585. Latro, Sebuah Cahaya yang Hidup

Penulis : Arena Bayu Chandra Permana
Tema : Fire
=========================================================================================================================================================

Semua dari kita pernah bermimpi hal-hal besar, namun hanya beberapa yang sampai ke sana.
Mike Thompson adalah salah satunya. Tinggal di Belanda, negeri para inovator, membuatnya terdorong untuk menciptakan sesuatu yang berarti untuk dunia. Kali ini gagasannya sederhana, bagaimana membuat sebuah cahaya yang hidup?

Berangkat dari sebuah penelitian ilmiah, yaitu pemanfaatan energi langsung dari tanaman yang diteliti oleh pakar dari Universitas Stanford, Mike Thompson merealisasikan gagasannya. Lahirlah Latro, sebuah sumber cahaya yang memanfaatkan interaksi kehidupan antara alga, manusia dan lingkungannya.

Latro adalah sebuah konsep lampu yang tidak hanya inovatif, tetapi juga menggambarkan bagaimana sebuah simbiosis yang baik dari kehidupan nyatanya dapat menghasilkan sebuah produk yang bermanfaat. Menggunakan konsep fotosintesis, sistem kerja Latro (yang berarti pencuri) adalah dengan ‘mencuri’ hasil sampingan fotosintesis dari alga yaitu proton dan oksigen untuk diolah menjadi sumber pembangkit listrik.

Desain Latro cukup sederhana, Mike Thompson merancangnya sebagai sebuah lampu gantung yang cantik. Alga ditempatkan dalam sebuah tempat kaca yang tembus pandang, menjaganya agar sinar matahari leluasa masuk. Pada bagian bawah dipasang lampu yang terhubung pada baterai yang digunakan untuk menyimpan arus yang telah dihasilkan sepanjang hari. Terdapat juga sebuah sensor intensitas cahaya yang mengatur penggunaan energi agar alga tidak terus-menerus diperah untuk menghasilkan listrik.

Untuk memastikan alga dapat berfotosintesis dengan baik, dibagian atas Latro juga dipasang rongga yang digunakan untuk meniupkan karbon dioksida dari manusia. Inilah yang unik, karena merawat Latro adalah seperti menjaga peliharaan, manusia harus bertanggungjawab pada kebutuhan alga agar lampu ini dapat bekerja dengan benar.

image002
Desain Latro
(http://www.gizmag.com/algae-power-light/15361/picture/115967/)

Pemilihan Alga sebagai sumber energi juga tidak sembarangan. Penelitian menunjukkan bahwa alga telah lama digadang-gadang sebagai sumber energi masa depan. Kandungan minyak yang terkandung dalam alga diketahui dapat diolah menjadi bahan bakar yang lebih bersih dan efisien daripada bahan bakar fosil. Selain itu alga juga sangat mudah dirawat, hanya membutuhkan air, matahari dan karbon dioksida untuk membuatnya tetap produktif dalam fotosistesis.

image004
‘Memberi Makan’ Latro dengan Karbon Dioksida
(http://www.gizmag.com/algae-power-light/15361/picture/115966/)

Sayangnya, proyek Latro ini berjalan bukan tanpa tantangan. Mike Thompson sendiri memang sudah memperkirakan bahwa Latro tidak akan digunakan dalam skala besar sampai tahun 2035. Saat ini perangkat yang dibutuhkan yaitu elektroda dengan lebar 20 nm dan alga pun hanya mampu menghasilkan arus sebesar 1.2 pA. Oleh karena itu dibutuhkan elektroda yang sangat baik untuk menghasilkan energi yang cukup yang sampai saat ini masih dicari jalan keluarnya.

Meskipun begitu, Latro merupakan sebuah konsep yang sangat ideal untuk sebuah gagasan lampu di masa depan. Sebuah gagasan yang ramah lingkungan dan juga menghargai kehidupan. Konsep yang digunakan dalam Latro mengajarkan filosofi bahwa untuk mencapai sebuah keuntungan diperlukan interaksi yang baik antar sesama makhluk hidup dan lingkungannya.
Lewat Latro, manusia akan belajar untuk memelihara cahaya.

Sumber:

http://thoughtcollider.nl/project/latro

http://syndebio.com/latro-lamp-mike-thompson/

http://www.ayyati.com/2012/07/algae-powered-lamp/

http://www.gizmag.com/algae-power-light/15361/