilingi oleh lautan dan rawa-rawa yang menyerap air laut. Mereka kemudian membentuk Salt Farm Texel, yaitu perusahaan yang menggabungkan agronomi, bisnis, dan sains.

image001
Marc van Rijsselberghe bersama kentang hasil budidayanya
[Sumber: http://www.theguardian.com/science/2014/oct/18/humble-potato-poised-to-launch-food-revolution]

Terinspirasi dari sea cabbage yang tumbuh di perairan laut, mereka menggunakan air laut sebagai sumber irigasi agar kentang dapat berkembangbiak. Memang, air laut yang digunakan bukanlah air laut murni, namun diluted sea water, yaitu campuran air laut dan air bersih. Tapi lumayan toh dibandingkan pertanian konvensional yang hanya menggunakan air bersih sebagai sumber irigasi. Proses desalinasi harganya mahal dan membutuhkan banyak energi untuk mengubah air laut menjadi air bersih, sehingga Marc dan kawan-kawan memanfaatkan sesuatu yang memang sudah disediakan oleh alam bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, metode pertanian ini dapat diadopsi oleh negara-negara miskin dan berkembang.

Salt-tolerant potato pun bukan tanaman GMO loh! GMO adalah singkatan dari genetically modified organism. Artinya, mereka tidak melakukan rekayasa genetik terhadap benih kentang yang ada untuk menciptakan benih yang resisten terhadap air laut. Di Salt Farm Texel, penelitian sebagian besar berfokus pada hasil percobaan langsung di ladang menggunakan metode pertanian konvensional dengan benih kentang yang sudah ada. Penelitian dilakukan dengan melakukan irigasi menggunakan air laut dengan konsentrasi yang berbeda pada delapan bagian ladang. Setiap bagian ladang memiliki sistem irigasi dan dilengkapi dengan sensor untuk mengontrol dan mempertahankan kadar salinitas serta kelembaban tanah. Wortel, kol, bawang bombay, dan buah bit berhasil ditanam di ladang tersebut, namun kentang lah yang paling “bersahabat” dengan lingkungan yang mengandung garam.

image003
Hamparan ladang pusat penelitian Salt Farm Texel, dikembangkan oleh Dr. Arjen de Vos
[Sumber: http://www.saltfarmtexel.com/research-station]

Uniknya, meskipun kita memakan kentang yang tumbuh dengan sumber irigasi air laut ini, namun kita tidak akan mengecap rasa asin karena senyawa garam tertinggal di bagian daunnya. Menurut de Vos, tanaman yang tumbuh di lingkungan asin akan memproduksi lebih banyak kandungan gula di dalamnya. Salt-tolerant potato memiliki kandungan garam yang relatif sama dengan kentang pada umumnya. Manisnya buah strawberry pun tidak hilang akibat air laut. Strawberry yang mereka coba tanam tetap terasa sangat manis. Jadi, kita tidak perlu takut akan asupan garam berlebih karena makan kentang ini ya.

Sttt, ternyata proyek brilian mereka ini mengalahkan lebih dari 500 kompetitor dari 90 negara dalam suatu kompetisi penganugerahan yan disponsori oleh US Agency for International Development (USAID). Sebagai hadiahnya, mereka diberikan dana sebesar $100.000 untuk tahun pertama dan untuk dua tahun berikutnya dana yang diberikan mencapai $400.000. Dana yang mereka dapatkan akan digunakan untuk tahapan penelitian selanjutnya dan menyebarkan benih-benih kentang yang mereka kembangkan selama ini. Pakistan adalah negara pertama yang beruntung untuk mencoba menanam salt-tolerant potato, dimana ribuan hektar ladangnya rusak akibat tercemar air laut. Jika kentang tersebut dapat beradaptasi dengan iklim asia, artinya ladang di Indonesia dan ladang lain di benua asia yang tercemar pun bisa ditanami kentang ajaib dari Belanda ini. Yeayyy!

Kentang sendiri merupakan salah satu makanan pokok di Eropa dan bahkan 22% kentang yang diekspor di dunia berasal dari Belanda. Jadi, inovasi budidaya kentang menggunakan air laut ini memberikan dampak yang sangat positif bagi industri pertanian Belanda dan dunia. Tidak hanya menguntungkan bagi sektor pertanian, tetapi penemuan salt-tolerant potato juga dapat meningkatkan kesejahteraan para petani di negara-negara yang ladangnya rusak akibat pencemaran air laut, sehingga mereka dapat bercocok tanam kembali. Para petani tidak perlu risau lagi dengan permasalahan minimnya air bersih untuk irigasi. Diharapkan, salt-tolerant potato dapat membantu memerangi krisis pangan yang dihadapi oleh negara-negara yang memiliki ladang yang asin. Dengan percobaan dan pengembangan yang terus dilakukan, jenis tanaman lain pun akan dapat tumbuh subur di tanah yang tercemar air laut.

Marc berucap, “We’re not a scientific institution, we’re a bunch of lunatics with an idea that we can change things and we are interested in getting partnerships together with normal farmers, not people who want to write doctorates”. Saya sangat setuju!!! Seperti semboyan UNPAR, almamater saya, “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti” yang berarti “Berdasarkan KeTuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan kepada Masyarakat”. Ilmu dan kepintaran yang kita miliki sudah seharusnya dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat yang membutuhkan, khususnya masyarakat pedesaan yang minim akses informasi dan teknologi. Prinsip dan pola pikir inilah yang harus lebih ditingkatkan oleh masyarakat Indonesia ya, tentunya untuk membentuk negara kesatuan republik Indonesia yang lebih baik di masa mendatang 

Sumber:
1. http://www.andnowuknow.com/bloom/dutch-experiment-reveals-possibility-farming-salty-water/andrew-mcdaniel/43722#.VThfu9Kqqko
2. http://www.theguardian.com/science/2014/oct/18/humble-potato-poised-to-launch-food-revolution
3. http://www.saltfarmtexel.com
4. http://modernfarmer.com/2014/12/salt-tolerant-potato/
5. http://www.seren.bangor.ac.uk/other/environment/2014/10/28/dutch-farmer-invents-salt-resistant-potato/
6. http://www.hollandtrade.com/sector-information/agriculture-and-food/?bstnum=4909