591. Love Is in The Air

Penulis : Rifda Marwa Ufaira
Tema : Air
=========================================================================================================================================================

Warna oranye, keju, stroopwafel dan sepeda.
Beberapa kata tersebut akan mengingatkan kita dengan negri Belanda. Negara dengan jumlah penduduk sekian juta ini berbeda dari negara-negara lainnya tidak hanya Karena sebagian daratannya berada dibawah permukaan laut, tapi juga bagaimana Belanda mengelola tata ruang negaranya yang terbatas. Hal ini juga termasuk dalam perencanaan kota-kota di Belanda yang memilih fokus pada sepeda dalam membangun jalanan dan infrastruktur transporatasinya karena terbukti lebih praktis dibandingkan menggunakan mobil.

Masyarakat Belanda yang berorientasi pada efisiensi tentu setuju bahwa penggunaan sepeda sebagai moda transportasi utama sehari-hari adalah pilihan terbaik. Selain hemat secara biaya, waktu tempuh juga lebih singkat jika bepergian dengan sepeda. Tua-muda, semuanya memakai sepeda kemana pun mereka bepergian. Bahkan masyarakat Belanda juga terkenal dengan gaya berpakaian yang tetap modis walau sedang menggunakan sepeda, baik itu berpakaian untuk pergi ke kantor, sekolah, ke pesta atau bahkan ke tempat hiburan.

Sepeda, memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari orang Belanda, namun infrastruktur sepeda yang baik seperti saat ini tidak terjadi secara langsung sejak mula berdirinya Belanda. Setelah perang dunia II usai, Belanda merombak penataan kota mereka secara besar-besaran. Infrastruktur dibangun, namun infrastruktur untuk pengguna sepeda belum masuk dalam perencanaan kota di Belanda. Walaupun pengguna sepeda memiliki jumlah hingga lebih dari tiga kali lipat pengguna mobil, namun pemerintah lebih tertarik untuk mebangun lebih banyak lagi jalan untuk mobil karena pertumbuhan pengguna mobil yang sangat cepat. Seperti kebanyakan orientasi tata kota pada periode pasca perang dunia II, kota-kota dirancang dengan orientasi penggunaan mobil.

Namun seiring berjalannya waktu, kepincangan kota yang berorientasi pada penggunaan mobil , apalagi di Negara Belanda yang memiliki keterbatas ruang, sampai pada titik dimana pertumbuhan kendaraan roda empat tidak lagi dapat ditampung. Angka kecelakaan pun mencapai tingkat yang memprihatinkan hingga memicu protes kepada pemegang kuasa untuk merombak kebijakan mengenai penataan kota agar lebih aman. Gerakan protes ini dipertajam dengan angka kematian anak-anak di jalan yang tinggi seta harga minyak dunia yang terus menanjak. Mempertimbangkan keadaan di negaranya, pemerintah Belanda akhirnya mengambil tindakan untuk merombak sistem lalu lintas agar lebih aman tidak hanya untuk anak-anak namun juga pejalan kaki secara umum. Selain itu, pemerintah Belanda mendorong penggunaan sepeda sebagai alternatif dari penggunaan mobil agar penggunaan bahan bakar minyak dapat ditekan.

Dengan didorongnya penggunaan sepeda untuk kepentingan mobilisasi penduduk Belanda. Perencanaan tata kota-kota di Belanda pun berganti haluan. Jalan-jalan di kota kini diprioritaskan untuk penggunaan sepeda. Perencanaan kota dengan orientasi sepeda mengakibatkan penggunaan sepeda sebagai moda transportasi utama kembali popular setelah sempat menurun pada tahun 1970an. Pada awal revolusi ini, tujuan utama pemerintahan mereka adalah untuk mendorong penggunaan sepeda dan menyediakan jalur yang aman. Dari visi ini, Kementrian Transportasi, Pekerjaan Umum dan Manjemen Air Pemerintah Belanda menjabarkannya menjadi langkah kerja strategis untuk waktu kerja sejak 1995 – 2010.

Pemilihan prioritas pada sepeda dalam perancangan tata ruang dalam kota masih merupakan hal yang aneh bagi kebanyakan negara di dunia. Seperti yang dikutip dari bbc.com dimana sempat ada perdebatan antara penggunaan mobil dan sepeda karena saling bertabrakan di jalan di sosial media beberapa waktu lalu. Penataan kota yang memihak pada pengguna sepeda, walaupun kesuksesan sudah dibuktikan Belanda dan diikuti oleh Denmark, masih merupakan wacana di banyak kota di dunia.

