587. Cara Belanda dalam Mengelola Air untuk Hidup, Bekerja dan Berinvestasi

Penulis : Rain Januardo Sibarani
Tema : Water
=========================================================================================================================================================

Bumi yang merupakan tempat tinggal manusia dan berbagai makhluk hidup lainnya memiliki permukaan yang ditutupi oleh air hampir sebesar 71%. Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di Bumi, tetapi tidak di planet lain. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) air tersedia di Bumi. Sebagian besar air terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), selain itu air juga dapat hadir dalam bentuk awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai & muara) menuju laut. Air berkualitas bersih penting bagi kehidupan manusia.

Tiap negara memiliki caranya masing-masing dalam mengelola air. Salah satu negara yang memiliki manajemen air yang sangat baik di dunia adalah Belanda. Kondisi geografis Belanda yang mana sekitar 26% wilayah daratan dengan 21% populasinya berada dan tinggal di bawah permukaan laut serta sekitar 50% wilayah daratan berada hanya lebih tinggi 1 meter dari permukaan laut justru memacu Belanda untuk terus serius dan fokus dalam mengelola air di wilayahnya. Hal tersebut dikarenakan air merupakan sektor utama bagi Belanda yang harus dikelola dengan baik dengan tujuan melindungi wilayah daratan dari bencana alam, seperti banjir dan badai laut, menjaga sistem penyimpanan air dan mengembangkan teknologi daur ulang air untuk ketersediaan air bersih.
Ada tiga (3) solusi teknologi inovatif yang dapat dilakukan oleh Belanda terkait pengelolaan air, yaitu teknologi delta, teknologi lautan dan teknologi air. Teknologi delta ditemukan berawal dari suatu peristiwa memilukan bagi masyarakat internasional, khususnya masyarakat Belanda. Pada tanggal 1 Februari 1953 pernah terjadi banjir besar yang disebabkan oleh badai hebat yang mengirimkan gelombang laut setinggi 30 meter dari Laut Utara ke arah pantai provinsi Zeeland (provinsi di ujung selatan Belanda) yang menghancurkan tanggul-tanggul hingga menerjang kota. Musibah tersebut mengakibatkan tewasnya 1.835 orang dan memaksa 110.000 warga mengungsi. Setelah bencana banjir besar tahun 1953 itu, Belanda berjuang keras memenangi pertarungan melawan alam dengan membuat proyek Delta Plan sebagai solusi perlindungan atau pengurangan risiko dari banjir di wilayah Belanda selatan dan provinsi Zeeland. Proyek tersebut mulai dibuat pada tahun 1958 dan selesai pada tahun 1997 dengan menghasilkan terbangunnya 13 bendungan raksasa, salah satunya adalah bendungan Maeslantkering yang dibangun di muara Nieuwe Waterweg. Bendungan tersebut merupakan bendungan terakhir yang selesai dibangun pada tahun 1997. Jika terjadi badai dari Laut Utara mencapai ketinggian di atas tiga meter, maka secara otomatis komputer akan menutup gerbang bendungan Maeslantkering. Selain berfungsi sebagai fasilitas keamanan, bendungan-bendungan tersebut juga berfungsi sebagai obyek wisata dan pendidikan. Tetapi lebih dari itu semua, konstruksi ini adalah bukti keseriusan suatu negara dalam memberi rasa aman kepada warganya.

Selain pada teknologi delta, Belanda juga berfokus pada pengembangan teknologi maritim. Sebagai pusat maritim di Eropa, Belanda memiliki empat prioritas tema inovasi terkait tantangan ekonomi dan sosial, yaitu Winning at Sea, Clean Ships, Smart Ships dan Smart Ports. Winning at Sea berfokus pada solusi-solusi teknologis untuk menggali energi dari laut dan bahan baku pertambangan lepas pantai. Belanda memiliki reputasi yang baik dalam permesinan hidrolik, perkapalan dan aktivitas lepas pantai, seperti pengeboran minyak, gas dan energi berkelanjutan dari laut. Salah satu perusahaan minyak ternama dunia yang berasal dari Belanda adalah Royal Dutch Shell plc. Clean Ships merupakan fokus Belanda dalam hal efisiensi bahan bakar, mereduksi emisi, efisiensi material dan reduksi kebisingan di atas maupun di bawah air. Sedangkan Smart Ships berarti adanya penghematan pada biaya perawatan dan operasi. Hal yang tidak kalah penting dalam pengembangan teknologi maritim adalah Smart Ports yang berfokus pada kontrolisasi pendistribusian logistik secara efisien, tepat waktu dan aman. Hal tersebut merupakan poin penting dan menarik bagi para pelaku usaha bisnis atau investor di Belanda.

Teknologi delta dan teknologi maritim pun ditunjang oleh teknologi air. Teknologi air bertujuan untuk menyediakan air air berkualitas sangat baik yang dapat dikonsumsi oleh manusia, pemurnian air dan pengelolaan air buangan. Terdapat empat hal yang menjadi sasaran dalam pengembangan teknologi air oleh Belanda, yaitu:
• Water for All yang berfokus pada produksi air minum dan air industri, serta pemurnian air buangan.
• More Crop per Drop yang berfokus pada ketersediaan air bersih berkualitas sangat baik untuk produksi makanan.
• Water and Energy dengan fokus pada pembuatan proses untuk industri penghasil energi yang lebih berkelanjutan.
• Ada pula Water & IT yang berfokus pada perluasan efisiensi teknologi air melalui pengecekan kualitas air menggunakan sensor dan monitor otomatis serta kontrolisasi optimal pada siklus air.

Demikian tiga teknologi inovatif yang dimiliki Belanda terkait pengelolaan air. Penerapan teknologi-teknologi inovatif tersebut dapat menjadi contoh yang baik bagi dunia, khususnya bagi Indonesia sebagai negara maritim yang kaya akan sumber daya alam berupa air.

* Daftar Pustaka
1. Air, http://id.wikipedia.org/wiki/Air
2. Netherlands, http://en.wikipedia.org/wiki/Netherlands
3. Belanda pun Membendung Laut,

http://nasional.kompas.com/read/2008/11/29/10323720/belanda.pun.membendung.laut

4. Water Top Sector, http://www.government.nl/issues/water-management/water-top-sector