Infrastruktur sepeda tidak hanya merupakan bagian dari perancangan kota, namun juga menjadi focus pembangunan di kota-kota di Belanda. Pemerintah Belanda bahkan memiliki rancangan masterplan jangka panjang untuk sepeda sejak tahun 1990 yang disebut Bicycle Master Plan Policy Document. Dengan penggunaan sepeda untuk lebih dari 2 juta kilometer oleh penduduknya, pemerintah Belanda terus menerus memperbaiki dan meningkatkan kualitas infrastrukutu sepeda.

Pada Amsterdam’s Long Term Bicycle Plan 2012-2016, hingga tahun 2016 pemerintah kota Amsterdam merencanakan pengadaan tempat parkir untuk sepeda-sepeda yang lebih nyaman di pusat kota dan pusat kegiatan kota lainnya seperti stasiun, taman dan lain sebagainya. Regulasi mengenai parkir, dan pengembangan jalur sepeda yang lebih baik, aman, dan nyaman juga merupakan bagian dari masterplan tersebut. Ditambah lagi pada tahun 2020, akan ada tambahan rute 15 km untuk jalur sepeda yang menjanjikan efisiensi sehingga perjalanan dapat ditempuh dengan waktu yang lebih singkat lagi, juga penyediaan tambahan tempat parkir indoor juga telah diharapkan sudah tercapai. Belanda tidak dapat diragukan lagi dalam hal inovasi dan perhatian pada perancanaan kota yang berorientasi pada sepeda.

Priority done right!
Perubahan penggunaan jalan dan perencanaannya yang berpihak pada sepeda tidak hanya menguntungkan secara ekologis. Polusi udara memang berkurang dan badan lebih, namun ada efek yang lebih besar itu. Saat menggunakan sepeda, kita memperlambat arus laju berkendara kita yang artinya kita memberikan waktu untuk memproses keadaan lbh baik, dibandingkan bila kita menggunakan mobil. Jarak pandang kita diperpendek sehingga kita lebih menikmati hal-hal yang sesuai dengan skala manusia. Kita jadi lebih memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Interaksi sosial terbangun dengan cara ini. Dengan terkurung dalam mobil saat terjebak macet setelah seharian lelah bekerja, orang akan cenderung lebih mudah terbawa emosi bila terjadi masalah di jalan. Namun dengan menggunakan sepeda, walaupun kita tidak mengenal satu sama lain, orang akan cenderung lebih ramah saat “bertabrakan” di jalan.

Saat masyarakat berdemo terhadap penggunaan mobil yang berujung pada meningkatnya kecelakaan di jalan, sebenarnya mereka menginginkan jalanan yang lebih ramah terhadap penduduk kota, dan sepeda menjadi solusi karena memang sudah digunakan, dekat dan ramah terhadap masyarakat belanda sejak zaman dahulu, dan mengembalikan fungsi itu menjadikan Belanda menjadi negara yang berpegang teguh pada akar budayanya. Sepeda tidak hanya membuat udara di Belanda menjadi lebih segar, namun juga menjadi lebih hangat. Memecah dinginnya jalanan dengan saling tersenyum atau sekedar membunyikan bel untuk menyapa orang lain di jalanan.

Sepeda tidak hanya membawa kesegaran untuk udara perkotaan tapi juga keramahan dan kecintaan terhadap kehidpan masyarakat perkotaan di Belanda.

Referensi

http://www.archdaily.com/429945/toward-cycle-cities-how-architects-must-make-bikes-their-guiding-inspiration/

http://hwc2015.nvo.or.id/050-sepak-bola-belanda-terhadap-ruang/

http://www.dutchcycling.nl/?page=About+us

http://www.yesmagazine.org/planet/how-to-make-biking-mainstream-lessons-from-the-dutch

http://bikelanes.ca/practicality-is-key-to-dutch-bicycle-culture/

http://www.bbc.com/news/magazine-22614569

http://www.bbc.com/news/magazine-23587916

http://shrinkthatfootprint.com/queens-of-the-bicycle

http://www.cyclinginholland.com/index.php/dutch-cycling-culture.html

http://www.bbc.com/news/magazine-22614569